Minggu, 21 Oktober 2012

ETIKA





Masyarakat di dalam sistem kapitalisme, menganut suatu etika atau aturan yang hingga hari ini dipercaya sebagai sebuah kebenaran yang tidak mungkin salah. Tetapi orang mengatakan, sejarah adalah milik  pemenang , dan kebenaran pun adalah milik orang yang menang dan berhasil mendirikan kekuasaan didalam pemerintahan. Mari kita lihat, apakah hal ini pun berlaku pada eaturan masyarakat kapitalis.

Dalam pelajaran di sekolah kita diajarkan merupakan keharusan untuk menghormati hak milik orang lain, karena itu adalah tidak etis untuk mengambil hasil pekerjaan orang lain, terlebih lagi merampasnya. Berdasarkan hal itu, maka cita-cita sosialisme untuk mengambil alih modal, menjadikannya milik bersama , dan menguasainya bersama-sama dalam rangka membentuk fondasi menuju masyarakat Komunis yang adil dan sama rata itu adalah tidak etis dan tidak baik.

Tetapi pada kenyataannya, siapakah yang justru melakukan kerja secara nyata dan kerja abstrak? Siapakah yang - sejak awal berdirinya kapitalisme - menghasilkan barang dan jasa untuk dijual yang kemudian menghasilkan nilai lebih (profit) dan setelah itu menjelma kembali menjadi modal? Jelas yang melakukannya adalah kaum buruh!, bukanya para kaum Borjuis kapitalis yang pemalas dan rakus itu , yang justru selama ini mengambil alih hasil dari pekerjaan itu.

Adalah tidak etis bagi kaum buruh untuk melakukan demonstrasi atau mogok kerja. Pemilik modal dan penguasa selalu menganggapnya sebagai tidak bermoral dan berbagai macam cap lainnya. Mereka akan menawarkan dialog  dengan berbagai macam embel-embel konsensi yang katanya Demokratis dan kutukan-kutukan terhadap tindakan demonstrasi dan mogok kerja.

Namun, bukanlah sebuah masalah bagi pemilik modal dan penguasa, jika perusahaan melakukan PHK massal, jika pada akhirnya demonstrasi dan mogok kerja yang katanya para Borjuis itu hina dihadapi dengan kekerasan mengatas namakan untuk ketertiban umum oleh aparat keamanan, jika pihak perusahaan secara rahasia menyewa preman untuk mengurusi aktivis-aktivis buruh, jika sering terjadi pelecehan seksual terhadap kaum buruh perempuan, dan berbagai macam jika lainnya. Demonstrasi dan mogok kerja tidak akan diizinkan, karena produksi akan terhenti, yang berarti keuntungan akan berkurang. Tidak ada apapun yang dipedulikan oleh pemilik modal kecuali keuntungan.

Pemerintah yang berkuasa sering melakukan penggusuran, entah itu rumah-rumah kumuh, becak, atau perkampungan nelayan. Ada berbagai macam "alasan etis" yang melatar belakanginya. Terutama terhadap rumah-rumah kumuh yang berdiri di atas tanah milik orang lain, sering dianggap sudah sewajarnya dilakukan penggusuran. Terlihatlah di sini, perumahan yang layak memang hanya diperuntukkan bagi yang mempunyai uang. Bagi yang tidak mempunyai uang, bahkan perumahan yang sangat tidak layak pun tidak disediakan. Rumah sebagai tempat hidup bagi orang-orang melarat dan seringkali adalah merupakan harta satu-satunya, tidaklah lebih penting dibandingkan properti, apartmen, dan mall bagi orang-orang yang mempunyai uang. Yang tidak kalah gilanya, adalah "tindakan etis" penguasa untuk menggusuri rumah-rumah kumuh dengan alasan keindahan kota. Entah logika macam apa yang mendasari pemikiran
sang penguasa bahwa dengan menggusuri rumah orang-orang melarat, maka kemelaratan itu akan hilang.

Merupakan suatu etika yang haram untuk dipertanyakan bahwa atas nama nasionalisme, maka sama sekali tidak benar dan tidak etis untuk melakukan pemberontakan untuk memisahkan diri dari negara. Pemerintah mempunyai hak penuh untuk menumpas setiap gerakan separatis, masyarakat pun seringkali sejalan dengan pemerintah bersama-sama mengutuk gerakan separatis itu. Tetapi apakah orang-orang akan memberontak mengorbankan jiwa jika memang tidak ada alasannya? Apakah kita pernah berusaha untuk mengerti dan mengetahui alasan-alasan di balik pemberontakan mereka? Sebagai sebuah bangsa yang pernah merasakan penjajahan selama berabad-abad, seharusnya kita dapat dengan mudah mengatakan, bahwa eksploitasi hasil alam oleh dan hanya untuk kepentingan pusat pemerintahan (bahkan tanpa mempertimbangkan efek dan timbal balik bagi masyarakat setempat) adalah sebuah 'penjajahan'!

Hal lain lagi, adalah etika yang tidak pernah dipertanyakan bahwa demokrasi merupakan kebenaran tertinggi dari sebuah sistem. Karena itu adalah tidaklah etis untuk menjatuhkan pemimpin tidak dengan jalan demokrasi. Revolusi adalah menyalahi aturan karena tidak demokratis dan cenderung anarkis.apakah para kaum Borjuis dan Kapitalis itu tidak tahu kalau Corak produksi busuk mereka itu terlahir dari sebuah Revolusi melawan tatanan feodalisme?contoh saja revolusi Borjuis Perancis tahun 1789

Maka kita pertanyakan, apakah demokrasi memberikan jalan bagi kelas proletar untuk berkuasa? Apakah kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkuasa selama ini pernah lebih memberatkan diri kepada kelas buruh, tani, dan kaum miskin yang pada kenyataannya merupakan mayoritas dibandingkan dengan para pemilik modal yang selalu mendapatkan keuntungan dari pemerintahan yang berkuasa? Pendidikan kelas buruh, tani, dan kaum miskin yang tidak memadai tidak mungkin membuat mereka mampu menggunakan sistem perwakilan. Dan kenyataannya pendidikan tinggi hanya disediakan bagi orang yang mempunyai uang. Maka sampai kapanpun, di bawah sistem demokrasi yang "etis", kelas buruh, tani, dan kaum miskin hanya dapat menjadi penonton dan korban dari perebutan-perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki uang.

Yang telah disebutkan di atas hanyalah beberapa dari hal-hal yang tampak di permukaan. Ada berbagai hal lain, termasuk yang tidak pernah kita sadari, yang menunjukkan sebenarnya sistem nilai dan etika masyarakat kapitalis adalah sama sekali berdasarkan logika para pemilik modal yang berkuasa. Etika mereka hanya menguntungkan mereka dan membenarkan penghisapan dan eksploitasi terhadap kaum proletar, membenarkan penggusuran, penindasan, atas nama keuntungan, kekuasaan, dan kenyamanan hidup pemilik modal.

Marilah sekarang kita sebagai bagian dari elemen-elemen  sadar akan keadaan realitas sekarang ini yang segala sesuatunya dikuasai oleh Hegemoni Kaum Kapitalis yang menyesatkan dan mengaburkan kesadaran kita dan rakyat lainya itu harus bisa MELAWAN dan MENYADARKAN  seluruh Massa rakyat Pekerja baik itu Buruh,Petani,Nelayan,Pedagang kaki lima hingga para golongan elit-elit menengah yang pikiran dan hatinya terbuka terhadap perubahan secara menyeluruh menuju ke era yang lebih manusiawi dan lebih baik yaitu Era masyarakat Sosialis dan insyallah menuju ke masyarakat Komunis dimana seluruh masyarakat akan merasakan keadilan,Kemakmuran  dan hidup dalam suatu keluarga besar umat Manusia yang tidak memandang lagi adanya perbedaan kelas-kelas.Inilah DUNIA BARU YANG DITUNGGU-TUNGGU OLEH SELURUH UMAT MANUSIA,DUNIA TANPA EKSPLOITASI ANTARA SESAMA MANUSIA !DUNIA DIMANA ANAK CUCU KITA BISA HIDUP DENGAN BAHAGIA!

S

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar