Jumat, 21 Desember 2012

Kontradiksi-Kontradiksi Dalam Sistem Kapitalisme Dunia dan Kebutuhan Mendesak Adanya Revolusi Sosialis

Perjungan Sejarah Manusia dari zaman dahulu kala adalah perjuangan Manusia yang menggerakan sejarah dengan perjuangan kelas sebagai lokomotifnya.Marx dan Engels sebagai bapak dari Sosialisme Ilmiah telah memberikan ilmu yang berguna bagi kita yaitu analisis materialis atas sejarah atau materialisme historis dan materialisme dialektis.kedua ilmu ini adalah senjata yang dapat digunakan untuk menganalisis kondisi masyarakat beserta sejarah perkembangan masyarakat yang diselimuti oleh tahayul-tahayulnya ideologinya Borjuis.engels menamakan kedua senjata ini dengan penamaan Marxisme.Beratus-ratus tahun manusia berjuang untuk membangun masyarakat adil dan makmur yaitu Sosialisme namun perjuangan tersebut banyak yang gagal hingga pada abad ke 20 Sosialisme mulai berjaya.dari sungai Rheine di jerman hingga sungai yangtze Korea bendera Sosialisme berkibar.namun lama-kelamaan kejayaan Sosialisme itu luntur dan puncaknya pada tahun1991 ketika Uni Soviet terpecah,Tiongkok dan negara yang menganut asas Sosialisme itu berubah haluan ideologisnya menjadi Kapitalisme.mengapa ini bisa terjadi?apakah penyebab-penyebabnya?dan bagaimana pemecahanya?berikut ini saya sadurkan tulisan pendek dari Kawan Jose Maria Sison seorang intelektual sosialis dan mantan pemimpin Partai Komunis Filipina.selamat membaca






Jose Maria Sison
TIDAK ada negara sosialis yang pernah dikalahkan oleh perang agresi imperialis. Apa yang telah terjadi adalah bencana fatal dalam sosialisme, berupa bangkitnya kekuatan revisionisme modern. Dan hal ini merupakan konsekuensi akibat berbagai kemerosotan di dalam negeri-negeri sosialis. Yang meliputi likuidasi pendirian klas proletar, penghapusan perjuangan klas, penyelesaian yang salah mengenai berbagai kontradiksi, tentangan yang gigih dari tradisi dan kebiasaan lama, oposisi terselubung serta sabotase dari kaum reaksioner kepala batu, rasa puas diri kader-kader dan anggota partai, lahirnya kekuatan dan ulah borjuasi kolot gaya baru, pembagian salah sumber-sumber penghasilan serta korupsi kaum birokrat yang tidak terkontrol.
Untuk membangun sosialisme, mutlak diperlukan pembentukan diktatur proletariat, sosialisasi alat-alat produksi, meningkatkan taraf dan kondisi materiil, teknik dan kebudayaan masyarakat, serta mempunyai kekuatan pertahanan yang cukup, serta bersandar terutama pada mobilisasi massa dan persenjataan.
Tapi itu semua pun belum cukup. Masih diperlukan revolusi kebudayaan proletar jangka panjang dan berkelanjutan, termasuk revolusi ilmu dan teknologi tingkat tinggi. Sebab, jika tidak, kemenangan dalam meruntuhkan sistem lama akan percuma. Pembebasan dan pengembangan tenaga produkrif serta peningkatan kondisi materiil dan kebudayaan saja tidak cukup untuk mempertahankan eksistensi semangat revolusioner proletar sekaligus mencegah munculnya revisionisme modern.
Revolusi kebudayaan proletar harus meningkatkan perjuangan klas sebagai kunci, meletakkan kebijakan revolusioner dalam memimpin produksi, memperkuat hubungan produksi sosialis, dan revolusionerisasi lembaga-lembaga kekuasaan. Sasaran pokok revolusi kebudayaan di bawah diktatur proletariat adalah melawan revisionisme, mencegah restorasi kapitalisme serta mengonsolidasi sosialisme.
Massa luas profesional, teknisi, dan mahasiswa yang dilahirkan oleh sistem sosialisme dapat dengan mudah menerima pandangan borjuasi kecil. Hal ini bisa terjadi jika mereka tidak diperteguh pendirian klas proletariatnya, pandangan dan metode lewat pengalaman dalam revolusi kebudayaan proletar, dan internasionalisme proletar.
Tanpa revolusi kebudayaan proletariat, mereka merupakan awal basis sosial bagi lahirnya revisionisme modern. Jika kelak mereka memasuki birokrasi negara, partai, perusahaan-perusahaan dan institusi ekonomi dan lembaga-lembaga kebudayaan, mereka bisa saja melancarkan pelecehan terhadap proletariat, memuja-muja negeri-negeri imperialis, serta menyatukan diri dengan kaum yang bimbang dan moralnya merosot dari barisan birokrat-birokrat tua.
Likudiasi pendirian klas proletariat dan penolakan terhadap perjuangan klas adalah prolog bagi membanjirnya ide-ide dan kebijakan yang melanggar prinsip-prinsip sosialisme, merestorasi kapitalisme dengan selubung mengembangkan tenaga produktif (hakikatnya ekonomis dan produksisme), memasukkan pengaruh imperialisme serta menghidupkan kembali monster-monster masyarakat lama. Lebih dari itu, mereka membuat perbandingan yang a-historis berkaitan dengan taraf perkembangan antara negeri sosialis dan negeri imperialis, dengan tujuan untuk menolak serta melecehkan sosialisme.
Kita harus memegang teguh prinsip bahwa pembangunan sosialisme melalui periode historis yang panjang. Untuk itu, diperlukan diktatur proletariat dalam waktu panjang untuk membangun sosialisme, sampai sosialisme menang dan mengungguli imperialisme dalam skala dunia. Dengan demikian akan memberi jalan bagi komunisme. Sosialisme bisa terbentuk di satu atau beberapa negeri. Tapi kominisme hanya dimungkinkan setelah kekalahan imperialisme secara global.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar