Sabtu, 24 Desember 2011

LENIN:NEGARA DAN REVOLUSI

Negara dan revolusi adalah karya marxis yang dikerjakan oleh Kawan Lenin beberapa bulan sebelum revolusi oktober tahun 1917 dimulai.dalam karya ini lenin menjelaskan komponen-komponen negara berdasarkan perspektif marxis dan perlunya rakyat pekerja mengambil alih kekuasaan negara untuk mendirikan kediktatoran proletariat sebagai masa peralihan dari  membangun masyarakat sosialis menuju masyarakat tanpa kelas komunis.selamat membaca 

 

 

 MASYARAKAT BERKELAS DAN NEGARA

1. NEGARA SEBAGAI PRODUK DARI TAK TERDAMAIKANNYA ANTAGONISME-ANTAGONISME KELAS
Apa yang kini terjadi dengan ajaran Marx, dalam sejarah sudah berkali-kali terjadi pada ajaran-ajaran para pemikir dan pemimpin revolusioner kelas-kelas tertindas dalam perjuangan mereka untuk pembebasan. Sepanjang masa kehidupan para revolusioner besar, kelas-kelas penindas terus menerus mengejar-ngejar mereka, menyambut ajaran mereka dengan kedengkian yang paling ganas, kebencian yang paling jahat, kampanye-kampanye kebohongan dan fitnah yang paling tak terkendalikan. Setelah mereka meninggal dunia, dilakukan usaha-usaha untuk mengubah mereka menjadi patung-patung orang suci yang tidak membahayakan, boleh dikatakan menyatakan mereka sebagai orang-orang suci, memberikan keharuman tertentu kepada nama-nama mereka untuk jadi "penghibur" bagi kelas-kelas tertindas dan untuk menipu mereka, bersamaan dengan itu mengebiri esensi ajaran revolusioner, menumpulkan ujung revolusionernya yang tajam, dan memvulgarkannya. Sekarang ini, dalam "mempercanggih" Marxisme bertemulah borjuasi dan kaum oportunis di dalam gerakan buruh. Mereka mengabaikan, menghapuskan, mendistorsikan segi revolusioner ajaran itu, jiwa revolusionernya. Mereka menonjolkan dan mengagung-agungkan apa yang dapat yang dapat diterima atau yang kelihatannya dapat diterima oleh borjuasi. Semua orang sosial-chauvisnis (3) sekarang ini adalah "Marxis" (jangan tertawa!). Dan semakin sering sarjana-sarjana borjuis Jerman, yang kemarin masih merupakan ahli-ahli dalam hal membasmi Marxisme, kini berbicara tentang Marx yang "berkebangsaan Jerman", yang, menurut pernyataan mereka, telah mendidik serikat buruh-serikat buruh yang terorganisasi dengan begitu baik untuk melakukan perang perampokan!
Dalam keadaan demikian itu, dengan tersebar luasnya secara luarbiasa distorsi atas Marxisme, maka tugas kita pertama-tama ialah memulihkan ajaran Marx yang sejati tentang negara. Untuk itu perlu mengemukakan serangkaian kutipan yang panjang dari karya-karya Marx dan Engels sendiri. Tentu saja, kutipan yang panjang akan membikin sulit uraian dan sama sekali tidak akan membantu menjadikannya bacaan populer, tetapi kita tidaklah mungkin menghindarinya. Semua, atau setidak-tidaknya semua bagian yang paling menentukan dari karya-karya Marx dan Engels mengenai masalah negara, tidak boleh tidak harus dikutip selengkap mungkin, supaya pembaca dapat membentuk pendapat yang bebas mengenai keseluruhan pandangan-pandangan pendiri-pendiri sosialisme ilmiah dan mengenai perkembangan pandangan-pandangan itu dan juga supaya pendistorsiannya oleh "Kautskyisme"(4) yang sekarang berdominasi dapat dibuktikan secara terdokumentasi dan diperlihatkan dengan jelas.
Marilah kita mulai dengan karya F. Engels yang paling populer, Asal Usul Keluarga, Milik Perseorangan Dan Negara, yang pada tahun 1894 sudah terbit edisinya yang keenam di Stuttgart. Kita terpaksa menerjemahkan kutipan-kutipan itu dari aslinya yang berbahasa Jerman, karena terjemahannya dalam bahasa Rusia, biarpun sangat banyak, sebagian besar tidak lengkap atau dikerjakan dengan sangat tidak memuaskan.
Menyimpulkan analisa sejarah yang dibuatnya, Engels mengatakan:
"Negara, dengan demikian, adalah sama sekali bukan merupakan kekuatan yang dipaksakan dari luar kepada masyarakat, sebagai suatu sesempit 'realitas ide moral', 'bayangan dan realitas akal' sebagaimana ditegaskan oleh Hegel. Malahan, negara adalah produk masyarakat pada tingkat perkembangan tertentu; negara adalah pengakuan bahwa masyarakat ini terlibat dalam kontrakdisi yang tak terpecahkan dengan dirinya sendiri, bahwa ia telah terpecah menjadi segi-segi yang berlawanan yang tak terdamaikan dan ia tidak berdaya melepaskan diri dari keadaan demikian itu. Dan supaya segi-segi yang berlawanan ini, kelas-kelas yang kepentingan-kepentingan ekonominya berlawanan, tidak membinasakan satu sama lain dan tidak membinasakan masyarakat dalam perjuangan yang sia-sia, maka untuk itu diperlukan kekuatan yang nampaknya berdiri di atas masyarakat, kekuatan yang seharusnya meredakan bentrokan itu, mempertahankannya di dalam 'batas-batas tata tertib'; dan kekuatan ini, yang lahir dari masyarakat, tetapi menempatkan diri di atas masyarakat tersebut dan yang semakin mengasingkan diri darinya, adalah negara (hlm. 177-178, edisi bahasa Jerman yang ke-enam).(5)
Ini menyatakan dengan jelas sekali ide dasar Marxisme mengenai masalah peran historis negara dan arti negara. Negara adalah produk dan manifestasi dari tak terdamaikannya antagonisme-antagonisme kelas. Negara timbul ketika, di mana dan untuk perpanjangan terjadinya antagonisme-antagonisme kelas secara obyektif tidak dapat didamaikan. Dan sebaliknya, eksistensi negara membuktikan bahwa antagonisme-antagonisme kelas adalah tak terdamaikan.
Justru mengenai hal yang paling penting dan fundamental inilah pendistorsian atas Marxisme, yang berlangsung menurut dua garis pokok, dimulai.
Di satu pihak, para ideolog borjuis dan teristimewa borjuis kecil, yang di bawah tekanan kenyataan-kenyataan sejarah yang tidak dapat dibantah terpaksa mengakui bahwa negara hanya ada di mana terdapat antagonisme-antagonisme kelas dan perjuangan kelas, "mengoreksi" Marx sedemikian rupa, sehingga negara nampak sebagai organ untuk mendamaikan kelas-kelas. Menurut Marx, negara tidak dapat timbul atau bertahan jika pendamaian kelas adalah mungkin. Menurut kaum borjuis kecil dan para profesor filistin(6)--sering sekali mereka dengan maksud-maksud baik merujuk kepada Marx-- bahwa negara justru mendamaikan kelas-kelas. Menurut Marx, negara adalah organ kekuasaan kelas, organ penindasan dari satu kelas terhadap kelas yang lain, ia adalah ciptaan "tata tertib" yang melegalkan dan mengekalkan penindasan ini dengan memoderasikan bentrokan antar kelas. Menurut pendapat politikus-politikus borjuis kecil, tata tertib adalah justru pendamaian kelas-kelas dan bukan penindasan atas kelas yang satu oleh kelas yang lain; meredakan konflik berarti mendamaikan dan bukan merampas sarana dan metode-metode perjuangan tertentu dari kelas tertindas untuk menggulingkan kaum penindas.
Sebagai contoh, dalam revolusi 1917, ketika masalah arti dan peranan negara justru menjadi masalah yang luar biasa pentingnya, menjadi masalah praktis, masalah yang menuntut aksi segera dalam skala massal, seluruh kaum Sosialis-Revolusioner (7) dan kaum Menshevik (8) semuanya segera dan sepenuhnya terjerumus ke dalam teori borjuis kecil "negara" "mendamaikan" kelas-kelas. Tak terhitung banyaknya resolusi-resolusi dan artikel-artikel dari politikus-politikus kedua partai itu seluruhnya diresapi oleh teori "perdamaian" borjuis kecil dan filistin ini. Bahwa negara adalah organ kekuasaan kelas tertentu yang tidak dapat didamaikan dengan antipodenya (kelas yang berlawanan dengannya), ini tak akan dapat dimengerti oleh kaum demokrat borjuis kecil. Sikap terhadap negara adalah salah satu manifestasi yang paling menyolok bahwa kaum sosialis-Revolusioner dan Menshevik kita sama adalah sekali bukan kaum sosialis (apa yang selalu dibuktikan oleh kita kaum Bolshevik), melainkan kaum demokrat borjuis kecil yang menggunakan fraseologi yang mendekati Sosialis.
Di pihak lain, pendistorsian Marxisme "ala Kautsky" jauh lebih halus. "Secara teoritis" tidak disangkal bahwa negara adalah organ; kekuasaan kelas atau bahwa kontradiksi-kontradiksi kelas yang tak terdamaikan. Tetapi apa yang diabaikan atau dikaburkan adalah yang berikut ini; jika negara adalah produk dari tak terdamaikannya kontradiksi-kontradiksi kelas, jika negara adalah kekuatan yang berdiri di atas masyarakat dan yang "semakin mengasingkan dirinya dari masyarakat itu", maka jelaslah bahwa pembebasan kelas tertindas bukan hanya tidak mungkin tanpa revolusi dengan kekerasan, tetapi juga tidak mungkin tanpa penghancuran aparat kekuasaan negara yang diciptakan oleh kelas yang berkuasa dan yang merupakan penjelmaan dari "pengasingan" itu. Sebagaimana yang akan kita lihat nanti, secara amat definitif Marx telah menarik kesimpulan yang secara teori jelas dengan sendirinya ini, sebagai hasil analisa sejarah yang kongkrit mengenai tugas-tugas revolusi. Dan justru --sebagaimana yang akan kita secara terperinci kemudian--kesimpulan inilah yang oleh Kautsky telah ... "dilupakan" dan didistorsikan.

2. SATUAN KHUSUS ORANG-ORANG BERSENJATA, PENJARA, DSB.
Engels melanjutkan:
"Berbeda dengan organisasi gens (suku atau klan)(9) lama, negara, pertama-tama, membagi warga negara menurut pembagian wilayah...."(10)
Pembagian demikian itu nampaknya "wajar" bagi kita, tetapi ia telah meminta perjuangan berjangka panjang melawan organisasi lama berdasarkan suku atau gens.
"Ciri kedua yang membedakan ialah ditegakkannya kekuasaan kemasyarakatan yang sudah tidak sesuai secara langsung dengan penduduk yang mengorganisasi diri sebagai kekuatan bersenjata. Kekuatan kemasyarakatan yang khusus ini perlu, karena organisasi bersenjata yang bertindak sendiri dari penduduk menjadi tidak mungkin sejak terpecahnya masyarakat menjadi kelas-kelas... Kekuasaan kemasyarakatan ini ada di dalam setiap negara. Ia tidak hanya terdiri dari orang-orang bersenjata saja, tetapi juga terdiri dari embel-embel materiil, yaitu penjara dan segala macam lembaga pemaksa, yang tidak dikenal oleh susunan masyarakat gens (klan) ...."(11)
Engels lebih lanjut membentangkan konsepsi "kekuatan" yang disebut negara --kekuatan yang muncul dari masyarakat, tetapi yang menempatkan diri di atas dan semakin mengasingkan diri sendiri" darinya. Terdiri dari apakah kekuatan ini sesungguhnya? Ia terdiri dari badan khusus orang-orang bersenjata yang memiliki penjara, dll., di bawah komandonya.
Kita berhak berbicara tentang badan-badan khusus orang-orang bersenjata, karena kekuasaan kemasyarakatan yang merupakan sifat khas bagi setiap negara "tidak sesuai secara langsung" dengan penduduk yang bersenjata, dengan "organisasi bersenjata yang bertindak sendiri" dari penduduk.
Seperti semua pemikir revolusioner yang besar, Engels berusaha mengarahkan perhatian kaum buruh yang berkesadaran kelas terhadap fakta sesunguhnya dari apa yang oleh filistinisme yang berdominisasi dianggap tidak patut diperhatikan, paling biasa, disucikan oleh prasangka-prasangka yang tidak hanya berurat berakar, tetapi bisa dobilang sudah membatu. Tentara tetap dan polisi pada hakekatnya adalah alat-alat utama kekuatan kekuasaan negara. Tetapi bagaimana bisa tentara tetap dan polisi menjadi lain daripada itu?.
Dari sudut pandang mayoritas luas orang-orang Eropa akhir abad ke-19, yang kepada mereka Engels menujukan kata-katanya, yang mereka ini tidak pernah mengalami dan juga tidak pernah mengikuti dari dekat satupun revolusi besar, tentara tetap dan polisi tidak bisa lain daripada itu. Mereka sama sekali tidak mengerti apa "organisasi bersenjata yang bertindak sendiri dari penduduk" itu. Atas pertanyaan mengapa timbul kebutuhan akan satuan-satuan khusus orang-orang bersenjata, yang ditempatkan di atas masyarakat dan mengasingkan diri dari masyarakat (polisi dan tentara tetap), kaum filistin Eropa Barat dan Rusia cenderung untuk menjawab dengan beberapa kalimat yang dipinjam dari Spencer atau Mikhailovsky, yaitu menunjuk pada semakin rumitnya kehidupan sosial, diferensiasi fungsi-fungsi, dst.
Referensi yang demikian itu tampaknya "ilmiah", dan secara efektif meninabobokkan orang kebanyakan dengan mengaburkan kenyataan yang pokok dan dasar, yaitu terpecahnya masyarakat menjadi kelas-kelas bermusuhan yang tak terdamaikan.
Andaikata tidak untuk perpecahan ini, "organisasi bersenjata yang bertindak sendiri dari penduduk" itu akan berbeda dengan organisasi primitif kawanan monyet yang menggunakan tongkat, atau organisasi manusia primitif, atau organisasi orang-orang yang tergabung dalam masyarakat klan, dalam hal kerumitannya, ketinggian tekniknya, dst, tetapi organisasi demikian itu masih mungkin.
Organisasi demikian itu menjadi tidak mungkin karena masyarakat beradab telah terpecah menjadi kelas-kelas yang bermusuhan, dan lagi bermusuhan yang tak terdamaikan, sehingga jika kelas-kelas ini diperlengkapi dengan senjata yang "bertindak sendiri" akan timbul perjuangan bersenjata di antara mereka. Terbentuklah negara, terciptalah kekuatan khusus, satuan-satuan khusus orang-orang bersenjata, dan setiap revolusi, dengan menghancurkan aparat negara, menunjukan dengan jelas kepada kita bagaimana kelas yang berkuasa berdaya-upaya memulihkan satuan-satuan khusus orang-orang bersenjata yang mengabdi untuknya, dan bagaimana kelas yang tertindas berdaya-upaya menciptakan organisasi baru macam itu yang mampu mengabdi bukan kepada kaum penghisap, melainkan kepada kaum terhisap.
Dalam argumen tersebut di atas, Engels secara teoritis, dengan gamblang pula, mengemukakan justru soal yang juga dihadapkan kepada kita dalam praktek oleh setiap revolusi besar, dengan nyata dan lagi dalam skala aksi massal, yaitu soal saling hubungan antara satuan-satuan "khusus" orang-orang bersenjata dengan "organisasi bersenjata yang bertindak sendiri dari penduduk". Akan kita lihat bagaimana soal ini secara konkrit dilukiskan oleh pengalaman revolusi Eropa dan Rusia.
Tetapi marilah kita kembali kepada uraian Engels.
Ia menunjukkan bahwa, sebagai contoh, kadang-kadang di beberapa tempat di Amerika Utara, kekuasaan kemasyarakatan ini lemah (yang dimaksud ialah kekecualian yang jarang bagi masyarakat kapitalis, dan tempat-tempat di Amerika Utara dalam periode pra-imperalismenya, dimana berdominasi kolonis bebas). Tetapi berbicara secara umum, kekuasaan kemasyarakatan itu menjadi lebih kuat:
"... Kekuasaan kemasyarakatan menjadi lebih kuat sejalan dengan meruncingnya kontradiksi-kontradiksi kelas di dalam negara, dan sejalan bertambah besarnya negara-negara yang berbatasan dan makin banyaknya penduduk negara-negara itu. Kita cukup melihat sajalah Eropa dewasa ini dimana perjuangan kelas dan persaingan dalam penaklukan telah merangsang kekuasaan kemasyarakatan sampai sedemikian tingginya sehingga mengancam akan menelan seluruh masyarakat dan bahkan negara."
Itu ditulis tidak lebih kemudian daripada awal tahun-tahun 90-an abad yang lalu. Kata pendahuluan Engels yang terakhir bertanggal 16 Juni 1891, pada waktu itu peralihan ke imperialisme --baik dalam arti dominasi penuh; trust-trust, dalam arti kemahakuasaan bank-bank besar, maupun dalam arti politik kolonial secara besar-besaran, dst-- baru saja mulai di Perancis, dan bahkan lebih lemah lagi di Amerika Utara dan di Jerman. Sejak itu "persaingan dalam penaklukan" telah maju dengan langkah-langkah raksasa --lebih-lebih karena pada awal dasawarsa kedua abad ke-20 seluruh bola bumi telah terbagi habis di antara "penakluk-penakluk yang bersaingan" yaitu diantara negara-negara perampok besar. Sejak itu persenjataan angkatan darat dan laut telah berkembang dengan luar biasa, dan perang perampokan tahun-tahun 1914-1917 untuk pendominasian dunia oleh Inggris atau Jerman, untuk membagi barang rampasan, telah mendekatkan "penelanan" semua kekuatan masyarakat oleh kekuasaan negara yang berwatak penyamun kepada malapetaka total.
Sudah pada tahun 1891 Engels dapat menunjukkan "persaingan dalam penaklukan" sebagai salah satu ciri menonjol yang terpenting dari politik luar negeri negara-negara besar, tetapi dalam tahun-tahun 1914-1917, ketika justru persaingan ini, yang meruncing berlipat ganda, melahirkan perang imperialis (12) , bajingan-bajingan Sosial-chauvisnis menyelubungi pembelaan atas kepentingan-kepentingan perampok dari borjuasi "mereka sendiri" dengan "kata-kata membela tanah air", "membela republik dan revolusi", dst.!

3. NEGARA SEBAGAI ALAT UNTUK MENGHISAP KELAS TERTINDAS
Untuk mempertahankan kekuasaan kemasyarakatan yang khusus, yang berdiri di atas masyarakat, dibutuhkan pajak dan pinjaman negara.
"Dengan memiliki kekuasaan kemasyarakatan dan hak untuk memungut pajak," tulis Engels, "maka para pejabat, sebagai organ masyarakat, kini berdiri di atas masyarakat. Rasa hormat yang bebas dan sukarela kepada organ-organ masyarakat gens (klan) sudah tidak cukup bagi mereka, bahkan andaikatapun mereka dapat memperolehnya".... Dibuatlah undang-undang khusus tentang kesucian dan kekebalan para pejabat. "Seorang agen polisi yang paling hina" mempunyai "otoritas" yang lebih besar daripada wakil-wakil klan, tetapi bahkan kepala kekuasaan militer negara beradab bisa beriri hati kepada seorang pengetua klan yang menikmati "rasa hormat yang diperoleh tanpa paksaan" dari masyarakat.
Di sini dikemukakan masalah kedudukan berhak istimewa para pejabat sebagai organ kekuasaan negara. Pokok persoalannya apa yang menempatkan mereka di atas masyarakat?. Akan kita lihat bagaimana soal teori ini dipecahkan dalam praktek oleh Komune Paris pada tahun 1871 dan bagaimana ia dikaburkan secara reaksioner oleh Kautsky pada tahun 1912.
"Karena negara timbul dari kebutuhan untuk mengendalikan pertentangan-pertentangan kelas; karena bersamaan itu ia timbul di tengah-tengah bentrokan kelas-kelas, maka sebagai hukumnya, ia, negara, lazimnya adalah negara dari kelas yang paling perkasa, yang berdominasi di bidang ekonomi, yang dengan bantuan negara menjadi kelas yang juga berdominasi di bidang politik dan dengan demikian memperoleh sarana baru untuk menindas dan menghisap kelas-kelas tertindas" Seperti halnya negara-negara kuno dan feodal yang merupakan organ untuk menghisap kaum budak dan hamba, demikianlah juga "negara perwakilan modern adalah alat dari kapital untuk menghisap kerja upahan. Tetapi sebagai kekecualian terdapat periode-periode di mana kelas-kelas yang berperang mencapai keseimbangan kekuatan sedemikian rupa sehingga kekuasaan negara untuk sementara waktu memperoleh kebebasan tertentu dalam hubungan dengan kedua kelas itu, seolah-olah sebagai penengah di antara mereka".... Demikianlah monarki-monarki absolut abad ke-17 dan ke-18, Bonapartisme dari Kekaisaran Pertama dan Kedua di Perancis, serta rezim Bismarck di Jerman.
Begitulah, bisa kita tambahkan, pemerintah Kerensky di Rusia republik setelah beralih ke pengejaran terhadap proletariat revolusioner dalam saat di mana Soviet-soviet (13)sudah tidak berdaya akibat pimpinan kaum demokrat borjuis kecil, sedang borjuis belum cukup kuat untuk begitu saja membubarkan soviet-soviet itu.
"Dalam republik demokratis," Engels meneruskan "kekayaan menggunakan kekuasaannya secara tidak langsung, tetapi justru dengan lebih pasti", yaitu pertama, dengan jalan "menyuap langsung para pejabat" (Amerika); kedua, dengan jalan "persekutuan antara pemerintah dengan bursa" (Perancis dan Amerika).
Dewasa ini imperialisme dan dominasi bank-bank telah "mengembangkan" kedua cara mempertahankan dan mewujudkan kemahakuasaan kekayaan ini di dalam republik-republik demokratis manapun menjadi seni yang luar biasa. Apabila, misalnya sejak bulan-bulan pertama dari republik demokratis Rusia, dapat dikatakan dalam bulan madu dari perkawinan kaum "sosialis", kaum Sosialis Revolusioner dan kaum Menshevik, dengan borjuasi dalam ikatan perkawinannya, pemerintahan koalisi. Tuan Palchinsky mensabot setiap tindakan untuk mengekang kaum kapitalis dan praktek-praktek perampokan mereka, penggarongan mereka terhadap kas negara melalui kontrak-kontrak militer; dan apabila kemudian Tuan Palchinsky yang mengundurkan diri dari kabinet (tentu saja diganti dengan orang lain yang tepat serupa dengan Palchinsky) "dihadiahi" jabatan dengan gaji 120.000 rubel setahun oleh kaum kapitalis --apa ini? Penyuapan langsung atau tidak langsung? Persekutuan antara pemerintah dengan sindikat-sindikat atau "hanya" hubungan persahabatan? Peranan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sebangsa Cernov, Tsereteli, Avksentyev dan Skobelev? Apakah mereka itu sekutu "langsung" atau hanya sekutu tidak langsung dari jutawan-jutawan penjarah harta karun?
Alasan mengapa kemahakuasaan "kekayaan" lebih terjamin dalam republik demokratis, adalah karena ia tidak tergantung pada selubung politik yang buruk dari kapitalisme. Republik demokratis adalah selubung politik terbaik yang mungkin bagi kapitalisme dan karena itu kapital, setelah menguasai selubung yang terbaik itu (melalui orang-orang semacam Palchinsky, Cernov, Tsereteli dan rekan-rekannya) menegakkan kekuasaannya yang dengan begitu aman, begitu pasti, sehingga tidak ada perubahan apapun baik perubahan orang, lembaga maupun partai dalam republik borjuis-demokratis yang dapat menggoyang kekuasaan itu.
Harus ditegaskan pula bahwa Engels dengan setegas-tegasnya menamakan hak pilih umum sebagai alat kekuasaan borjuasi. Hak pilih umum, kata Engels, jelas dengan mempertimbangkan pengalaman panjang dari Sosial-demokrasi Jerman, adalah "ukuran bagi kematangan kelas buruh. Hak pilih umum tidak dapat dan tidak akan dapat memberikan lebih banyak dalam negara masa kini"
Kaum demokrat borjuis kecil, seperti kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Menshevik kita, dan juga saudara kembar mereka, yaitu seluruh kaum sosial-chauvisnis dan kaum oportunis Eropa Barat, mengharapkan justru "lebih banyak" dari hak pilih umum. Mereka sendiri menganut pikiran yang salah dan menyampaikan pada rakyat, seolah-olah hak pilih umum "dalam negara modern" benar-benar dapat menyatakan kehendak mayoritas kaum pekerja dan menjamin pelaksanaannya.
Di sini kita hanya dapat menyebutkan pikiran salah itu, hanya dapat menunjukan bahwa pernyataan Engels yang sepenuhnya jelas, tepat dan kongkrit itu terus menerus didistorsikan dalam propaganda dan agitasi partai-partai Sosialis yang "resmi" (yaitu yang oportunis). Penjelasan yang terperinci mengenai seluruh kepalsuan pikiran ini, akan diberikan dalam uraian kita lebih lanjut tentang pandangan-pandangan Marx dan Engels mengenai negara "modern".
Engels memberikan kesimpulan umum tentang pandangan-pandangannya dalam karyanya yang paling populer dengan kata-kata berikut:
"Jadi, negara tidaklah selamanya ada. Pernah ada masyarakat yang bisa tanpa negara, yang tidak mempunyai konsepsi tentang negara dan kekuasaan negara. Pada tingkat tertentu perkembangan ekonomi, yang tidak bisa tidak berhubungan dengan pecahnya masyarakat menjadi kelas-kelas, negara menjadi keharusan karena perpecahan ini. Kita sekarang dengan langkah-langkah cepat mendekati tingkat perkembangan produksi di mana adanya kelas-kelas ini bukan hanya tidak lagi menjadi keharusan, tetapi menjadi rintangan langsung bagi produksi. Kelas-kelas tak terelakan akan runtuh, sebagaimana halnya dulu kelas-kelas itu tak terelakan timbul. Dengan runtuhnya kelas-kelas, maka secara tak terelakan akan runtuh pula negara. Masyarakat yang akan mengorganisasi produksi secara baru atas dasar perserikatan bebas dan sama derajat kaum produsen akan mengirim seluruh mesin negara ke tempat yang semestinya: yaitu ke dalam museum barang antik, di sebelah alat pemintal dan kapak perunggu".
Kutipan ini jarang dijumpai dalam literatur propaganda dan agitasi dari Sosial-Demokrasi masa kini. Tetapi kalaupun kita menjumpai kutipan tersebut, kebanyakan dikutip dengan cara seperti menyembah di hadapan patung orang suci, yaitu untuk menyatakan rasa hormat resmi kepada Engels, tanpa usaha sedikitpun untuk merenungkan berapa luas dan dalamnya jangkauan revolusi sebagai prasyarat untuk "mengirim seluruh mesin negara ke museum barang antik " itu. Dalam banyak hal bahkan tidak nampak adanya pemahaman tentang apa yang oleh Engels dinamakan mesin negara.

4. "MELENYAPNYA" NEGARA DAN REVOLUSI DENGAN KEKERASAN
Kata-kata Engels mengenai "melenyapnya" negara terkenal begitu luas, begitu sering dikutip dan begitu jelas menunjukkan inti pokok pemalsuan yang lazim terhadap Marxisme sehingga menjadi mirip dengan oportunisme, sehingga kita harus membahasnya secara terperinci. Kita akan mengutip seluruh argumen dari mana diambil kata-kata tadi:
"Proletariat merebut kekuasaan negara dan pertama-tama mengubah alat-alat produksi menjadi milik negara. Tetapi dengan ini ia mengakhiri dirinya sendiri sebagai proletariat, dengan ini ia mengakhiri segala perbedaan kelas dan antagonisme kelas, dan bersama itu juga mengakhiri negara sebagai negara. Masyarakat yang ada sejak dulu hingga sekarang yang bergerak dalam antagonisme-antagonisme kelas memerlukan negara yaitu organisasi kelas penghisap untuk mempertahankan syarat-syarat luar produksinya; artinya terutama untuk mengekang dengan kekerasan kelas-kelas terhisap dalam syarat-syarat penindasan (perbudakan, perhambaan dan kerja upahan) yang ditentukan oleh cara produksi yang sedang berlaku. Negara adalah wakil resmi seluruh masyarakat, pemusatan masyarakat dalam lembaga yang nampak, tetapi negara yang berupa demikian itu hanya selama ia merupakan negara dari kelas yang sendirian pada zamannya mewakili seluruh masyarakat; pada zaman kuno ia adalah negara dari warga negara pemilik budak; pada Zaman Tengah, negara dari bangsawan feodal; pada zaman kita, negara dari borjuasi. Ketika negara pada akhirnya sungguh-sungguh menjadi wakil seluruh masyarakat, ia menjadikan dirinya tidak diperlukan lagi. Segera setelah tidak ada lagi satu kelaspun dalam masyarakat yang perlu ditindas, segera setelah lenyapnya, bersama dengan dominasi kelas, bersama dengan perjuangan untuk eksistensi perorangan yang dilahirkan oleh anarki produksi masa kini, bentrokan-bentrokan dan ekses-ekses yang timbul dari perjuangan ini, maka sejak saat itu tidak ada lagi yang harus ditindas, juga tidak ada keperluan akan kekuatan khusus untuk menindas, akan negara. Tindakan pertama, di mana negara benar-benar tampil sebagai wakil seluruh masyarakat --pemilikan alat-alat produksi atas nama masyarakat-- sekaligus merupakan tindakannya yang bebas yang terakhir sebagai negara. Campur tangan kekuasaan negara dalam hubungan-hubungan sosial menjadi tidak diperlukan lagi dari satu bidang ke bidang yang lain dan ia berhenti dengan sendirinya. Pemerintahan atas orang-orang diganti dengan pengurusan barang-barang dan pimpinan atas proses produksi. Negara tidaklah dihapuskan, ia melenyap. Atas dasar ini harus dinilai kata-kata 'negara rakyat bebas' --kata-kata yang untuk sementara mempunyai hak hidup dalam hal agitasi, tetapi yang pada akhirnya tidak beralasan secara ilmiah--serta harus dinilai juga tuntutan dari apa yang dinamakan kaum anarkis supaya negara dihapuskan seketika" (Herr Eugen Duhring's Revolution in Science [Anti-Dühring ], hlm. 301-03, edisi Jerman ketiga) .(14)
Dengan tidak takut salah dapat dikatakan bahwa dari argumen Engels yang luar biasa kayanya akan ide itu, yang telah menjadi milik sesungguhnya dari ide sosialis di kalangan partai-partai sosialis modern hanyalah bahwa menurut Marx, negara "melenyap" --berbeda dengan ajaran anarkis tentang "penghapusan" negara. Memangkas Marxisme sedemikian itu berarti memerosotkannya menjadi oportunisme, sebab "interpretasi" semacam itu hanyalah meninggalkan gambaran yang kabur tentang perubahan yang lambat, bahkan berangsur-angsur, tentang ketiadaaan revolusi. "Melenyapnya" negara dalam pengertian yang sudah umum berlaku, tersebar luas, massal, kalau dapat dikatakan demikian, tidak diragukan lagi berarti mengaburkan, jika tidak mengingkari, revolusi.
Bagaimanapun, "interpretasi" semacam itu adalah distorsi yang paling kasar terhadap Marxisme, yang hanya menguntungkan borjuasi; dalam secara teori, dasarnya ialah mengabaikan keadaan-keadaan serta pertimbangan-pertimbangan terpenting yang diindikasikan, katakanlah, dalam argumen Engels yang "bersifat kesimpulan" yang telah kita kutip selengkapnya di atas.
Pertama sekali, pada awal dari argumennya Engels mengatakan bahwa dengan merebut kekuasaan negara, proletariat "dengan demikian menghapuskan negara sebagai negara". Apa artinya ini, ini "tidak biasa" direnungkan. Biasanya ini diabaikan sama sekali atau dianggap sebagai sesuatu "kelemahan Hegelian" dari Engels. Sebenarnya kata-kata tersebut dengan singkat menyatakan pengalaman salah satu revolusi proletar yang terbesar, yaitu pengalaman komune Paris tahun 1871 yang akan kita bicarakan secara lebih terperinci pada tempat yang semestinya. Sebenarnya di sini Engels berbicara tentang "penghapusan" negara borjuis oleh revolusi proletar, sedang kata-kata tentang melenyapnya negara merujuk pada sisa-sisa ketatanegaraan proletar sesudah revolusi sosialis. Menurut Engels negara borjuasi tidak "melenyap" tetapi "dihapuskan" oleh proletariat dalam revolusi. Apa yang melenyap sesudah revolusi adalah negara atau setengah negara proletar itu.
Kedua, negara adalah "kekuatan penindas khusus". Di sini Engels memberikan definisi yang cemerlang dan amat mendalam dengan sejelas-jelasnya. Dan dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa "kekuatan penindas khusus" dari borjuasi terhadap proletariat, dari segelintir kaum kaya terhadap jutaan kaum pekerja, harus digantikan dengan "kekuatan penindas khusus" dari proletariat (diktator proletariat) terhadap borjuasi. Inilah "penghapusan negara sebagai negara". Inilah "tindakan" pemilikan alat-alat produksi atas nama masyarakat. Dan dengan sendirinya jelas bahwa penggantian satu "kekuatan khusus" (borjuasi) dengan "kekuatan khusus" yang lain (proletar) yang demikian itu tidaklah mungkn terjadi dalam bentuk "melenyap".
Ketiga, ketika berbicara tentang "melenyap" dan bahkan lebih hidup dan lebih ekspresif tentang "mati perlahan dengan sendirinya", Engels, dengan jelas sekali dan pasti memaksudkan zaman sesudah "dimilikinya alat-alat produksi oleh negara atas nama seluruh masyarakat", itu berarti, sesudah revolusi sosialis. Kita semua tahu bahwa bentuk politik dari "negara" pada masa itu adalah demokrasi yang paling sempurna. Tetapi hal ini tidak pernah masuk ke dalam kepala seorangpun yang mana saja dari kaum oportunis yang dengan tak tahu malu mendistorsikan Marxisme bahwa Engels oleh karena itu di sini berbicara tentang demokrasi "berhenti dengan sendirinya", atau "melenyap". Ini tampaknya sungguh janggal sekali pada pandangan pertama; tetapi ini adalah "tidak komprehensif" hanyalah bagi mereka yang tidak berpikir tentang kenyataan bahwa demokrasi juga adalah suatu negara dan bahwa, oleh karena itu, demokrasi akan hilang juga apabila negara hilang. Revolusi sendiri dapat "menghapuskan" negara borjuis. Negara pada umumnya yaitu, demokrasi yang paling sempurna, hanya dapat "melenyap".
Keempat, sesudah merumuskan dalilnya yang tersohor bahwa "negara melenyap", Engels sekaligus memberikan penjelasan yang kongkrit bahwa dalil ini diarahkan kepada kaum oportunis maupun kaum anarkis. Disamping itu Engels mengedepankan kesimpulan yang ditarik dari dalil bahwa "negara melenyap" yang diarahkan kepada kaum oportunis.
Orang dapat bertaruh bahwa dari setiap 10.000 orang yang telah membaca atau mendengar tentang "hal melenyapnya" negara, 9.990 orang tidak tahu sama sekali, atau tidak ingat lagi, bahwa Engels mengarahkan kesimpulan-kesimpulan dari dalil ini tidak semata terhadap kaum anarkis. Dan dari sepuluh yang tersisa itu, barangkali sembilan yang tidak tahu tentang arti "negara Rakyat bebas" atau tentang mengapa suatu serangan terhadap semboyan ini berarti serangan terhadap kaum oportunis. Beginilah sejarah ditulis! Beginilah ajaran revolusioner yang besar secara tak terasa dipalsukan dan disesuaikan dengan filistinisme yang tengah berkuasa! Kesimpulan yang diarahkan kepada kaum anarkis telah diulangi ribuan kali, divulgarkan, dipakukan ke dalam kepala orang banyak dalam bentuk yang sedangkal-dangkalnya dan telah menjelma menjadi prasangka; sementara itu kesimpulan yang diarahkan terhadap kaum oportunis telah dikaburkan dan "dilupakan"!
"Negara Rakyat bebas" adalah suatu program tuntutan dan suatu semboyan yang umum dan tersebar luas dari kaum Sosial-Demokrat Jerman dalam tahun-tahun 70-an. Semboyan ini tidak mempunyai isi politik sama sekali kecuali ia melukiskan pengertian tentang demokrasi dengan gaya filistin yang muluk-muluk. Sejauh ia digunakan untuk dengan jalan yang sah menurut undang-undang menunjukan suatu republik demokratis, Engels bersedia untuk "membenarkan" penggunaannya itu "untuk suatu waktu saja" dipandang dari sudut agitasional. Tetapi itu adalah semboyan oportunis, karena ia tidak saja menyatakan pembagusan demokrasi borjuis, tetapi juga kegagalan untuk memahami kritisisme sosialis terhadap negara pada umumnya. Kita menyetujui suatu republik demokratis sebagai bentuk terbaik dari negara untuk proletariat dibawah kapitalisme; tetapi kita tidak mempunyai hak untuk melupakan bahwa perbudakan upah menjadi nasib rakyat bahkan di dalam republik borjuis yang paling demokratis sekalipun. Lebih jauh, setiap negara adalah suatu "kekuatan penindas khusus" terhadap kelas tertindas. Maka dari itu, setiap negara tidak "bebas" dan bukan "negara Rakyat" . Marx dan Engels menjelaskan hal ini berkali-kali kepada kawan-kawan separtainya selama tahun-tahun 70-an.
Kelima, dalam karya Engels yang itu juga, yang darinya setiap orang teringat akan pengutaraan tentang hal melenyapnya negara, memuat juga suatu pengutaraan tentang arti penting dari revolusi dengan kekerasan. Analisa kesejarahan dari Engels mengenai peranannya menjadi suatu sanjung puji yang sebenarnya terhadap revolusi dengan kekerasan. "Tiada seorangpun teringat" akan hal itu; di dalam partai-partai sosialis modern bukan menjadi kebiasaan untuk berbicara atau bahkan berpikir tentang arti penting ide ini, dan ia tidak memainkan peranan apa-apa dalam propaganda serta agitasi sehari-hari mereka di kalangan massa. Namun, ia tak terpisahkan berpadu dengan "hal melenyapnya" negara menjadi satu keseluruhan yang selaras.
Inilah argumentasi Engels:
"...Bagaimanapun, kekuatan itu, kekerasan, juga memainkan peranan lain dalam sejarah" (kecuali peranan sebagai pelaku kejahatan) "dalam sejarah, yaitu peranan revolusioner, bahwa kekerasan, menurut kata-kata Marx, adalah bidan bagi setiap masyarakat lama yang telah mengandung masyarakat baru, bahwa kekerasan adalah alat yang digunakan oleh gerakan sosial untuk merintis jalan bagi dirinya dan menghancurkan bentuk-bentuk politik yang telah mati dan membatu --tentang ini tak sepatah kata pun dari Tuan Duhring. Hanya dengan menarik nafas berat panjang dan mengeluh ia mengakui kemungkinan bahwa untuk menggulingkan sistim ekonomi penghisapan barangkali akan diperlukan kekerasan-- sayang sekali, lihatlah! Karena setiap penggunaan kekerasan katanya akan mendemoralisi orang yang menggunakannya. Dan ini diucapkan sekalipun ada kebangkitan moral dan spiritual yang tinggi yang terjadi sebagai akibat dari setiap revolusi yang menang! Dan ini diucapkan di Jerman, di mana suatu bentrokan dengan kekerasan --yang memang dapat dipaksakan kepada Rakyat-- setidak-tidaknya akan mempunyai keunggulan yang menghilangkan jiwa membudak yang telah merasuk ke dalam kesadaran nasional akibat perasaan terhina karena dari Perang Tiga Puluh Tahun (15). Dan cara berpikir pendeta, tak hidup-suram-loyo-dan tak berdaya, ini berani mendesakkan diri kepada partai yang paling revolusioner yang telah dikenal sejarah!" (Hal. 193, edisi bahasa Jerman ketiga, Jilid II akhir Bab IV) .(16)
Bagaimanakah sanjung puji terhadap revolusi dengan kekerasan ini, yang oleh Engels dengan tegar disodorkan agar diperhatikan oleh kaum Sosialis-Demokrat Jerman antara tahun 1878 dan 1894, yaitu benar-benar sampai saat meninggalnya, dapat dikombinasikan dengan teori tentang "hal melenyapnya" negara untuk membentuk doktrin yang tunggal?
Biasanya dua hal itu dikombinasikan dengan perantara eklektisisme (17) , dengan memilih pandangan yang ini atau yang itu secara tak berprinsip atau dengan semaunya saja secara sofistik (18) (atau untuk menyenangkan hati kaum penguasa), dan dalam 99 kejadian dari 100, jika bahkan tidak lebih sering, maka pikiran tentang "hal melenyapnya" itulah yang ditampilkan di tempat yang terdepat. Dialektika digantikan oleh eklektisisme --inilah gejala yang paling biasa, paling tersebar luas yang terjumpai dalam kepustakaan Sosial-Demokratik resmi dalam hubungannya dengan Marxisme. Barang-tiruan semacam itu, tentu saja bukanlah barang baru, ia ditemui juga dalam sejarah filsafat Yunani klasik. Dalam memalsukan Marxisme secara oportunis, barang-tiruan eklektisisme untuk mengganti dialektika adalah cara yang termudah untuk mengelabui massa; ia memberikan pemuasan yang dalam angan-angan saja; tampaknya ia memperhitungan segala segi dari proses, segala kecenderungan perkembangan, segala pengaruh yang berbentrokan, dan seterusnya, sedang dalam kenyataannya ia tidak menjadikan pengertian yang integral dan revolusioner sedikitpun mengenai proses perkembangan sosial.
Kami telah mengatakan di atas, dan akan menunjukkan lebih sempurna lagi kemudian, bahwa ajaran Marx dan Engels mengenai hal tidak terelakkannya revolusi dengan kekerasan itu menunjuk pada negara borjuis. Yang tersebut belakangan itu tidak dapat dihapuskan oleh negara proletar (diktatur proletariat) melalui proses "melenyap" tetapi sebagai aturan umum hanya melalui revolusi dengan kekerasan. Sanjung puji yang dinyanyikan oleh Engels untuk menghormatinya dan yang sepenuhnya sejalan dengan pernyataan Marx berkali-kali (ingat akan bagian-bagian penutup dari Kemiskinan Filsafat (19)dan Manifesto Komunis (20), dengan maklumatnya yang bangga dan terus terang mengenai hal tidak terelakkannya revolusi dengan kekerasan; ingat akan apa yang ditulis oleh Marx hampir 30 tahun kemudian, dalam mengkritik Program Gotha (21) tahun 1875, ketika ia tanpa ampun menyiksa watak oportunis dari program itu) ---sanjung sama sekali bukanlah suatu "dorongan" belaka, suatu deklamasi atau peletusan polemik semata-mata. Keperluan akan menjiwai massa secara sistematik dengan pandangan ini dan justru pandangan tentang revolusi kekerasan ini adalah landasan dari seluruh ajaran Marx dan Engels. Penghianatan terhadap ajaran mereka oleh aliran-aliran Sosial-Chauvinis dan Kautskyis yang sekarang berkuasa dinyatakan dengan kejelasan yang menyolok oleh hal bahwa kedua lairan tersebut semuanya mengabaikan propaganda dan agitasi semacam itu.
Penggantian negara borjuis oleh negara proletar tidaklah mungikin tanpa revolusi dengan kekerasan. Penghapusan negara proletar, yaitu, negara pada umumnya tidak lah mungkin kecuali melalui proses "melenyap".
Elaborasi yang lebih detil dan kongkrit dari pandangan-pandangan ini telah dilakukan oleh Marx dan Engels ketika mereka mempelajari masing-masing situasi revolusioner terpisah, ketika mereka menganalisa pelajaran dari setiap pengalaman masing-masing revolusi. Sekarang kami akan membahas bagian ini, yang tak usah diragukan lagi adalah yang paling penting, dari ajaran mereka


1 Negara dan Revolusi ditulis oleh Lenin ketika bekerja di bawah tanah dalam bulan Agustus dan September 1917. Lenin mengemukakan tentang perlunya masalah negara secara teoritis dielaborasi lebih luas lagi pada setengah tahun terakhir 1916. Bersamaan dengan itu, ia menulis sebuah catatan berjudul "Internasionale Pemuda" (lihat Collected Works, edisi bahasa Rusia ke-empat, volume XXIII, halaman 153-56), di mana di dalamnya ia mengkritik pendirian Bukharin yang anti-Marxis mengenai masalah tentang negara dan berjanji akan menulis suatu artikel yang lebih terperinci tentang sikap Marxisme terhadap negara. Dalam sepucuk surat kepada A. M. Kollontai tertanggal 17 Februari 1917, Lenin menerangkan kepadanya bahwa bahan mengenai masalah tentang sikap Marxisme terhadap negara sudah hampir selesai. Bahan ini dikerjakan dengan tulisan tangan yang kecil dan rapat sebuah buku tulis bersampul biru dengan judul Marxisme tentang Negara. Karangan tersebut memuat kumpulan kutipan-kutipan dari karya-karya K. Marx dan F Engels dan cuplikan-cuplikan dari buku-buku karangan Kautsky, Pannekoek, dan Bernstein, disertai catatan kritik, kesimpulan dan penggeneralisasian oleh Lenin.  Menurut rencana yang ditentukan, Negara dan Revolusi terdiri dari tujuh bab, tetapi bab ke-tujuh, yang terakhir, "Pengalaman Revolusi Rusia tahun 1905 dan 1917" belum ditulis juga, apa yang kami punyai adalah suatu rencan terperinci untuk bab tersebut. (lihat Lenin Miscellany -Bunga Rampai Lenin--, edisi Rusia volume XXI, 1933, halaman 25-26). Mengenai penerbitan buku tersebut Lenin menjelaskan dalam sepucuk surat kepada penerbit yang bersangkutan "terpaksa menggunakan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan bab ke-7 itu atau jika nantinya akan terlalu menjadi besar, 6 bab yang pertama itu supaya diterbitkan tersendiri sebagai Bagian Pertama."
Pada halaman pertama naskah aslinya penulis buku tersebut muncul dengan nama samaran F. F. Ivanovsky. Lenin hendak menggunakan nama tersebut dalam buku yang akan diterbitkan itu, karena jika tidak begitu, Pemerintah Sementara pasti akan menyitanya. Buku tersebut belum juga diterbitkan sampai dengan tahun 1918, ketika sudah tidak ada perlunya lagi menggunakan nama samaran. Suatu edisi ke-dua yang memuat pasal baru, "Penyajian Masalah oleh Marx dalam Tahun 1852", ditambahkan Lenin pada Bab II, terbit dalam tahun 1919.
2 Kaum Fabian -- anggota-anggota Perkumpulan Fabian yang reformis dan oportunis, yang didirikan oleh sekelompok intelektual borjuis di Inggris pada tahun 1884. Nama perkumpulan ini diambil dari nama seorang jenderal Romawi, Fabius Cunctator (Sang "Penunda"), yang terkenal karena taktik menundanya dan menghindari pertempuran yang menentukan. Menurut ungkapan Lenin, Perkumpulan Fabian merupakan "pernyataan yang paling sempurna dari oportunisme dan politik buruh liberal", Kaum Fabian berusaha mengalihkan proletariat dari perjuangan kelas dan mengkhotbahkan kemungkinan peralihan secara damai, secara berangsur-angsur dari kapitalisme ke sosialisme melalui berbagai reformasi. Dalam masa perang dunia imperialis (1914-18) Kaum Fabian mengambil pendirian sosial-chauvisnisme. Untuk mengetahui watak kaum Fabian, lihat karya-karya Lenin: "Kata Pendahuluan Pada Edisi Rusia dari Surat-surat dari J. F. Becker, J. Dietzgen, F. Engels, K. Marx, Dan Lain-lain Kepada F. A. Sorge Dan Lain-lain" (V. I. Lenin, Marx-Engels-Marxism, Moskow, 1953, halaman 245-46), "Program Agraria Sosial-Demokrat Dalam Revolusi Rusia" (V. I. Lenin, Collected Works edisi Rusia ke-4, volume XV, halaman 154), "English Pacifism and English Dislike od Theory" (Pasifisme Inggris dan Ketidaksukaan Orang Inggris Kepada Teori) (ibid, volume XXI, halaman 234) dan lain-lainnya. 
3 Sosial-Chauvinis, pendukung Social-Chauvinism, yaitu aliran yang didukung oleh para pemimpin buruh demi "kepentingan nasional" dari "negeri mereka sendiri", yaitu pada kenyataannya dukungan bagi kepentingan kelas kapitalis negeri mereka untuk melawan persatuan Internasionale dari kelas buruh 
4 Kautskyisme -- Pemikiran-pemikiran oportunis dari Karl Kaustky dan para pengikutnya. Kautsky (1854-1938) menyandang reputasi sebagai kawan lama Engels, ia termasuk pendiri Internasionale II, dan pembela Marxisme di masa awal dalam menghadapi revisionisme Berstein. Akan tetapi, makin mendekatnya tugas-tugas praktek dari revolusi datang, makin bimbanglah Kautsky, dengan lihai ia menutupi penolakannya terhadap marxisme revolusioner dengan menggunakan tetek bengek sofis dan ungkapan-ungkapan 'marxis'. Ia menjadi duri dalam daging dalam Revolusi Oktober di Rusia 1917. 
5 Lihat F. Engels, The Origin of the Family, Private Property and the State ("Asal-Usul Keluarga, Milik Perseorangan, dan Negara") (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, Volume II, halaman 288-89. 
6 Filistin : Philistine, ungkapan yang awalnya dipergunakan oleh mahasiswa-mahasiswa Jerman untuk melukiskan penduduk di kota Universitas mereka. Berangsur-angsur ungkapan ini beralih artinya menjadi orang-orang yang tidak mempunyai perhatian terhadap keintelektualan sama sekali, borjuis kecil yang berpikiran sempit dan egois. Pada famplet ini yang dimaksudkan oleh Lenin adalah sifat berpikiran sempit, picik, dan egois itu. 
7 Sosialis-Revolusioner -merupakan gabungan dari berbagai kelompok Narodnik di Rusia. Kaum Sosialis-Revolusioner mengambil kaum tani sebagai basis mereka. Program mereka menuntut adanya "kekuasaan populer yang bebas, nasionalisasi tanah dan nasionalisasi terhadap semua industri besar'. Setelah Revolusi Februari 1917, bersama kaum Menshevik mereka menjadi kekuatan utama dalam Pemerintahan Sementara borjuis. Program agraria yang gagal mereka laksanakan (bahkan menteri-menteri mereka mengirimkan ekspedisi khusus untuk menghukum kaum petani yang merebut tanah dari para tuan tanah!) dalam kenyataan berikutnya diimplementasikan oleh kaum Bolshevik saat mereka merebut kekuasaan tahun 1917. saat pemberontakan Oktober itu, sayap kanan Sosialis-Revolusioner secara terbuka mengambil posisi kontrarevolusi. Setelah terpecah, sayap kiri Sosialis Revolusioner membentuk koalisi yang berumur pendek dengan pemerintahan Bolshevik. 
8 Menshevik -dari bahasa Rusia, artinya mayoritas: sayap reformis dari Sosial Demokrat Rusia yang memperoleh namanya dari perpecahan faksi dengan kaum Bolshevik dalam persoalan organisasional di kongres tahun 1903. Perbedaan politik yang fundamental antara kaum Menshevik dan kaum Bolshevik (artinya bahasanya adalah minoritas ), menjadi jelas dalam tahun 1904 dan terbukti di dalam Revolusi tahun 1905, akan tetapi mereka tetap menjadi tendensi oposisi dalam RSDLP (Russian Social Democratic Labour Party) sampai tahun 1912, saat partai terpisah berdiri. Kaum Menshevik menganut teori 'dua tahap' terhadap Revolusi Rusia, mengajukan argumen bahwa kaum proletar harus beraliansi dengan kaum liberal dan membatasi diri dengan mendirikan republik borjuis, menunda dulu tugas-tugas sosialis dilaksanakan di 'kemudian'. Tahun 1917, menteri-menteri Menshevik menyokong Pemerintah Sementara, mendukung kebijakan imperialisnya, dan memerangi revolusi proletar. Setelah Revolusi Oktober, kaum Menshevik terang-terangan menjadi partai kontra-revolusioner. 
9 Organisasi masyarakat gens atau suku -sistem komune primitif, atau formasi (susunan) sosio-ekonomi yang pertama dalam sejarah. Komune suku adalah persekutuan hidup (masyarakat) dari keluarga-keluarga sedarah yang dipertalikan dengan ikatan-ikatan ekonomi dan sosial. Sistem suku melalui periode-periode matriarkat dan patriarkat. Patriarkat memusat dengan masyarakat primitif menjadi masyarakat berkelas dan dengan timbulnya negara. Hubungan-hubungan produksi di bawah komune primitif berdasarkan hak milik kemasyarakatan atas alat-alat produksi dan pembagian secara sama-rata atas semua barang hasil. Ini pada pokoknya sesuai dengan tingkat tenaga-tenaga produktif yang rendah dan dengan watak tenaga-tenaga produktif pada masa itu.
Mengenai sistem komune primitif, lihat tulisan K. Marx Ikhtisar Tentang "Masyarakat Purba" dari Lewis Morgan, dan tulisan F. Engels, Asal Usul Keluarga, Milik Perseorangan, dan Negara (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1962, volume II, halaman 170-327)
10 Lihat F. Engels, "Asal-Usul Keluarga, Milik Perseorangan, dan Negara" (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, Volume II, halaman 289.
11 ibid, halaman 289-292 
12 Yang dimaksud Lenin adalah Perang Dunia Pertama, 1914-1918
13 Soviet -dari bahasa Rusia, artinya Dewan: pertama kali muncul dalam revolusi 1905 sebagai organ-organ perjuangan ataupun sebagai komite pemogokan. Setelah Tsar ditumbangkan pada bulan Februari 1917, Pemerintahan Sementara memegang kekuasaan formal. Tetapi kekuasaan yang sesungguhnya terletak di tangan Soviet-soviet Wakil Buruh dan Prajurit yang lahir kembali, yaitu badan yang berisi delegasi yang dipilih, diciptakan oleh inisiatif massa, yang anggotamya dapat diganti sewaktu-waktu oleh pemilihnys. Jadi, pada saat itu terdapat dua kekuasaan sebab kaum Menshevik dan Sosialis Revolusioner yang mulanya memegang kendali atas soviet-soviet gagal merebut kekuasaan negara ke tangan soviet-soviet, malah menggunakan otoritasnya untuk mendukung dan memperkuat Pemerintahan Sementara. Pada bulan Juli 1917 hal ini memungkinkan terjadinya 'konsolidasi' pemerintah formal, sementara para pemimpin kaum Menshevik dan Sosialis Revolusioner membubarkan Soviet-soviet. Inilah periode yang dirujuk oleh Lenin dalam famplet ini. Segera setelah itu, situasi ini: kaum Bolshevik meraih suara mayoritas dalam posisi-posisi kunci di Soviet-soviet, lalu memimpin pemberontakan Oktober meraih kemenangan.
Tambahan mengenai soviet: Di bawah kondisi Rusia yang terbelakang, dan terjadinya isolasi terhadap revolusi Rusia, soviet-soviet kehilangan kekuasaannya pada masa pemerintahan reaksioner Stalin. Meskipun secara resminya kekuasaan berada di tangan soviet-soviet, tetapi semenjak tahun 1930 hal ini adalah omong kosong semata karena kekuasaan yang sesungguhnya telah direnggut oleh golongan elit birokrasi. Tahun 1936 Stalin mengumumkan konstitusi baru yang secara formal melikuidasi kekuatan soviet, menggantikan demokrasi soviet dengan demokrasi parlementer borjuis yang penuh tipu daya yang di dalam konstitusi tersebut penduduk diperbolehkan memilih satu-satunya partai yang secara rutin "memenangkan" 99 persen suara pemilih. Dengan demikian kita lihat bahwa meskipun masih disebut "Uni Soviet", negeri itu, di bawah pemerintahan birokratik Stalinis, sama sekali berbeda dengan rezim demokrasi soviet yang terbentuk sebagai hasil Revolusi Oktober, di bawah pimpinan Lenin dan Trotsky. 
14 Lihat F. Engels, Herr Eugen Duhring's Revolution in Science [Anti-Dühring ], edisi bahasa Inggris, Moskow, 1947, hlm. 416-17.
15 Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648) - sebuah perang yang dalam bentuknya merupakan perang agama, melibatkan hampir semua negara di Eropa, jadi merupakan perang Eropa yang pertama, yang disebabkan oleh menghebatnya pertentangan di antara berbagai blok negara Eropa dan mengambil bentuk perang antara kaum Protestan dan kaum Katolik. Perang itu dimulai dengan pemberontakan di Bohemia mewalan kelaliman kerajaan Hapsburg dan serangan reaksi katolik. Negara-negara yang waktu itu berperang menjadi dua kubu. Paus, Dinasti Hapsburg Sepanyol dan Dinasti Hapsburg Austria dan Pangeran-pangeran Katolik Jerman, yang berhimpun di sekitar gereja Katolik melawan negeri-negeri Protestan -Bohemia--Denmark, Swedia, Republik Belanda, dan sejumlah negara bagian Jerman yang telah menerima reformasi. Negeri-negeri protestan disokong oleh raja-raja Perancis, musuh-musuh dinasti Hapsburg. Jerman menjadi medan pertempuran yang utama dan sasaran perampokan militer serta tuntutan-tuntutan perampokan. Perang ini berakhir 1648 dengan penandatanganan Perjanjian Perdamaian Wetsphalia yang merampungkan pemulangan Jerman secara politik. 
16 Lihat F. Engels, Herr Eugen Duhring's Revolution in Science [Anti-Dühring ], edisi bahasa Inggris, Moskow, 1947, hlm. 193. 
17 Ekletisisme -ketiadaan persatuan (kepaduan), keseluruhan, kekonsekuenan dalam keyakinan, dalam teori; perpaduan yang tak berprinsip dari pandangan-pandangan yang berbeda jenis yang tak dapat dipersatukan, yang berkontradiksi, misalnya ant materialisme dengan idealisme. Dalam seni -kombinasi dari berbagai gaya secara formal, secara mekanis. 
18 Sofisme -cara bepikir (penarikan kesimpulan) yang pintar tetapi menyesatkan; argumen yang mula-mula (formal) tampaknya benar tetapi mempunyai kelemahan yang tersembunyi; dalam arti sehari-hari - pura-pura dalam tetapi kosong.
19 Lihat K. Marx, Poverty of Pholosophy (Kemiskinan Filsafat), edisi bahasa Inggris, Moskow 
20 Lihat K. Marx dan F. Engels, Manifesto of the Communist Party, dalam Selected Works, edisi Bahasa Inggris, Moskow, 1951, Volume I, halaman 32-61. Edisi bahasa Indonesia yang paling lengkap dari Manifesto Partai Komunis dicetak oleh penerbit Indonesia Progresif, Jakarta, 1973, atau dapat dicari di internet. [back]
21 Lihat K. Marx critique of the Gotha Program (Kritik Terhadap Program Gotha) (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, volume II, Moskow 1949, hlm 13-45)
Program Gotha, --program parta buruh Sosialis Jerman yang diterima dalam konggres di Gotha pada tahun 1973, di mana dua partai sosialis Jerman yang hingga saat itu berdiri sendiri, yaitu kaum Eisenacher dan Lassalean bersatu. Program tersebut sepenuhnya oportunis, karena kaum Eisenacher memberi konsesi-konsesi kepada kaum Lassalean mengenai semua masalah penting dan telah menerima rumusan-rumusan Lassalean. Marx dan Engels melancarkan kritik yang menghancurluluhkan terhadap program tersebut.



NEGARA DAN REVOLUSI. PENGALAMAN DARI TAHUN 1848-1851


1. SAAT MENJELANG REVOLUSI
Karya-karya pertama yang sudah matang dari Marxisme --Kemiskinan Filsafat dan Manifesto Komunis--muncul justru pada saat menjelang revolusi 1848. oleh karena itu, sebagai tambahan bagi penyajian prinsip-prinsip umum Marxisme, karya-karya itu mencerminkan sampai derajad tertentu situasi revolusioner konkrit massa itu. Maka, akan menjadi lebih jitu, barangkali, untuk mempelajari apa yang dikatakan oleh para pengarang karya-karya tersebut tentang negara segera sebelum mereka menarik kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman tahun-tahun 1848-51 .(1)
Di dalam Kemiskinan Filsafat, Marx menulis :
"Kelas buruh dalam proses perkembangannya akan menggantikan masyarakat lama borjuis dengan perserikatan yang akan menyingkirkan kelas-kelas beserta pertentangannya, dan tidak akan ada lagi kekuasaan politik apapun yang sebenarnya, karena kekuasaan politik adalah justru pernyataan resmi dari antagonisme kelas dalam masyarakat borjuis." (halaman 182, edisi Jerman, 1885)(2)
Adalah disarankan untuk membandingkan keterangan umum dari pikiran mengenai hilangnya negara sesudah penghapusan kelas-kelas ini dengan keterangan yang termuat dalam Manifesto Komunis, yang ditulis oleh Marx dan Engels beberapa bulan kemudian --tepatnya, pada bulan November 1847:
"Dalam melukiskan fase-fase yang paling umum dari perkembangan proletariat, kita mengusut peperangan dalam negeri, yang sedikit atau banyak tersembunyi di dalam masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana perangan dalam negeri itu meletus menjadi revolusi terbuka, dan melalui penggulingan borjuasi dengan kekerasan, proletariat mendirikan kekuasaannya.
"Telah kita lihat di atas, bahwa langkah pertama dalam revolusi kelas buruh, adalah mengangkat proletariat menjadi kelas yang berkuasa, memenangkan demokrasi.
"Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, seluruh kapital dari borjuasi, memusatkan semua alat produksi ke dalam tangan Negara, yaitu di dalam tangan proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga produktif secepat mungkin". (halaman 31 dan 37, edisi Jerman ke-7, 1906)(3)
Di sini kita dapati formulasi dari salah satu pikiran yang paling perlu diperhatikan dan paling penting dari Marxisme mengenai pokok persoalan negara, yakni, ide mengenai "diktatur proletariat" (seperti yang mulai disebut oleh Marx dan Engels sesudah Komune Paris); dan juga suatu definisi yang luar biasa menarik perhatian mengenai negara yang adalah juga salah satu "kata terlupakan" dari Marxisme: "negara, yaitu, proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa".
Definisi mengenai negara tersebut belum pernah dijelaskan dalam literatur propaganda dan agitasi yang kini berkuasa dari partai-partai Sosial-Demokratis resmi. Lebih dari sekedar itu, kata-kata tersebut memang dengan sengaja dilupakan, karena ia mutlak tak dapat didamaikan dengan reformisme, dan ia adalah suatu tamparan langsung bagi segala prasangka oportunis dan ilusi filistin yang umum sekarang ini tentang "perkembangan damai dari demokrasi".
Proletariat memerlukan negara --ini diulangi oleh semua kaum oportunis, sosial-chauvinis dan Kautskyis yang memasti-mastikan pada kita bahwa inilah yang dipikirkan oleh Marx. Tetapi mereka "lupa" menambahkan bahwa, pertama-tama, menurut Marx, proletariat hanya membutuhkan suatu negara yang melenyap, yaitu, negara yang tersusun sedemikian rupa sehingga ia mulai melenyap dengan segera dan tidak dapat lain kecuali melenyap. Dan, kedua, kaum yang bekerja membanting tulang memerlukan suatu "negara, yaitu, proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa".
Negara adalah suatu organisasi kekuatan yang khusus; ia adalah suatu organisasi kekerasan untuk menindas suatu kelas. Kelas apakah yang harus ditindas oleh proletariat? Wajarnya, hanya kelas penindas, yaitu borjuasi. Kaum yang bekerja membanting tulang memerlukan negara hanya untuk menindas perlawanan dari pihak para penghisap, dan hanya proletariat saja yang berada dalam posisi memimpin penindasan ini, menjalankannya; karena proletariat adalah satu-satunya kelas yang dapat revolusioner secara konsekuen, kelas satu-satunya yang dapat menyatukan kaum yang bekerja membanting tulang dan kaum yang terhisap dalam perjuangan melawan borjuis, mengenyahkannya sama sekali.
Kelas-kelas penghisap memerlukan kekuatan politik untuk mempertahankan penghisapan, yaitu, untuk kepentingan memuaskan diri sendiri dari minoritas yang tidak penting terhadap mayoritas luas dari Rakyat. Kelas-kelas terhisap memerlukan kekuasaan politik untuk menghapuskan sampai segala penindasan ke akar-akarnya, yaitu, demi kepentingan mayoritas luas dari Rakyat, dan terhadap minoritas yang tidak signifikan yang terdiri dari para pemilik budak modern --tuan tanah dan kapitalis.
Kaum demokrat borjuis kecil, yaitu kaum yang pura-pura sosialis yang telah menggantikan perjuangan kelas dengan impian-impian tentang keselarasan kelas, bahkan menggambarkan perubahan sosialis dengan gaya bermimpi pula --bukan sebagai penggulingan kekuasaan kelas penghisap, tetapi sebagai penundukkan secara damai minoritas pada mayoritas yang telah menjadi sadar akan tujuan-tugasnya. Utopia borjuis kecil ini, yang tak terpisahkan berkaitan dengan pikiran tentang negara berada di atas kelas-kelas, dalam praktek menjurus pada penghianatan terhadap kepentingan-kepentingan kelas-kelas yang bekerja membanting tulang, seperti yang ditunjukkan, misalnya, oleh sejarah revolusi-revolusi Perancis tahun 1848 dan 1871, dan oleh pengalaman keikutsertaan kaum "Sosialis" dalam kabinet-kabinet di Inggris, Perancis, Italia, dan negeri-negeri lain pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Sepanjang hidupnya Marx berjuang melawan sosialisme borjuis kecil ini --yang sekarang dihidupkan kembali di Rusia oleh partai-partai Sosialis-Revolusioner dan Menshevik. Marx dengan konsekuen menerapkan ajarannya tentang perjuangan kelas, sampai kepada ajaran tentang kekuasaan politik, ajaran mengenai negara.
Penggulingan kekuasaan borjuis hanya dapat diselesaikan oleh proletariat, sebagai kelas istimewa yang syarat-syarat ekonomi eksistensinya menyiapkannya untuk tugas ini dan melengkapinya dengan kemungkinan dan kekuatan untuk melakukannya. Sedang borjuasi memecah dan memencarkan kaum tani dan semua golongan borjuis kecil, ia menghimpun, menjatuhkan dan mengorganisasi proletariat. Hanya proletariatlah --disebabkan peranan ekonomi yang dilakukan olehnya dalam produksi besar-besaran-- yang mampu menjadi pemimpin dari seluruh massa yang bekerja membanting tulang dan terhisap, yang oleh borjuasi dihisap, ditindas, dan dipukul tidak kurang malah sering kali lebih hebat dari pada kaum proletar, tetapi tidak mampu menjalankan perjuangan yang independen demi kebebasannya.
Ajaran tentang perjuangan kelas, bila diterapkan oleh Marx pada masalah negara dan masalah revolusi sosialis tidak boleh tidak menjurus pada pengakuan atas kekuasaan politik proletariat, diktaturnya, yaitu kekuasaan yang tidak dibagi dengan siapapun dan yang langsung bersandar pada kekuatan bersenjata dari massa. Penggulingan borjuasi dapat dicapai hanya oleh proletariat yang berubah menjadi kelas yang berkuasa yang mampu mengancurkan perlawanan tak terelakkan dan kalap dari borjuasi, dan mampu mengorganisir seluruh massa yang bekerja membanting tulang dan terhisap untuk susunan tata tertib ekonomi yang baru.
Proletariat memerlukan kekuasaan negara, organisasi kekuatan yang terpusat, organisasi kekerasan, baik untuk meluluhlantakkan perlawanan dari kaum penghisap, maupun untuk mempimpin massa maha besar dari penduduk --kaum tani, borjuasi kecil, kaum setengah-proletar-- dalam pekerjaan mengorganisasikan ekonomi sosialis.
Dengan mendidik partai kaum buruh, Marxisme mendidik pelopor proletariat yang mampu memegang kekuasaan, memimpin seluruh Rakyat menuju ke Sosialisme, mengemudikan dan mengorganisasi susunan tata tertib baru, menjadi guru, penunjuk jalan, pemimpin dari semua buruh dan yang terhisap dalam tugas membangun kehidupan sosial mereka tanpa borjuasi dan melawan borjuasi. Berlawanan dengan hal ini, oportunisme yang sekarang berkuasa melatih anggota partai kaum buruh untuk menjadi wakil kaum buruh yang dibayar lebih tinggi, yang kehilangan kontak dengan buruh kebanyakan, "merasa kerasan dan betah" sekali di bawah kapitalisme, dan menjual hak-kelahirannya hanya seharga setengah peser, artinya memundurkan diri dari peranan sebagai pemimpin-pemimpin revolusioner dari rakyat melawan borjuasi.
"Negara, yaitu, proletariat yang terorganisir sebagai kelas yang berkuasa", teori dari Marx ini adalah tak terpisahkan terikat dengan seluruh ajarannya tentang peranan revolusioner proletariat dalam sejarah. Puncak peranan ini adalah diktatur proletariat, kekuasaan politik dari proletariat.
Tetapi jika proletariat memerlukan suatu negara sebagai bentuk khusus dari organisasi kekerasan melawan borjuasi, kesimpulan berikut ini timbul dengan sendirinya: dapatkah diangan-angankan bahwa organisasi semacam itu dapat diciptakan tanpa terlebih dulu menghapuskan, menghancurkan mesin negara yang diciptakan oleh borjuasi untuk dirinya sendiri? Manifesto Komunis membawa kita langsung pada kesimpulan ini, dan tentang inilah Marx berbicara ketika ia menarik kesimpulan-kesimpulan dari pengalaman Revolusi 1848-51.

2. KESIMPULAN TENTANG REVOLUSI
Mengenai masalah tentang negara yang sangat menarik perhatian kita ini, Marx mengihtisarkan kesimpulan-kesimpulannya dari Revolusi 1848-51 dalam argumentasi berikut ini yang termuat dalam Brumaire(4) ke-18 dari Louis Bonaparte :(5)
"Tetapi revolusi adalah radikal. Ia masih dalam perjalanan melalui tempat pensucian arwah. Ia melaksanakan usahanya menurut metoda. Sampai tanggal 2 Desember 1851 (hari berlangsungnya kudeta Louis Bonaparte) ia telah menyelesaikan separuh dari pekerjaan persiapannya, sekarang ia sedang menyelesaikan separuh yang lainnya. Pertama-tama ia menyempurnakan kekuasaan parlementer, supaya menggulingkannya. Sekarang, setelah ini tercapai olehnya ia menyempurnakan kekuasaan eksekutif, menyederhanakannya sampai pada pernyataannnya yang paling murni, mengucilkannya, mempertentangkannya terhadap dirinya sendiri sebagai satu-satunya sasaran umpatan, supaya dapat memusatkan penghancurannya terhadap dia" (huruf miring dari kami). Dan apabila ia selesai melakukan separuh yang kedua dari perkerjaan persiapannya, Eropa akan melompat dari tempat duduknya dan berteriak gembira: bagus galianmu tikus mondok tua!
"Kekuasaan eksekutif ini dengan organisasi birokrasi serta militernya yang sangat hebat dengan mesin negaranya yang serba rumit dan cerdik, yang meliputi lapisan-lapisan luas, dengan barisan pegawainya sejumlah setengah juta orang, di samping tentara sebesar setengah juta pula, badan yang bersifat parasit mengerikan ini, yang menjerat tubuh masyarakat Perancis seperti jala dan menyumbat segala pori-pori di kulitnya, terjadi pada masa monarki absolut, di waktu keruntuhan sistem feodal, dan jasad parasit itu telah membantu mempercepat keruntuhan iniÉ." Revolusi Perancis yang pertama telah mengembangkan sentralisasi, "tetapi pada saat yang bersamaan" ia menambahkan "keluasan, sifat dan jumlah agen-agen kekuasaan pemerintahan. Napoleon menyempurnakan" mesin negara ini. Monarki Legitimis(6) dan Monarki Juli(7) "tidak menambah apapun juga kecuali pembagian kerja yang lebih besarÉ. Akhirnya, dalam perjuangannya menentang revolusi, republik parlementer menemukan dirinya ternyata terpaksa, bersama dengan tindakan-tindakan penindasan, memperkuat sarana-sarana dan sentralisasi kekuasaan pemerintah. Semua penggulingan kekuasaan menyempurna kan mesin ini, dan bukan menghancur kannya" (huruf miring ini dari kami). Partai-partai yang silih berganti memperebutkan dominasi menganggap direbutnya bangunan negara yang maha besar ini sebagai barang rampasan yang terpenting bagi si pemenang". (Brumaire ke-18 dari Louis Bonaparte, halaman 98-99, edisi ke-empat, Hamburg, 1907)(8)
Dalam argumen yang patut sekali diperhatikan ini Marxisme mengambil langkah raksasa ke depan dibandingkan dengan Manifesto Komunis. Di dalam yang tersebut belakangan tadi, masalah tentang negara masih diperlakukan secara abstrak benar, dalam kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang paling umum. Dalam bagian karangan yang dikutip di atas tadi masalah itu dibahas dengan konkrit dan kesimpulannya adalah sungguh sangat tepat, pasti, praktis, dan dapat diraba: semua revolusi yang telah terjadi sampai pada saat ini menyempurnakan mesin negara, padahal ia harus dirusakkan, dihancurkan.
Kesimpulan ini adalah hal yang terpenting dan fundamental dalam ajaran Marx mengenai negara. Dan adalah justru poin yang fundamental inilah yang bukan hanya telah sepenuhnya dilupakan oleh partai-partai Sosial-Demokratik resmi, tetapi bahkan terang-terangan didistorsikan (seperti yang akan kita lihat nanti) oleh teoritikus paling terkenal dari Internasionale Kedua, Karl kautsky.
Manifesto Komunis memberikan suatu ikhtisar umum tentang sejarah, yang mengharuskan kita untuk menganggap negara sebagai alat kekuasaan kelas dan membawa kita pada kesimpulan yang tak dapat dihidari lagi bahwa proletariat tidak dapat menggulingkan borjuasi tanpa terlebih dulu merebut kekuasaan politik, tanpa memperoleh kekuasaan-unggul politik, tanpa mengubah negara menjadi "proletariat yang terorganisir sebagai kelas yang berkuasa"; dan bahwa negara proletariat ini akan mulai "melenyap" segera setelah ia memperoleh kemenangan, karena negara adalah tidak perlu dan tidak dapat ada dalam suatu masyarakat di mana tidak terdapat antagonisme kelas. Masalah tentang bagaimana, dari sudut pandang perkembangan sejarah, penggantian negara borjuis oleh negara proletar itu harus terjadi tidaklah diajukan di sini.
Ini adalah masalah yang diajukan dan dijawab oleh Marx dalam tahun 1852. Setia pada filsafatnya, yaitu materialisme dialektik, Marx mengambil sebagai landasannya pengalaman sejarah dari tahun-tahun revolusi, 1848 sampai 1851. Di sini, sebagai di manapun juga, ajaran Marx adalah pengikhtisaran pengalaman yang disinari oleh suatu pandangan filsafat yang matang tentang dunia dan pengetahuan yang kaya mengenai negara.
Masalah tentang negara dikemukakan secara kongkrit: bagaimanakah terjadinya negara borjuis, mesin negara yang diperlukan untuk kekuasaan borjuis, ditinjau dari segi sejarah? Perubahan-perubahan apakah yang dialami olehnya, evolusi apakah yang dijalankannya dalam revolusi-revolusi borjuis (9) dan dihadapan aksi-aksi independen dari kelas-kelas tertindas? Apakah tugas-tugas proletariat dalam hubungan dengan mesin negara ini?
Kekuasaan negara yang tersentralisasi yang khas bagi masyarakat borjuis terjelma dalam periode jatuhnya absolutisme. Dua lembaga paling karakteristik dari negara: birokrasi dan tentara tetap. Dalam karya-karya mereka, Marx dan Engels berulang kali menunjukan bahwa borjuasilah yang melalui ribuan jerat dihubungkan dengan kedua lembaga itu. Pengalaman setiap buruh menjelaskan hubungan ini dengan cara yang luar biasa terangnya dan mendalam. Dari pengalamannya sendiri yang pahit, kelas buruh belajar mengenal hubungan itu; itulah keterangannya mengapa mudah bagi ia untuk menangkap dan begitu teguh mempelajari ajaran yang menunjukkan hal tak dapat dihindarinya pertalian tersebut, suatu ajaran yang oleh kaum demokrat borjuis kecil disanggah karena ketidaktahuan dan dengan sembarangan, atau, lebih sembarangan lagi, mengakui "dalam garis besarnya" sementara itu melupakan hal mengenai menarik kesimpulan-kesimpulan praktis yang sesuai.
Birokrasi dan tentara tetap adalah "parasit" pada tubuh masyarakat borjuis --parasit yang dilahirkan oleh antagonisme-antagonisme internal yang mengoyak masyarakat itu, tetapi juga parasit yang "menyumbat" semua pori-pori yang vital. Oportunisme ala-Kautsky yang sekarang ini menguasai Sosial-Demokrasi resmi menganggap pandangan bahwa negara adalah organisme parasit sebagai sifat yang khas dan luar biasa dari anarkisme. Dengan sendirinya distorsi terhadap Marxisme seperti ini merupakan suatu kesempatan yang sangat menguntungkan sekali bagi kaum filistin yang telah merendahkan Sosialisme menjadi sesuatu yang hina tiada tara berupa pembenaran serta pembagusan terhadap perang imperialisme dengan menerapkan padanya konsep "membela tanah air"; tetapi ini, biar bagaimanapun juga, tak usah dipersoalkan lagi adalah distorsi.
Perkembangan, penyempurnaan dan pengokohan aparatus birokrasi dan militer berlaku selama semua revolusi borjuis yang berkali-kali itu yang disaksikan oleh Eropa sesudah jatuhnya feodalisme. Teristimewa, justru borjuis kecil itulah yang tertarik pada pihak borjuasi besar dan ditaklukkan olehnya sampai derajat yang luas dengan bantuan aparat ini, yang mencakupi lapisan luas dari kaum tani, pengrajin kecil, pedagang dan semacamnya dengan jabatan-jabatan yang menurut perbandingan adalah enak, tenang dan terhormat yang mengangkat para pemegangnya di atas Rakyat. Harap perhatikan apa yang terjadi di Rusia selama enam bulan yang menyusul 27 Februari 1917 (10). Jabatan-jabatan pemerintah yang dulunya diutamakan diberikan kepada anggota-anggota Seratus Hitam (11) sekarang ini menjadi hasil rampasan bagi kaum Kadet (12). Menshevik dan Sosialis Revolusioner. Tiada seorangpun yang betul-betul memikirkan untuk memperkenalkan adanya sesuatu reformasi yang serius; setiap daya upaya diperbuat untuk menundanya "sampai Majelis Permusyawarahan bersidang"; dan untuk dengan mantap menunda pemanggilan sidang Majelis dalam hal membagi hasil rampasan, menduduki jabatan-jabatan enak seperti menteri, wakil menteri, gubernur-jenderal, dsb, dsb! Permainan mencari kombinasi-kombinasi yang telah dimainkan dalam membentuk pemerintah hanyalah, pada hakekatnya suatu pernyataan tentang pembagian dan pembagian-kembali "hasil-hasil rampasan" ini, yang telah terjadi di atas dan di bawah, diseluruh negeri, di setiap bahagian dari pemerintah pusat dan lokal. Enam bulan antara 27 Febuari dan 27 Agustus 1917, dapat diikhtisarkan, dengan obyektif tak dapat dipertengkarkan lagi, sebagai berikut: Pembagian-pembagian jabatan resmi dilaksanakan dan "kekeliruan-kekeliruan" dalam pembagian itu dibetulkan dengan beberapa pembagian baru.
Tetapi makin "dibagikan kembali" aparat birokrasi itu di kalangan berbagai partai borjuis dan borjuis kecil (di kalangan kaum Kadet, Sosialis-Revolusioner, dan Menshevik dalam kejadian di Rusia), makin jernihlah kelas-kelas tertindas dan proletariat akan pemimpinnya, menjadi sadar akan permusuhannya yang tak terdamaikan terhadap seluruh masyarakat borjuis. Itulah keterangannya mengapa menjadi perlu bagi semua partai borjuis, bahkan juga untuk yang paling demokratis dan "revolusioner demokratis" di antara mereka itu, untuk mengintensifkan tindakan-tindakan penindas terhadap proletariat revolusioner, untuk memperkokoh aparat penindasan, yaitu, mesin negara itu sendiri. Jalannya kejadian-kejadian memaksa revolusi "untuk memusatkan semua kekuatan penghancurnya" terhadap kekuasaan negara, dan untuk menetapkan tugas bagi dirinya sendiri, bukannya untuk menyempurnakan mesin negara, tetapi tugas untuk membinasakan dan menghancurkannya.
Bukanlah pertimbangan secara logik, tetapi perkembangan yang sebenarnya dari kejadian-kejadian pengalaman hidup dari tahun 1848-51, itulah yang menuju pada masalah yang disajikan secara demikian ini. Sampai ke derajad mana Marx dengan teguh dan seksama berpegang pada landasan kokoh kuat dari pengalaman sejarah, dapatlah dilihat dari kenyataan bahwa, dalam tahun 1852, ia belum dengan kongkrit mengajukan persoalan tentang apa yang harus menggantikan mesin negara yang harus dihancurkan itu. Pengalaman belum dapat cukup memberikan bahan untuk pemecahan persoalan itu, yang kemudian oleh sejarah ditempatkan dalam agenda berikutnya, yaitu pada tahun 1871. Dalam tahun 1852 apa yang mungkin dapat ditentukan dengan ketepatan berdasarkan penanggapan ilmiah adalah bahwa revolusi proletar telah mendekati tugas "memusatkan semua kekuatan penghancurnya". Terhadap kekuasaan negara, tugas "membinasakan" mesin negara.
Di sini dapat timbul persoalan: apakah tepat menggeneralisasikan pengalaman, tanggapan-tanggapan dan kesimpulan-kesimpulan Marx, menerapkannya pada lapangan yang lebih luas dari pada sejarah Perancis selama tiga tahun 1848-1851? Sebelum memulai dengan pembahasan mengenai masalah ini marilah kita terlebih dulu mengingat kembali suatu pendapat yang diajukan oleh Engels, dan kemudian mempelajari kenyataan-kenyataan. Dalam kata pengantarnya pada edisi ke-tiga dari Brumaire Ke-18 Engels menulis:
"...Perancis adalah negeri di mana. lebih dari pada di negeri lain mana pun juga, perjuangan kelas historis setiap kali mencapai akhir yang menentukan, dan di mana, secara konsekwen, telah terwujud dalam garis-garis besar yang paling tajam bentuk-bentuk politik yang berubah-ubah, di mana bergerak perjuangan kelas itu dan di mana hasil-hasilnya menyatakan diri. Perancis, pusat feodalisme dalam Jaman Pertengahan, negeri teladan dalam hal monarki yang bersatu, bersandar pada pangkat-pangkat sejak jaman Pencerahan, Perancis telah menghancurkan feodalisme, dalam masa Revolusi Besar dan menegakkan kekuasaan murni borjuasi dengan keklasikan murni yang tak dapat ditandingi oleh sesuatu negeri lain yang manapun di Eropa. Dan perjuangan proletariat yang sedang bangkit menentang borjuasi yang berkuasa di sini muncul dalam bentuk yang tajam, akut, yang tidak dikenal oleh negeri lain manapun". (halaman 4, edisi 1907)(13)
Kalimat yang terakhir itu sudah menjadi basi, oleh karena sejak tahun 1871 terjadi suatu keredaan dalam perjuangan revolusioner proletariat Perancis: biarpun ada keredaan ini berapa lamapun ia berlangsung, ia sedikitpun tidak menyisihkan kemungkinan bahwa, dalam revolusi proletar yang akan datang, Perancis dapat memperlihatkan dirinya sebagai suatu negeri klasik dari perjuangan kelas sampai suatu garis akhir.
Bagaimanapun, marilah kita memandang secara umum ke arah sejarah negeri-negeri yang sudah maju pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kita akan melihat bahwa proses yang sama itu telah berjalan dalam bentuk-bentuk yang lebih perlahan, lebih beraneka warna, di lapangan yang sangat lebih luas: pada satu pihak, perkembangan "kekuasaan parlemen" baik di negeri-negeri Republiken (Perancis, Amerika, Swiss) maupun di negeri-negeri monarkis (Inggris, Jerman sampai suatu derajad tertentu, Italia, negeri-negeri Skandinavia, dsb.); pada pihak lain, suatu perjuangan untuk kekuasaan di kalangan berbagai macam partai borjuis dan borjuis kecil yang membagikan dan membagikan kembali "hasil rampasan" berupa kedudukan-kedudukan tinggi, sedang dasar-dasar masyarakat borjuis tetap tidak berubah; dan akhirnya, penyempurnaan dan pengokohan "kekuasaan eksekutif" aparat-aparat birokrasi dan militernya.
Tak ada keraguan sedikitpun bahwa ciri-ciri ini tadi adalah biasa bagi seluruh evolusi modern dari semua negara kapitalis pada umumnya. Dalam tiga tahun 1848-51 Perancis memperlihatkan, dalam bentuk yang cepat, tajam, dan terkonsentrasi, proses yang itu-itu juga dari perkembangan yang khas bagi seluruh dunia kapitalis.
Imperialisme --jaman kapital bank, jaman monopoli-monopoli kapitalis raksasa, jaman perkembangan kapitalisme monopoli menjadi kapitalisme monopoli-negara-- telah mendemonstrasikan dengan kekuatan yang khusus suatu pengokohan luar biasa dari "mesin negara" dan suatu pertumbuhan yang tiada bandingnya sebelumnya dari aparat birokrasi dan militernya dalam hubungan dengan pengintensifan tindakan-tindakan penindas terhadap proletariat baik di negeri-negeri monarkis maupun di negeri-negeri republik yang paling merdeka.
Sejarah dunia sekarang ini tak usah diragukan lagi sedang menjurus dalam ukuran yang tak terbandingkan lebih luas dari pada dalam tahun 1852 ke arah "konsentrasi semua kekuatan" dari revolusi proletar pada "penghancuran" mesin negara.
Apa yang oleh proletariat hendak digunakan untuk mengganti itu telah ditunjukkan oleh bahan yang luar biasa mengandung pelajaran yang diberikan oleh Komune Paris

3. PENYAJIAN MASALAH OLEH MARX DALAM TAHUN 1852
Dalam tahun 1907, Mehring dalam majalah Neue Zeit (14)(vol. XXV, 2, hal. 164), menyiarkan cuplikan-cuplikan dari sepucuk surat Marx kepada Weydemeyer tertanggal 5 Maret 1852. Surat ini, di antara hal-hal lain, memuat observasi yang patut sekali diperhatikan seperti berikut ini:
"...Dan sekarang mengenai diri saya, bukanlah jasa saya ditemukannya adanya kelas-kelas dalam masyarakat modern dan juga ditemukannya adanya perjuangan di antara mereka itu. Jauh sebelum saya para ahli sejarah borjuis telah menguraikan perkembangan historis perjuangan kelas-kelas ini dan para ahli ekonomi borjuis menguraikan anatomi ekonomi dari kelas-kelas. Hal baru yang telah saya lakukan adalah membuktikan: 1) bahwa adanya kelas-kelas itu hanya lah bertalian dengan fase-fase kesejarahan khusus dalam perkembangan produksi [historische Entwicklungesphasen der Produktion]; 2)bahwa perjuangan kelas pasti menuju pada diktatur proletariat; 3) bahwa diktatur ini sendiri hanyalah merupakan peralihan ke arah penghapusan semua kelas dan ke arah masyarakat tanpa kelasÉ.."(15)
Dalam kata-kata tersebut Marx berhasil menyatakan dengan kejelasan yang menyolok, pertama, perbedaan pokok dan radikal antara ajarannya dengan ajaran para pemikir borjuasi paling terkemuka dan paling mendalam; dan kedua hakekat ajaran tentang negara.
Seringkali dikatakan dan ditulis bahwa inti dalam ajaran Marx adalah perjuangan kelas; tetapi ini tidak benar. Dan dari ketidakbenaran ini sangat sering lahir distorsi kaum oportunis atas Marxisme, pemalsuannya sedemikian rupa sehingga membuatnya dapat diterima oleh borjuasi. Karena doktrin perjuangan kelas tidak diciptakan oleh Marx, tetapi oleh borjuasi sebelum Marx, dan bicara secara umum ia dapat diterima oleh borjuasi. Mereka yang hanya mengakui perjuangan kelas belumlah Marxis; mereka mungkin masih berdiri dalam batas-batas pemikiran borjuis dan politik borjuis. Membatasi Marxisme pada doktrin tentang perjuangan kelas berarti memotong Marxisme, mendistorsikannya, memerosotkannya sampai berupa suatu yang dapat diterima oleh borjuasi. Hanya dialah seorang Marxis, yaitu yang meluaskan pengakuan atas perjuangan kelas sampai pada pengakuan atas diktatur proletariat. Inilah yang merupakan perbedaan paling mendalam antara orang Marxis dan borjuis kecil (maupun yang besar juga). Inilah batu ujian yang di atasnya pengakuan serta pengertian yang sesungguhnya tentang Marxisme diuji. Dan tidaklah mengejutkan bahwa ketika sejarah Eropa membawa kelas buruh berhadapan muka dengan masalah ini sebagai perkara praktis bukan hanya semua oportunis dan reformis, tetapi semua "Kautskyis" (orang-orang yang terombang-ambing antara reformisme dengan Marxisme) terbukti adalah filistin-filistin yang mengibakan hati dan demokrat-demokrat borjuis kecil yang menolak diktatur proletariat. Buku kecil Kautsky Diktatur Proletariat, diterbitkan bulan Agustus 1918, yaitu lama sesudah edisi pertama buku yang sekarang ini adalah suatu contoh yang bagus sekali tentang distorsi borjuis kecil terhadap Marxisme dan penolakan yang rendah terhadapnya dalam praktek, sementara secara hipokrit mengakuinya dalam kata-kata. (lihat famplet saya Revolusi Proletar dan Renegad Kaustky, Petrograd dan Moskow, 1918).
Oportunisme dewasa ini dalam pribadi wakil utamanya, si mantan Marxis, Karl Kautsky, cocok sepenuhnya dengan karakteristik Marx tentang posisi borjuis yang dikutip di atas, karena oportunisme ini membatasi pengakuan atas perjuangan kelas pada bidang hubungan-hubungan borjuis. (Di dalam bidang ini, di dalam kerangka kerja ini, tidak ada seorang liberal terpelajarpun akan menolak untuk mengakui perjuangan kelas "pada prinsipnya"!) Oportunisme tidak meluaskan pengakuan atas perjuangan kelas sampai pada soalnya yang terpenting, pada periode transisi dari kapitalisme ke Komunisme, pada periode penggulingan dan penghapusan sepenuhnya dari borjuasi. Pada kenyataannya, periode ini tak terelakkan lagi adalah periode dari perjuangan kelas dengan kekerasaan yang belum pernah ada sebelumnya dalam bentuk-bentuk akut yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sebagai akibatnya, selama periode tersebut negara tidak boleh dihindari lagi haruslah negara yang demokratis secara baru (bagi proletariat dan kaum yang tidak bermilik pada umumnya) dan diktaturiat secara baru (menentang borjuasi).
Mari lanjutkan. Hakekat ajaran Marx tentang negara telah dikuasai hanya oleh mereka yang mengerti bahwa diktatur kelas yang tunggal adalah diperlukan tidak saja untuk setiap masyarakat berkelas pada umumnya, tidak saja untuk proletariat yang telah menggulingkan borjuasi, tetapi juga untuk seluruh periode sejarah yang memisahkan kapitalisme dari "masyarakat tanpa kelas", dari Komunisme. Bentuk-bentuk negara borjuis sungguh sangat bermacam ragam, tetapi hakekatnya adalah sama saja, semua negara ini bagaimanapun juga bentuknya, dalam analisa terakhir secara tak terelakkan adalah diktatur borjuasi. Peralihan dari kapitalisme ke Komunisme sudah tentu tidak dapat lain kecuali melahirkan kelimpahan serta keragaman yang sangat hebat dari bentuk-bentuk politik, tetapi hakekatnya secara tak terelakkan akan sama saja diktatur proletariat.


1 Revolusi tahun 1848-51: gelombang pergolakan revolusioner yang meluas di Perancis, Jerman, Prussia, Austria, Italia, dan Hongaria. [back] 2 lihat K. Marx, Poverty of Philosophy (Kemiskinan Filsafat), edisi bahassa Inggris, Moskow, 1936, halaman 174. [back]
3 Lihat K. Marx dan F. Engels, Manifesto of the Communist Party, (dalam Selected Works, edisi Bahasa Inggris, Moskow, 1951, Volume I, halaman 43 and 50). Lihat juga catatan no. 20 [back]
4 Brumaire -bulan kedua (22 Oktober sampai 20 November) menurut kalender Republik Preancis yang diberlakukan dalam tahun 1793. Pada 18 Brumaire tahun ke-8 Republik terjadi kudeta yang merupakan permulaan kediktatoran Napoleon Bonaparte. [back]
5 Louis Bonaparte (1808-73) Keponakan dari Napoleon I; setelah kekalahan revolusi 1848 di Perancis ia dipilih menjadi presiden. Pada bulan Desember 1851, ia mengadakan kudeta. Dari tahun 1852 hingga 1870 ia menjadi Kaisar dengan gelar Napoleon III. [back]
6 Kaum Legitimis - pendukung-pendukung dinasti Bourbon yang "sah", adalah partai dari para bangsawan feodal, yang menyerukan pengembalian kerajaan Bourbon yang telah digulingkan pada tahun 1830. Lamennais dan Montalambert adalah penganjur-penganjur yang terkemuka dari partai ini. Dalam perjuangan melawan dinasti Orleans (1830-48) yang sedang berkuasa dan yang bersandar pada aristokrat finans dan borjuasi besar, sebagian dari kaum legitimis itu tidak jarang menggunakan demagogi sosial dengan menampilkan diri sebagai pembela-pembela kaum pekerja terhadap kaum penghisap borjuis. [back]
7 Monarki Juli -pemerintahan Louis Philippe (1830-48) yang mengambil nama itu dari Revolusi Juli. [back]
8 Lihat K. Marx, The Eighteen Brumaire of Louis Bonaparte (18 Brumaire dari Louis Bonaparte) (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid I, hlm. 301).
Berikutnya, pada halaman 37 buku yang diterjemahkan ini (cetakan kedua edisi Bahasa Inggris, Foreign Language Press, Peking, tahun 1970--redaksi), V. I. Lenin mengutip kata pendahuluan F. Engels untuk edisi ke-tiga bahasa Jerman karya tersebut (ibid, halm. 223). [back]
9 Revolusi-revolusi Borjuis - ungkapan yang yang secara konvensional digunakan dalam periode kemunculan kapitalisme untuk menyatakan revolusi-revolusi melawan kelas feodal yang berkuasa. Revolusi-revolusi borjuis klasik, Revolusi Perancis (Revolusi Besar) tahun 1789 adalah contoh yang paling terkenal darinya, diadakan untuk mengantarkan borjuasi kepada kekuasaan dengan menggunakan melimpahnya gerakan massa di bawah panji-panji demokrasi. Itulah pengalaman dari semua revolusi borjuis di mana borjuasi menjelma jadi kontra revolusi sejalan dengan menngkatnya derajad tuntutan massa untuk melaksanakan slogan-slogan demokratik dalam konklusi prakteknya. Revolusi Rusia mulanya adalah revolusi borjuis, tetapi karena kaum borjuasi menentang segala tugas-tugas demokratik dan mengambil posisi kontra revolusioner, maka kepemimpinan beralih ke tangan kaum proletar yang akhirnya merebut kekuasaan dengan memimpin kaum buruh tani miskin dan melaksanakan revolusi tersebut sebagai revolusi permanen. Inilah proses 'revolusi permanen' yang diramalkan dan dijelaskan oleh Trotsky. [back]
10 Tanggal ditumbangkannya Tsar dan dibentuknya Pemerintahan Sementara [back]
11 Kaum Seratus Hitam (Black Hundreds) -nama populer untuk "Union of the Russian People" (Persatuan Rakyat Rusia), merupakan gerombolan-gerombolan monarkis yang dibentuk oleh polisi Tsaris untuk melawan gerakan revolusioner. Mereka membunuh kaum revolusioner, mengorganisasi serangan-serangan terhadap kaum intelektual progresif dan melakukan pembunuhan massal yang terorganisir terhadap orang-orang Yahudi. [back]
12 Kaum Kadet -Cadets, akronim dari The Constitutional Democrats: partai dari borjuasi liberal-monarkis yang utama di Rusia, muncul dari masa awal Liga Pembebasan (Osvobozhdeniye atau Liberation League). Gagal menyelamatkan monarki, mereka mengambil langkah maju dengan mengambil posisi kunci di Pemerintahan Sementara untuk mengejar kebijakan-kebijakan mereka yang kontra revolusioner dan imperialistik. Setelah Revolusi Oktober mereka melibatkan diri secara aktif dalam menginvasi Rusia oleh tentara-tentara dari kekuatan imperialis. [back]
13 Kata pendahuluan F. Engels untuk edisi ke-tiga bahasa Jerman karya Karl Marx, 18 Brumaire dari Louis Bonaparte (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid I, hlm. 223).
Ditambahkan pada edisi ke-dua [back]
14 Die Neue Zeit (Jaman Baru) -majalah Sosial-Demokrat Jerman, terbit di Stuttgart dari tahun 1883-1923. Dalam tahun-tahun 1883-93 Die Neue Zeit memuat beberapa artikel Engels. Engels sering memberi nasehat kepada staff redaksi majalah tersebut dan dengan tajam mengkritik mereka jika mnyimpang dari Marxisme. Mulai paruh tahun-tahun 90-an, yaitu setelah Engels meninggal dunia, majalah ini dengan sistematis memuat artikel-artikel kaum revisionis. Semasa perang dunia imperialis (1914-18) majalah ini mengambil pendirian sentris, Kautskyis dan menyokong kaum Sosial-Chauvinis. [back]
15 Lihat K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid II, halaman 410) [back]


 

NEGARA DAN REVOLUSI. PENGALAMAN DARI KOMUNE PARIS TAHUN 1871. ANALISA MARX


1. DI MANAKAH LETAK HEROISME DAYA UPAYA KAUM KOMUNARD?
Telah diketahui benar bahwa dalam musim gugur tahun 1870, beberapa bulan sebelum Komune, Marx memperingatkan kaum buruh Paris bahwa sesuatu daya upaya untuk menggulingan pemerintah akan merupakan suatu kedunguan yang kalap. Tetapi ketika dalam Maret 1871, suatu pertempuran yang menentukan telah dipaksakan pada kaum buruh dan mereka menerimanya, ketika pemberontakan telah menjadi suatu kenyataan, Marx menyambut revolusi proletar itu antusisme terhangat, biarpun ada beberapa pertanda yang tidak menguntungan. Marx tidak mengambil sikap yang kaku dan berlagak tahu segala berupa menyalahkan suatu gerakan yang "tidak pada waktunya" seperti yang diperbuat oleh penghianat Rusia yang terkenal keburukannya terhadap Marxisme, yaitu Plekhanov (1) yang dalam November 1905 menulis secara begitu berani tentang perjuangan kaum buruh dan tani tetapi, sesudah Desember 1905, meratap, gaya orang liberal; "Seharusnya mereka tidak usah mengangkat senjata".
Bagaimanapun, Marx tidak sekadar antusias terhadap heroisme kaum Komunard yang, seperti dinyatakan olehnya, "menggempur Langit". Meskipun gerakan revolusioner massa tidak mencapai tujuannya, Marx menganggap hal tersebut sebagai pengalaman sejarah yang mempunyai arti penting luar biasa, sebagai suatu kemajuan tertentu revolusi proletar dunia, sebagai suatu langkah praktis yang lebih penting dari pada beratus-ratus program dan argumentasi. Menganalisa pengalaman ini , menarik pelajaran-pelajaran taktis darinya, menyelidiki kembali teorinya sendiri dalam sorotan pengalaman tersebut --itulah tugas yang ditetapkan oleh Marx untuk dirinya sendiri.
Satu-satunya "koreksi" yang Marx pikir perlu diadakan dalam Manifesto Komunis, dibuat olehnya berlandaskan pada pengalaman revolusioner dari Komune Paris.
Kata pengantar terakhir untuk Manifesto Komunis edisi Jerman yang diperbaharui, ditandatangani oleh kedua pengarangnya, bertanggal 24 Juni 1872. Dalam kata pengantar ini para pengarangnya, Karl Marx dan Frederick Engels megatakan bahwa program dari Manifesto Komunis "dalam beberapa bagiannya telah menjadi usang" dan mereka melanjutkan dengan mengatakan:
"Satu hal khususnya telah dibuktikan oleh Komune, yakni, bahwa 'kelas buruh tidak dapat begitu saja merebut mesin negara yang sudah jadi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuannya sendiri'É.'"(2)
Para pengarangnya mengambil kata-kata tanda kutip tunggal itu dalam bagian-karangan dari buku Marx, Perang Dalam Negeri di Perancis.
Jadi, Marx dan Engels menganggap satu pelajaran prinsipil dan fundamental dari Komune Paris sebagai sesuatu yang mempunyai arti penting luar biasa sehingga mereka mengajukannya sebagai suatu koreksi substansial dalam Manifesto Komunis.
Adalah sangat karakteristik, justru koreksi substansial inilah yang telah didistorsikan oleh kaum oportunis, dan makna dari koreksi itu barang kali tidak diketahui sembilan per sepuluh, jika tidak sembilan puluh sembilan per seratus dari para pembaca Manifesto Komunis. Kita akan membahas pendistorsian ini lebih lengkap lagi kemudian, dalam bab yang diajukan khusus untuk soal-soal pendistorsian. Di sini sudah cukuplah untuk mencatat bahwa "interpretasi" vulgar yang berlaku sekarang ini mengenai pernyataan tersohor dari Marx yang baru saja dikutip tadi ialah bahwa di sini Marx membenarkan dan menekankan ide tentang perkembangan perlahan-lahan berlawanan dengan perampasan kekuasaan dan seterusnya.
Pada kenyataannya, apa yang terjadi justru sama sekali sebaliknya. Ide Marx adalah bahwa kelas buruh harus menghancurkan, membinasakan "mesin negara yang sudah jadi" dan tidak membatasi diri pada hanya merebutnya saja.
Pada tanggal 12 April 1871, yaitu tepat pada waktu Komune, Marx menulis kepada Kugelmann:
"Jika engkau melihat pada bab terakhir dari karangan saya Brumaire Ke-18, engkau akan mendapati bahwa mengenai usaha selanjutnya dari Revolusi Perancis, saya menyatakan: bukanlah, sebagaimana telah terjadi sebelumnya, memindahkan mesin birokrasi-militer dari satu tangan ke tangan yang lain, melainkan menghancurkannya" (huruf miring dari Marx --aslinya adalah zerbrechen), "dan justru inilah syarat pendahuluan bagi setiap revolusi Rakyat yang sejati di benua Eropa. Dan inilah apa yang diusahan oleh kawan-kawan kita anggota Partai yang heroik di Paris". (Neue Zeit, th. XX.I, 1901-2, halaman 700)(3) . (Surat-surat Marx kepada Kugelmann, telah terbit dalam bahasa Rusia tidak kurang dari dua edisi, satu di antaranya saya yang menyusun dan memberi kata pengantarnya)(4)
Kata-kata, "menghancurkan mesin birokratis-militer", dengan singkat menyatakan pelajaran prinsipil Marxisme mengenai tugas-tugas proletariat selama suatu revolusi dalam hubungannya dengan negara. Dan justru pelajaran inilah yang bukan saja dilupakan sama sekali, tetapi secara positif didistorsikan oleh "interpretasi" yang sekarang berkuasa tentang Marxisme, penyimpangan ala Kautsky!
Adapun mengenai referensi Marx kepada Brumaire Ke-18, kami telah mengutip bagian-karangan secara penuh di atas.
Sangatlah menarik perhatian untuk mencatat, teristimewa, dua hal dalam argumentasi Marx yang dikutip di atas. Pertama, ia membatasi kesimpulannya pada benua Eropa. Ini dapat dipahami dalam tahun 1871, ketika Inggris masih berperanan sebagai model dari suatu negeri kapitalis murni, tetapi tanpa klik militeris dan, sampai derajat yang cukup lumayan, tanpa birokrasi. Maka itu, Marx mengecualikan Inggris, dimana suatu revolusi, bahkan suatu revolusi Rakyatpun, tampaknya mungkin ketika itu, dan memang mungkin, tanpa syarat pendahuluan berupa penghancuran "mesin negara yang sudah jadi".
Kini, dalam tahun 1917, dalam zaman perang imperialis besar pertama, kualifikasi yang dibuat oleh Marx ini sudah tidak valid lagi. Baik Inggris maupun Amerika, wakil-wakil terbesar dan terakhir--di seluruh dunia--dari "kemerdekaan" Anglo-Saxon, dalam artian bahwa mereka tidak memiliki klik-klik militeris dan birokrasi, sekarang ini telah sepenuhnya tenggelam ke dalam genangan rawa Eropa yang berdarah dan kotor berupa lembaga-lembaga birokratis-militer yang menunjukkan segala sesuatu pada diri mereka sendiri dan menginjak-injak ludes segala sesuatu. Dewasa ini, di Inggris dan Amerikapun "syarat pendahuluan bagi setiap revolusi Rakyat yang sejati" adalah pembinasaan, penghancuran "mesin negara yang sudah jadi" (disempurnakan di negeri-negeri tersebut, antara tahun 1914 dan 1917, sampai pada taraf "Eropa", taraf imperialis yang general).
Kedua, perhatian khusus hendaknya diberikan pada pendapat yang luar biasa mendalam dari Marx bahwa penghancuran mesin negara yang birokratis-militer adalah "syarat pendahuluan bagi setiap revolusi Rakyat yang sejati". Ide tentang revolusi "Rakyat" ini tampaknya janggal bahwa ia berasal dari Marx, sehingga kaum Plekanovis dan kaum Menshevik di Rusia, mereka yang menjadi penganut Struve yang menghendaki agar dianggap sebagai Marxis, mungkin sekali memaklumkan bahwa pernyataan semacam itu adalah suatu "kekhilafan dalam hal menulis" yang dilakukan Marx. Mereka itu mereduksi Marxisme sampai pada derajat berupa pendistorsian liberal celaka bahwa tak ada suatu apapun lagi yang ada bagi mereka di luar antitesis antara revolusi borjuis dengan revolusi proletar --dan bahkan anti tesis inipun mereka tafsirkan secara amat sangat tak bernyawa.
Apabila kita mengambil revolusi-revolusi abad ke-20 sebagai contoh kita akan, tentu saja, harus menerima bahwa revolusi Portugal dan revolusi Turki itu kedua-duanya adalah revolusi borjuis. Tak ada satupun diantaranya adalah suatu revolusi "Rakyat", oleh karena dalam kedua revolusi itu massa rakyat, mayoritas sangat besar, tidak tampil aktif, berdiri sendiri, dengan tuntutan-tuntutan ekonomi dan politiknya sendiri sampai pada sesuatu ukuran yang patut diperhatikan. Sebaliknya, meskipun revolusi borjuis Rusia tahun 1905-07(5) tidak memperlihatkan sukses-sukses yang begitu "cemerlang" sebagaimana yang ada kalanya diperlihatkan oleh revolusi Portugal dan revolusi Turki, ia tak usah diragukan lagi adalah revolusi "Rakyat yang sejati", karena mayoritas massa Rakyat, golongan sosial yang paling rendah, terhimpit oleh penindasan dan penghisapan, bangkit secara independen dan meletakkan pada seluruh jalannya revolusi dan membubuhkan cap dari tuntutan mereka sendiri, dari daya upaya-daya upaya mereka untuk dengan caranya sendiri membangun suatu masyarakat baru guna mengganti masyarakat lama yang sedang dihancurkan.
Di Eropa, dalam tahun 1871, tidaklah ada satu negeripun di daratan di mana proletariat merupakan mayoritas dari Rakyat. Suatu revolusi "Rakyat", revolusi yang benar-benar mengikutsertakan mayoritas ke dalam arusnya, hanya dapat menjadi revolusi semacam itu jika ia mencakup proletariat maupun kaum tani. Dua kelas inilah yang merupakan "Rakyat". Dua kelas ini dipersatukan oleh kenyataan bahwa "mesin negara yang birokratis-militer" menindas, meremukkan, menghisap mereka. Menghancurkan mesin ini, membinasakannya--ini adalah sungguh-sungguh untuk kepentingan "Rakyat", kepentingan mayoritas, kepentingan kaum buruh dan bagian terbesar kaum tani, ini adalah "syarat pendahuluan" untuk persekutuan bebas antara kaum tani yang termiskin dengan kaum proletar, sedang tanpa persekutuan semacam itu demokrasi menjadi goyah dan transformasi sosialis tidak mungkin.
Seperti yang telah diketahui dengan baik, Komune Paris memang membuka jalan ke arah persekutuan semacam itu, meskipun ia tidak mencapai tujuannya disebabkan oleh sejumlah keadaan intern maupun ekstern.
Maka dari itu, dalam berbicara tentang "Revolusi Rakyat yang sejati", Marx, tanpa sedikitpun lupa akan ciri-ciri khusus borjuis kecil (ia berbicara panjang lebar tentang mereka dan sering), memperhitungkan dengan seksama perimbangan sebenarnya dari kekuatan-kekuatan kelas di dalam mayoritas dari negeri-negeri daratan Eropa dalam tahun 1871. Pada pihak lain, ia menegaskan bahwa "penghancuran" mesin negara diperlukan oleh kepentingan-kepentingan baik kaum buruh maupun kaum tani, bahwa ia mempersatukan mereka, bahwa ia menempatkan di hadapan mereka tugas bersama berupa menyingkirkan "parasit" dan menggantinya dengan sesuatu yang baru.
Tepatnya, dengan apa?

2. DENGAN APA MENGGANTI MESIN NEGARA YANG TELAH DIHANCURKAN ITU?
Dalam tahun 1847, dalam Manifesto Komunis, jawaban Marx kepada soal ini masih abstrak benar, atau lebih tepat, jawaban itu menunjukan tugas-tugas tetapi bukan jalan-jalan untuk menyelesaikannya. Jawaban yang diberikan dalam Manifesto Komunis ialah bahwa mesin ini harus diganti oleh "proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa", oleh "memenangkan perjuangan dari demokrasi".
Marx tidak hanyut oleh utopi-utopi; ia mengharapkan pengalaman dari gerakan massa untuk memberi jawaban kepada soal tentang bentuk-bentuk khusus apakah yang akan dipunyai oleh organisasi proletariat sebagai kelas yang berkuasa itu dan tentang cara yang bagaimanakah yang akan menggabungkan organisasi ini dengan "memenangkan perjuangan dari demokrasi".
Marx menunjukkan pengalaman Komune, biarpun begitu kecil, pada analisa yang paling teliti dalam Perang Dalam Negeri di Perancis. Marilah kita mengutip bagian yang paling penting dari karya ini.
Tercipta sejak Abad Pertengahan, dalam abad ke-19 berkembang "kekuasaan negara yang terpusat, dengan alat-alatnya yang ada-dimana saja; terdiri dari tentara tetap, polisi, birokrasi, kaum pendeta dan kaum hakim". Dengan perkembangan antagonisme-antagonisme kelas antara kapital dengan kerja, "kekuasaan Negara makin mempunyai watak kekuasaan nasional milik kapital untuk menindas kerja, berwatak kekuatan organisasi publik untuk adanya perbudakan sosial, berwatak mesin despotisme kelas. Sesudah setiap revolusi yang menandakan suatu fase progresif dalam perjuangan kelas, watak penindas yang sejati dari kekuasaan Negara makin jelas menonjol" Sesudah Revolusi 1848-49, kekuasaan negara menjadi "mesin perang nasional dari kapital menentang kerja". Kekaisaran Kedua memperkokohnya.
"Antitesis langsung dari kemaharajaan adalah Komune". Ia adalah "bentuk positif" dari "republik yang harus tidak saja akan menghapuskan bentuk monarkis dari hukum-kelas itu sendiri."
Apakah bentuk "positif" dari republik sosialis proletar ini? Negara apakah yang mulai dicipta olehnya?
"ÉKetetapan pertama dari Komune...adalah penghapusan tentara tetap, dan menggantikannya dengan rakyat bersenjata."
Tuntutan ini sekarang tercantum dalam program setiap partai mengklaim dirinya dengan sebutan Sosialis. Tetapi nilai sebenarnya dari program-program mereka itu paling baik ditunjukan oleh kelakuan kaum Sosialis-Revolusioner dan Menshevik kita, yang segera sesudah revolusi 27 Febuari, pada kenyataan sesungguhnya menolak menjalankan tuntutan itu!
"Komune terbentuk dari anggota-anggota dewan kota praja, yang dipilih berdasarkan hak pilih umum di berbagai pelosok distrik kota Paris. Mereka bertanggung jawab dan sewaktu-waktu dapat diganti. Mayoritas dari mereka dengan sendirinya terdiri dari kaum buruh, atau wakil-wakil yang diakui dari kelas buruh ...."Polisi, yang sampai sekarang menjadi alat Pemerintah, dengan seketika dicabut fungsi-fungsi politiknya, dan diubah menjadi organ yang bertanggung jawab dari komune dan yang sewaktu-waktu dapat diganti. ÉDemikian juga para pejabat semua badan lainnya dari administrasi pemerintahan...mulai dari para anggota Komune sampai ke bawah, pekerjaan umum harus dijalankan dengan upah yang sama dengan upah buruh. Semua hak istimewa uang tunjangan representasi bagi pembesar-pembesar tinggi Negara, lenyap bersama pembesar-pembesar tinggi itu sendiri....
"Sekali telah menghapuskan tentara tetap dan polisi, unsur-unsur dari kekuatan material dari Pemerintah lama itu, Komune dengan segera mengambil tindakan untuk menghancurkan alat penindas spiritual, yaitu 'kekuataan pendeta' É.
"Pejabat-pejabat pengadilan harus dilucuti kebebasannya yang tampaknya saja ada itu ...mereka harus dipilih, bertanggung jawab dan dapat ditarik kembali" (6)
Jadi, Komune tampaknya telah mengganti mesin negara yang telah dihancurkan itu dengan "hanya" demokrasi yang lebih penuh: penghapusan tentara tetap; semua pejabat harus dipilih dan harus tunduk pada penarikan kembali (recall, pent.). Tetapi kenyataannya ialah bahwa "hanya" tersebut berarti suatu penggantian besar-besaran dari lembaga-lembaga tertentu oleh lembaga-lembaga yang tergolong pada susunan tata tertib yang berbeda secara fundamental. Ini justru adalah suatu kejadian yang berjiwa "kuantitas diganti dengan kualitas"; demokrasi, dikemukakan sepenuh dan sekonsekuen apa yang dapat difahami telah diubah dari demokrasi borjuis menjadi demokrasi proletar; dari negara (=kekuatan penindas yang khusus dari kelas tertentu) menjadi sesuatu yang bukan lagi negara yang sebenarnya.
Adalah masih perlu untuk menindas borjuasi dan mematahkan perlawanannya. Ini teristimewa perlu untuk Komune; dan salah satu alasan kekalahannya ialah bahwa ia tidak melakukan hal tersebut dengan ketetapan-hati yang cukup. Tetapi alat penindas sekarang adalah mayoritas penduduk, dan bukannya minoritas, sebagaimana yang selamanya terjadi di bawah perbudakan, perhambaan dan perbudakan upah. Dan karena mayoritas dari Rakyat sendiri menindas para penindasnya, suatu "kekuatan khusus" untuk menindas tidak lagi diperlukan! Dalam artian ini negara mulai melenyap. Sebagai ganti dari lembaga-lembaga istimewa dari suatu minoritas yang berhak-istimewa (kaum pejabat yang berhak-istimewa, panglima-panglima tentara tetap), mayoritas itu sendiri dapat langsung menunaikan segala fungsi itu, dan makin banyak fungsi-fungsi kekuasaan negara berpindah ke tangan rakyat sebagai keseluruhan, makin berkuranglah keperluannya untuk adanya kekuasaan itu.
Dalam hubungan ini tindakan-tindakan berikut ini dari Komune yang ditekankan oleh Marx adalah teristimewa patut sekali diperhatikan: penghapusan semua tunjangan representasi, dan semua hak-hak moneter istimewa pada kaum pejabat, pengurangan gaji semua pegawai negara sampai pada tingkat "upah buruh". Ini menunjukkan lebih jelas lagi dari pada apapun lainnya tentang perubahan dari demokrasi borjuis ke demokrasi proletar, dari demokrasi kaum penindas ke demokrasi kelas-kelas tertindas, dari negara sebagai suatu "kekuatan khusus" untuk menindas dari suatu kelas tertentu ke penindasan atas kaum penindas oleh kekuatan umum dari mayoritas Rakyat --kaum buruh dan tani. Dan adalah justru dalam hal yang teristimewa menonjol ini, barangkali yang paling penting selama masih mencermati masalah mengenai negara, bahwa ajaran-ajaran Marx telah paling banyak dilupakan sama sekali! Dalam ulasan-ulasan populer, yang jumlahnya sungguh banyak sekali, hal tersebut tidak disebut. Sudah "menjadi kebiasaan" untuk berdiam diri tentang hal itu seolah-olah ia adalah suatu "kenaifan" yang sudah usang, tepat seperti kaum Nasrani, sesudah agama mereka diresmikan menjadi agama negara, "lupa" akan "kenaifan" dari ajaran Nasrani primitif yang mempunyai semangat revolusioner demokratis.
Penurunan gaji pejabat-pejabat tinggi negara tampaknya adalah "semata-mata" suatu tuntutan dari demokrasi yang naif dan primitif. Salah seorang "pendiri" oportunisme modern, bekas Sosial-Demokrat Eduard Bernstein, telah lebih dari sekali memanjakan diri dalam hal mengulang-ulangi ejekan borjuis vulgar terhadap demokrasi "primitif". Seperti semua oportunis, dan seperti kaum Kautskyis dewasa ini, ia gagal sama sekali untuk mengerti bahwa, pertama sekali, perpindahan dari kapitalisme ke Sosialisme adalah tidak mungkin tanpa suatu "gerak kembali" tertentu ke demokrasi "primitif" (karena bagaimana lagi mayoritas, dan kemudian seluruh penduduk tanpa kecuali, dapat melanjutkan langkah ke arah menduduki fungsi-fungsi negara?): dan kedua, bahwa "demokrasi primitif" yang beralaskan kapitalisme dan kebudayaan kapitalis tidaklah sama dengan demokrasi primitif dalam pra-sejarah atau zaman pra-kapitalis. Kebudayaan kapitalis telah menciptakan produksi besar-besaran, pabrik, kereta api, pos, telepon, dan seterusnya, dan atas dasar ini mayoritas besar dari fungsi-fungsi "kekuasaan negara" yang lama menjadi begitu disederhanakan dan dapat diturunkan menjadi pekerjaan-pekerjaan yang sangat sederhana berupa pendaftaran, penyimpanan, dan pengamatan, sehingga pekerjaan itu dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap orang yang melek huruf, dapat dengan sangat mudah dilakukan dengan "upah buruh" biasa, dan sehingga fungsi-fungsi itu dapat (dan harus) dibersihkan dari setiap bayangan hak-istimewa, dibersihkan dari setiap persamaan dengan "kebesaran resmi".
Semua pejabat, tanpa kecuali, dipilih dan tunduk pada penarikan kembali sewaktu-waktu, gaji mereka diturunkan sampai pada derajad "upah buruh" biasa --tindakan-tindakan demokrasi yang sederhana dan "sudah dengan sendirinya" ini, di samping dengan sempurna menyatukan kepentingan-kepentingan kaum buruh serta mayoritas tani, bersamaan dengan itu pula berperan sebagai sebuah jembatan yang menjulur dari kapitalisme ke Sosialisme. Tindakan-tindakan ini meliputi pembangunan kembali negara, pembangunan kembali masyarakat di bidang politik semata-mata; tetapi tentu saja, tindakan-tindakan tersebut hanya memperoleh arti serta maksudnya yang sepenuhnya bila dihubungkan dengan "perampasan atas kaum perampas" baik yang yang diselesaikan maupun yang sedang dipersiapkan, yaitu dengan pengubahan hak milik perseorangan kapitalis atas alat-alat produksi menjadi hak milik kemasyarakatan.
"Komune" tulis Marx, "telah menjadikan semboyan semua revolusi borjuis, yaitu pemerintahan yang murah, menjadi kenyataan dengan menghapuskan dua sumber pengeluaran yang terbesar --tentara tetap dan birokrasi Negara".(7)
Dari kalangan tani, seperti juga dari golongan-golongan lain borjuis kecil, hanya sejumput kecil tak berarti saja yang "naik ke puncak" ataupun "menjadi sesuatu" menurut pengertian borjuis, yaitu, menjadi orang yang berada, borjuis, maupun pejabat yang memegang kedudukan terjamin dan berhak-istimewa. Di setiap negara kapitalis di mana terdapat kaum tani (seperti halnya di kebanyakan negeri-negeri kapitalis) mayoritas melimpah kaum tani adalah tertindas oleh pemerintah dan merindukan penggulingannya, merindukan pemerintah yang murah. Ini hanya dapat dicapai oleh proletariat, dan dengan mencapai hal itu, bersamaan dengan itu proletariat mengambil langkah ke arah pembangunan kembali negara secara sosialis.

3. PENGHAPUSAN PARLEMENTERISME
"Komune" tulis Marx, "haruslah suatu badan pekerja, bukannya badan parlementer yang sekaligus eksekutif dan legislatif pada saat yang bersamaanÉ."
"...hak pilih umum bukanlah untuk sekali dalam tiga atau enam tahun menetapkan anggota yang mana dari kelas yang berkuasa harus mewakili dan menindas (ver-und zertreten) Rakyat di dalam parlemen, tetapi hak pilih umum haruskah mengabdi pada Rakyat, tersusun dalam komune-komune, seperti halnya dengan hak pilih perseorangan yang mengabdi setiap majikan yang mana saja dalam memilih buruh, mandor, dan pemegang buku untuk perusahaannya"(8)
Berkat masih berkuasanya sosial-chauvinisme dan oportunisme, kritik yang sangat bagus tentang parlementerisme ini, dibuat dalam tahun 1971, sekarang tergolong juga pada "kata-kata terlupakan" dari Marxisme. Para Menteri Kabinet dan para parlementarir profesional, penghianat-penghianat terhadap proletariat dan para Sosialis "praktis" dewasa ini, menyerahkan semua kritik tentang parlementerisme kepada kaum anarkis dan berdasarkan hal-hal yang sungguh sangat luar biasa beralasan ini, mereka mencela semua kritik tentang parlementerisme sebagai "anarkisme"!! Tidak menherankan bahwa proletariat dari negeri-negeri parlementer yang "maju" menjadi mual karena kaum "sosialis" semacam para pengikut Scheidemann, David, Legien, Sembat, Renaudel, Henderson, Vandervelde, Stauning, Branting, Bissolati, dan rekan-rekannya; telah makin sering memberikan simpatinya kepada anarko-sindikalisme biarpun adanya kenyataan bahwa yang tersebut belakangan tadi adalah saudara kembar dari oportunisme.
Tetapi bagi Marx, dialektika revolusioner tidak pernah menjadi permainan kata-kata yang kosong, tidak pernah menjadi barang mainan, seperti yang telah diperbuat oleh Plekhanov, Kautsky, dll. Marx tahu bagaimana harus memisahkan diri dengan tidak mengenal ampun dengan anarkisme karena ketidakmampuan anarkisme untuk menggunakan parlementerisme borjuis biarpun hanya "kandang babi"nya saja, teristimewa di waktu situasinya jelas tidak revolusioner; tetapi bersamaan dengan itu Marx tahu bagaimana harus menundukkan parlementerisme pada kritik revolusioner-proletar yang sejati.
Untuk sekali dalam setiap beberapa tahun menetapkan anggota yang mana dari kelas yang berkuasa yang harus menindas dan menghantam Rakyat melalui parlemen --inilah esensi sebenarnya dari parlementerisme borjuis, tidak saja di monarki-monarki parlementer-konstitusional tetapi juga di kebanyakan republik-republik demokratis.
Tetapi jika kita membahas masalah tentang negara, dan apabila kita memandang parlementerisme sebagai salah satu lembaga negara, dari titik pandangan tugas-tugas proletariat dalam bidang ini, apakah jalan keluar bagi parlementerisme? Bagaimana ia dapat tidak dibutuhkan?
Berkali-kali kita harus mengulangi; pelajaran-pelajaran Marx berdasar pada studi tentang Komune telah begitu dilupakan sama sekali sehingga "Sosial-Demokrat" dewasa ini (baca: penghianat terhadap Sosialisme dewasa ini) benar-benar tidak dapat memahami setiap kritik tentang parlementerisme kecuali sebagai kritik anarkis atau reaksioner. Jalan keluar bagi parlementerisme, tentu saja bukanlah penghapusan lembaga-lembaga perwakilan dan prinsip pemilihan, tetapi hal mengubah lembaga-lembaga perwakilan dari warung obrolan menjadi badan-badan "yang bekerja". "Komune haruslah suatu badan pekerja, bukannya badan parlementer, yang sekaligus eksekutif dan legislatif.
"Suatu badan pekerja bukan badan parlemen" -- ini merupakan tembakan langsung yang tepat mengenai parlementarir dan "anjing-anjing piaraan" parlementer dari Sosial-Demokrasi dewasa ini! Cobalah tinjau setiap negeri parlementer yang mana saja dari Amerika sampai Swiss, dari Perancis sampai Inggris, Norwegia dan seterusnya --di negeri-negeri tersebut urusan sebenarnya dari "negara" dilakukan di belakang layar dan dikerjakan oleh departemen-departemen kementrian dan Staff-staff Umum. Parlemen itu sendiri dibiarkan mengobrol dengan maksud khusus untuk menipu "Rakyat biasa". Ini begitu benarnya sehingga di republik Rusia pun suatu republik borjuis-demokratis, segala dosa dari parlementerisme ini dengan segera tersingkap, bahkan sebelum ia berhasil mendirikan suatu parlemen yang sebenarnya. Pahlawan-pahlawan dari filistinisme yang busuk itu, orang-orang semacam para pengikut Skobelev dan Tsereteli, Cernov dan Avksentyev, bahkan telah berhasil mencemarkan Soviet-Soviet menurut contoh parlementerisme borjuis yang paling memuakkan dan mengubahnya menjadi warung-warung obrolan belaka. Di dalam Soviet-Soviet, Tuan-tuan para Menteri "Sosialis" membohongi orang-orang udik yang mudah percaya itu dengan kata-kata bualan dan resolusi-resolusi. Di dalam pemerintah sendiri berlangsunglah terus-menerus quadrille(9) agar supaya pada satu pihak sebanyak mungkin orang-orang Sosialis-Revolusioner dan Menshevik satu demi satu memperoleh "kue"nya, yaitu kedudukan yang menguntungkan dan terhormat dan supaya pada pihak lain "perhatian Rakyat" dapat terus dipelihara. Sementara itu, tempat mereka "mengerjakan" urusan "negara" adalah di dalam kementrian-kementian dan staff-staff.
Dyelo Naroda (10), organ partai "Sosialis-Revolusioner" yang sedang berkuasa, belum lama ini mengakui dalam sebuah tajuk rencana, dengan keterusterangan yang tiada bandingnya dari orang-orang dari "kalangan baik" di mana "semua" melakukan pelacuran politik, bahwa bahkan di dalam kementerian-kementerian yang dipimpin oleh kaum "sosialis" (perhatikan tanda kutipnya!), seluruh aparat birokrasi pada hakekatnya tetap seperti semula, bekerja menurut cara lama dan dengan sangat "bebas" menyabot usaha-usaha revolusioner!. Dan seandainya tidak ada pengakuan inipun, bukankah sejarah yang nyata dari ikut sertanya kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Menshevik dalam pemerintah telah membuktikan hal ini?. Yang khas di sini hanyalah bahwa tuan-tuan yang semacam Tuan Cernov, Tuan Rosanov, Tuan Zenzinov, dan redaktur-redaktur Dyelo Naroda lainnya yang duduk bersama dengan kaum Kadet di dalam kementerian-kementrian, sudah begitu kehilangan rasa malunya sehingga tanpa malu-malu dan tidak menjadi merah mukanya, di depan umum mereka seperti menceritakan sesuatu yang remeh bercerita bahwa di dalam kementrian-kementrian "mereka" semuanya tetap sebagaimana sedia kala!! Kata-kata demokratis revolusioner untuk mengelabui orang-orang sebangsa si dungu udik dan langgam main ulur kekasenliran yang birokratis untuk "memuaskan hati" kaum kapitalis --itulah hakekat koalisi yang "jujur".
Komune mengganti parlementerisme yang dapat disuap dan busuk dalam masyarakat borjuis dengan lembaga-lembaga di mana kebebasan berpendapat dan berdiskusi tidak merosot menjadi penipuan, sebab anggota-anggota parlemen harus bekerja sendiri, menjalankan sendiri undang-undang mereka, memeriksa sendiri apa hasilnya dan bertanggung jawab dalam kehidupan dan bertanggung jawab langsung kepada pemilih-pemilihnya. Lembaga-lembaga perwakilan tetap ada, tetapi di sini tidak ada parlementerisme sebagai sistem yang khusus, sebagai pembagian kerja antara legislatif dan eksekutif, sebagai kedudukan berhak istimewa bagi anggota-anggotanya. Tanpa lembaga-lembaga perwakilan kita tidak dapat membayangkan demokrasi, bahkan juga demokrasi proletar, tetapi kita dapat dan harus membayangkan demokrasi tanpa parlementerisme jika memang kritik terhadap masyarakat borjuis bagi kita bukan kata-kata kosong, jika keinginan untuk menggulingkan kekuasaan borjuasi adalah keinginan kita yang sungguh-sungguh dan tulus, dan bukan semboyan "pemilihan" untuk memancing suara kaum buruh seperti halnya kaum Menshevik dan kaum Sosialis-Revolusioner, seperti halnya orang-orang semacam Scheidelmann dan Legien, semacam Sembat dan Vandervelde.
Sangatlah instruktif bahwa, ketika berbicara tentang fungsi-fungsi pejabat itu yang diperlukan baik oleh Komune maupun oleh demokrasi proletar, Marx menyamakan mereka dengan pegawai-pegawai dari "setiap majikan lainnya", yaitu dengan perusahaan kapitalis biasa beserta "buruh, mandor, pemegang buku"nya.
Pada diri Marx sedikitpun tidak ada utopisme dalam arti bahwa ia mengada-ada, mengkhayalkan masyarakat "baru". Tidak. Marx mempelajari kelahiran masyarakat baru dari yang lama, bentuk-bentuk peralihan dari yang lama ke yang baru sebagai proses historis-alamiah. Ia mengambil pengalaman praktis gerakan massa proletar dan berusaha menarik pelajaran-pelajaran praktis darinya. Ia "belajar" dari Komune, seperti semua pemikir revolusioner yang besar tidak takut belajar dari pengalaman gerakan-gerakan besar kelas-kelas tertindas, tidak pernah memberikan kepada gerakan itu "khotbah tentang moral" yang bersifat menggurui (seperti khotbah Plekhanov: "Seharusnya mereka tidak usah mengangkat senjata", atau khotbah Tsereteli: "suatu kelas harus membatasi diri").
Menghapuskan birokrasi seketika, di mana-mana dan sampai ke akar-akarnya, adalah tidaklah mungkin. Itu utopi. Tetapi menghancurkan seketika mesin birokrasi lama dan segera mulai membangun mesin yang baru, yang memungkinkan dihapuskannya secara berangsur-angsur segala birokrasi --ini bukan utopi, ini pengalaman Komune, ini tugas langsung dan terdekat kaum proletar revolusioner.
Kapitalisme menyederhanakan fungsi-fungsi pemerintahan "negara", memungkinkan dicampakkannya "komandoisme" dan menyederhanakan seluruh persoalan menjadi pengorganisasian kaum proletar (sebagai kelas yang berkuasa) yang akan mengupah "buruh, mandor dan pemegang buku" atas nama seluruh masyarakat.
Kita bukan kaum utopis. Kita tidak "mengkhayalkan" kemungkinan seketika dapat tanpa pemerintahan apapun, tanpa ketundukan apapun; khayalan anarkis ini yang didasarkan pada ketiadaan pengertian akan tugas-tugas diktatur proletariat, secara fundamental asing bagi Marxisme dan pada kenyataannya hanya membantu menunda revolusi sosialis sampai orang-orang menjadi lain. Tidak, kita menghendaki revolusi sosialis dengan orang-orang sebagaimana adanya sekarang, yaitu orang-orang yang tidak dapat tanpa ketundukan, tanpa kontrol, tanpa "mandor dan pemegang buku".
Tetapi ketundukan itu harus kepada pelopor bersenjata dari seluruh kaum terhisap dan kaum pekerja --kepada proletariat. "Komandoisme" yang khas dari pejabat-pejabat negara bisa dan harus seketika, segera, mulai diganti dengan fungsi-fungsi yang sederhana dari "mandor dan pemegang buku", fungsi-fungsi yang sepenuhnya sesuai dengan tingkat perkembangan warga kota pada umumnya dan sepenuhnya dapat dilaksanakan dengan upah yang sama dengan "upah buruh".
Kita sendiri, kaum buruh, akan mengorganisasi produksi secara besar-besaran atas dasar yang sudah diciptakan oleh kapitalisme, dengan bersandar pada pengalaman buruh sendiri, dengan menegakkan disiplin yang paling keras, disiplin baja, yang didukung oleh kekuasaan negara dari kaum buruh bersenjata; kita akan menurunkan pejabat-pejabat negara untuk memainkan peranan sebagai pelaksana biasa dari instruksi-instruksi kita, sebagai "mandor dan pemegang buku" yang bertanggung jawab, dapat diganti dan dibayar dengan gaji yang tidak besar (tentu saja dengan bantuan teknisi-teknisi dari segala mutu, jenis dan tingkat) --inilah tugas kita, tugas proletar, dari sinilah kita dapat dan harus mulai pada waktu melaksanakan revolusi proletar. Permulaan yang demikian itu, diatas dasar produksi secara besar-besaran, dengan sendirinya akan menuju "melenyapnya" berangsur-angsur segala birokrasi, menuju pembentukan berangsur-angsur tata tertib-tata tertib yang tanpa tanda kutip, tata tertib yang tidak ada persamaannya dengan perbudakan upah--tata tertib di mana fungsi-fungsi pengawasan dan memberi pertanggung jawaban yang semakin sederhana akan dilaksanakan oleh semua secara bergilir, kemudian akan menjadi kebiasaan dan akhirnya tidak lagi menjadi fungsi-fungsi khusus dari orang-orang lapisan khusus.
Seorang sosial-demokrat Jerman yang cerdas-jenaka, pada tahun-tahun 70-an abad yang lalu menamakan jawatan pos sebagai contoh perekonomian sosialis; ini sangat tepat. Pada saat ini jawatan pos menggunakan perusahaan yang diorganisasi menurut tipe monopoli kapitalis negara. Imperialisme secara berangsur-angsur mengubah semua trust menjadi organisasi yang serupa tipenya. Di sini, di atas kaum pekerja "biasa" yang dibebani pekerjaan berat dan menderita kelaparan, berdiri birokrasi borjuis yang itu-itu juga. Tetapi di sini mekanisme dari pengurusan kemasyarakatan sudah jadi. Dengan menggulingkan kaum kapitalis, mematahkan perlawanan kaum penghisap itu dengan tangan besi kaum buruh bersenjata, menghancurkan mesin birokrasi negara modern--maka kita akan mendapatkan mekanisme yang diperlengkapi dengan teknik tinggi dan bebas dari "parasit", yang sepenuhnya dapat digerakkan oleh kaum buruh sendiri yang bersatu, dengan mengupah teknisi, mandor dan pemegang buku, dengan membayar pekerjaan mereka semua, seperti membayar pekerjaan semua pejabat "negara" pada umumnya, dengan upah buruh. Inilah tugas kongkrit, tugas praktis, yang segera bisa dilaksanakan terhadap semua trust, tugas yang akan membebaskan kaum pekerja dari penghisapan dan yang akan memperhitungkan pengalaman yang secara praktis sudah dimulai oleh Komune (terutama di bidang pembangunan negara).
Seluruh ekonomi nasional yang diorganisasi seperti jawatan pos, dengan maksud supaya teknisi, mandor, pemegang buku, seperti juga semua pegawai menerima gaji tidak lebih tinggi dari "upah buruh", di bawah kontrol dan pimpinan proletariat bersenjata --inilah tujuan kita yang terdekat. Negara yang demikianlah, yang berdasarkan ekonomi yang demikian itulah yang kita perlukan. Inilah yang akan dapat menghapuskan parlementerisme dan mempertahankan lembaga-lembaga perwakilan, inilah yang akan membebaskan kelas-kelas pekerja dari pelacuran lembaga-lembaga tersebut oleh borjuis.

4. ORGANISASI KESATUAN NASIONAL
É"Dalam sketsa kasar tentang organisasi nasional, yang tidak sempat dikembangkan lebih lanjut oleh Komune, dinyatakan dengan sangat tegas bahwa Komune seharusnya menjadi bentuk politik dari kampung yang paling kecil sekalipun"..."Dari komune-komunelah seharusnya dipilih "Delegasi Nasional" di Paris.
"...Fungsi-fungsi yang tidak banyak jumlahnya tetapi sangat penting, yang masih akan ada bagi pemerintah pusat, tidak seharusnya dihapuskan, sebagaimana telah dengan sengaja telah disalahmaksudkan, tetapi seharusnya diserahkan kepada pejabat-pejabat komune, artinya kepada pejabat-pejabat yang bertanggung jawab penuh"É.
" ÉKesatuan bangsa tidak seharusnya dihancurkan, tetapi sebaiknya harus diorganisasi dengan sistim komune. Kesatuan bangsa harus menjadi kenyataan dengan jalan menghancurkan kekuasaan negara, yang mengaku dirinya sebagai penjelmaan kesatuan itu, tetapi yang ingin bebas dari bangsa, dan yang berdiri di atasnya. Dalam kenyataannya kekuasaan negara itu hanyalah merupakan bonggol parasit di tubuh bangsa. Tugasnya ialah mengamputasi organ-organ penindasan dari kekuasaan pemerintah lama, mencabut fungsi-fungsi sah dari kekuasaan yang merasa berhak berdiri di atas masyarakat, dan menyerahkannya kepada abdi-abdi masyarakat yang bertanggung jawab. (11)
Sampai sejauh mana kaum oportunis Sosial-Demokrasi masa kini gagal memahami --barang kali akan lebih tepat buat dikatakan, menolak memahami-- argumen Marx tersebut paling jelas ditunjukan oleh buku yang terkenal secara herostratis (12) yaitu buku dari si penghianat Bernstein Premis-premis Sosialisme Dan Tugas-Tugas Sosial-Demokrasi. Justru mengenai kata-kata Marx tersebut di atas Bernstein menulis bahwa program itu "Émenurut isi politiknya, di dalam semua cirinya yang hakiki menunjukkan persamaan yang sebesar-besarnya dengan federalisme Proudhon...Kendatipun segala perbedaan lainnya antara Marx dengan "borjuis kecil" Proudhon (Bernstein menempatkan kata "borjuis kecil" di antara tanda kutip, untuk membuatnya tampak ironis) tetapi dalam hal-hal ini jalan fikiran mereka dekat sedekat-dekatnya". Tentu saja, Bernstein melanjutkan, arti penting daerah perkoataan bertambah besar, tetapi "tampaknya meragukan bagi saya bahwa tugas pertama demokrasi akan berupa penghapusan (Auflösung) negara-negara modern dan perubahan total (Umwandlung) organisasi negara-negara modern itu sebagaimana dibayangkan oleh Marx dan Proudhon (pembentukan Dewan Nasional dari utusan-utusan dewan-dewan propinsi atau distrik, yang pada gilirannya akan terdiri dari utusan-utusan komune-komune) sehingga seluruh bentuk perwakilan nasional yang terdahulu akan lenyap sama sekali" (Bernstein, Premis-Premis, halaman 134 dan 136, edisi Jerman, 1899).
Mencampur-aduk pandangan-pandangan Marx mengenai "penghancuran kekuasaan negara, parasit yang tak diinginkan," dengan federalisme Proudhon adalah sepenuh-penuhnya megerikan dan keterlaluan! Tetapi ini bukanlah kebetulan, sebab tidak pernah terpikir oleh si oportunis, bahwa di sini Marx sama sekali tidak berbicara mengenai federalisme sebagai lawan sentralisme, melainkan tentang pemusnahan mesin negara lama, mesin negara borjuis yang ada di semua negeri borjuis.
Satu-satunya hal yang terpikir oleh si oportunis hanyalah apa yang ia lihat di sekitarnya, di sebuah lingkungan filistinisme borjuis kecil dan kemandekan "kaum reformis", yaitu hanya "daerah perkotaan"! Si oportunis bahkan jauh dari kemungkinan memikirkan revolusi proletar.
Ini konyol. Tetapi satu hal yang dapat dicatat adalah tak ada seorangpun berdebat dengan Bernstein dalam hal ini. Banyak yang telah membantah Bernstein, terutama Plekhanov dalam literatur Rusia, Kautsky dalam literatur Eropa, tetapi keduanya tidak berbicara tentang distorsi terhadap Marx ini oleh Bernstein.
Si oportunis telah begitu banyak melupakan hal bagaimana berpikir secara revolusioner dan berpegang pada revolusi yang dicapnya sebagai "federalisme" pada Marx, orang yang dicampuradukkannya dengan pendiri anarkisme, Proudhon. Sedang Kautsky dan Plekhanov, yang mengklaim diri sebagai Marxis-marxis ortodoks dan pembela-pembela ajaran Marxisme revolusioner, bungkam tentang hal ini! Di sinilah letak salah satu akar pemvulgaran yang ekstrim terhadap pandangan-pandangan mengenai perbedaan antara Marxisme dan anarkisme, yang khas baik bagi kaum Kautskyis maupun bagi kaum oportunis, dan ini masih akan kita bicarakan lagi.
Sedikitpun tak ada jejak mengenai federalisme dalam argumen-argumen Marx tentang pengalaman Komune tersebut di atas. Marx sependapat dengan Proudhon justru dalam hal yang tidak dilihat oleh si oportunis Bernstein. Marx berbeda pendapat dengan Proudhon justru dalam hal yang oleh Bernstein dilihat sebagai persamaan mereka.
Marx sependapat dengan Proudhon dalam hal bahwa mereka berdua berpendirian untuk "menghancurkan" mesin negara modern. Baik kaum oportunis maupun kaum Kautskyis tidak mau melihat persamaan Marxisme dengan anarkisme ini (baik Proudhon maupun dengan Bakunin), sebab dalam hal ini mereka telah meninggalkan Marxisme.
Marx berbeda pendapat baik dengan Proudhon maupun Bakunin justru mengenai masalah federalisme (apalagi masalah diktatur proletariat). Secara prinsip federalisme berasal dari pandangan-pandangan borjuis kecil anarkisme. Marx adalah seorang sentralis. Dan dalam argumen-argumennya yang dikutip di atas, sedikitpun tidak ada penyimpangan dari sentralisme. Hanya orang-orang yang berlumur "kepercayaan secara takhayul" filistin terhadap negara dapat menganggap penghancuran mesin borjuis sebagai penghancuran sentralisme!
Tetapi sekarang, apabila proletariat dan kaum tani termiskin mengambil kekuasaan negara dalam tangannya, dengan bebas sepenuhnya mengorganisasi diri dalam komune-komune dan mempersatukan aksi semua komune untuk menggempur kapital, untuk menyerahkan jalan-jalan kereta api, pabrik-pabrik, tanah milik perseorangan dan milik perseorangan lainnya kepada seluruh bangsa, kepada seluruh masyarakat--bukankah itu sentralisme? Bukankah itu akan merupakan sentralisme demokratis yang paling konsekuen? Dan lagi sentralisme proletar?
Betul-betul tak terpikir oleh Bernstein bahwa sentralisme sukarela, penyatuan sukarela komune-komune menjadi bangsa, peleburan secara sukarela komune-komune proletar dalam usaha menghancurkan kekuasaan borjuis dan mesin negara borjuis adalah mungkin. Seperti semua filistin, Bernstein menggambarkan sentralisme sebagai sesuatu yang hanya dari atas, yang dapat dipaksakan dan dipertahankan hanya oleh birokrasi dan klik militer.
Seperti sudah tahu sebelumnya akan kemungkinan diputarbaliknya pandangan-pandangannya, Marx dengan tegas menandaskan bahwa tuduhan-tuduhan tentang Komune yang seolah-olah hendak menghancurkan kesatuan bangsa, menghapuskan kekuasaan pusat adalah pemalsuan yang disengaja. Marx sengaja menggunakan kata-kata "persatuan bangsa adalah ...untuk diorganisasikan", untuk mempertentangkan sentralisme proletar yang demokratis dan sadar dengan sentralisme borjuis yang militeris dan birokratis.
Tetapi tidak ada orang yang begitu tuli selain dari pada orang yang tidak mau mendengar. Dan kaum oportunis sosial-demokrasi masa kini justru tidak mau mendengar tentang penghancuran kekuasaan negara, tentang amputsi terhadap parasit yang tidak diinginkan.

5. PENGHANCURAN NEGARA PARASIT
Kami telah mengutip kata-kata Marx yang bersangkutan dengan masalah ini dan kini harus melengkapinya.
"Nasib yang sudah biasa dari ciptaan sejarah yang baru," tulis Marx, "ialah bahwa ciptaan itu dianggap sebagai timbalan dari bentuk-bentuk kehidupan sosial yang lama dan bahkan yang sudah kuno, yang mempunyai sedikit persamaan dengan lembaga-lembaga baru. Demikianlah juga Komune baru ini, yang mematahkan (bricht--menghancurkan) kekuasaan negara modern, telah dianggap sebagai penghidupan kembali komune-komune Zaman TengahÉsebagai perserikatan negara-negara kecil (Montesquieu dan kaum Girondis)(13) Ésebagai bentuk yang dibesar-besarkan dari perjuangan dahulu kala melawan sentralisasi yang berlebih-lebihan"É
É"Sistem komune akan mengembalikan kepada badan sosial itu semua kekuatan yang sampai pada saat ini ditelan oleh bonggol parasit 'negara', yang hidup atas tanggungan masyarakat dan yang merintangi geraknya yang bebas. Dengan satu tindakan ini saja ia akan mendorong maju kelahiran kembali Perancis"É
É"Sistim komune akan menyebabkan kaum produsen desa berada di bawah pimpinan spiritual kota-kota utama dari setiap daerah dan di sana mereka akan mendapatkan pada diri kaum buruh kota wakil-wakil yang wajar dari kepentingan-kepentingan mereka. Adanya komune itu sendiri, sebagai sesuatu yang sudah dengan sendirinya, akan mendatangkan otonomi setempat, tetapi bukan lagi sebagai lawan kekuasaan negara yang kini sudah menjadi tidak diperlukan lagi".
"Penghancuran kekuasaan negara" yang merupakan "bonggol parasit"; "pemotongan"nya, "pemusnahan"nya; "kekuasaan negara kini sudah menjadi tidak diperlukan lagi"--inilah kata-kata Marx yang digunakan dalam membicarakan negara ketika menilai dan menganalisa pengalaman Komune.
Semua ini ditulis hampir setengah abad yang lalu, dan sekarang orang harus seperti melakukan penggalian supaya Marxisme yang tidak diputarbalik dikenal massa luas. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari peninjauan mengenai revolusi besar terakhir yang dialami Marx,dilupakan justru pada saat dimana masa untuk revolusi-revolusi besar proletar berikutnya telah tiba.
É"Bermacam-macamnya tafsiran yang ditimbulkan oleh Komune dan bermacam-macamnya kepentingan yang mendapatkan pernyataannya di dalam Komune membuktikan bahwa ia adalah bentuk politik yang sangat luwes, sedang semua bentuk pemerintah yang terdahulu pada hakekatnya bersifat menindas. Rahasianya yang sebenarnya ialah ini: secara hakiki ia adalah pemerintah kelas buruh,sebagai hasil perjuangan kelas yang berproduksi melawan kelas yang merampas, ia adalah bentuk politik yang pada akhirnya ditemukan di mana pembebasan kerja di bidang ekonomi dapat dilaksanakan"É
"Tanpa syarat terakhir ini sistim komune tidak akan mungkin, dan akan merupakan delusiÉ" (14)
Kaum utopis sibuk dengan "penemuan" bentuk-bentuk politik dimana pembangunan kembali masyarakat secara sosialis harus berlangsung. Kaum anarkis mengesampingkan masalah-masalah bentuk politik pada umumnya. Kaum oportunis dari sosial-demokrasi masa kini menerima bentuk-bentuk politik borjuis dari negara demokratis parlemen sebagai batas yang tak dapat dilewati; dan mereka menyembah "model" ini hingga dahi mereka kapalan dan menyatakan setiap keinginan untuk menghancurkan bentuk-bentuk ini sebagai anarkisme.
Marx menarik kesimpulan dari seluruh sejarah sosialisme dan perjuangan politik bahwa negara pasti akan lenyap, bahwa bentuk peralihan dari lenyapnya negara (peralihan dari negara ke bukan negara) adalah "proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa". Tetapi Marx tidak berusaha untuk menemukan bentuk-bentuk politik masa depan ini. Ia membatasi diri hanya dengan meninjau sejarah Perancis dengan seksama, menganalisanya dan menarik kesimpulan yang dilahirkan pada tahun 1831; masalahnya sedang mendekati penghancuran mesin negara borjuis.
Dan ketika gerakan revolusioner massa proletariat meletus, Marx mulai mempelajari bentuk-bentuk apa yang telah ditemukan oleh gerakan itu,walaupun gerakan itu gagal, walaupun berusia pendek dan mempunyai kelemahan yang mencolok mata.
Komune adalah bentuk yang "pada akhirnya ditemukan" oleh revolusi proletar, dimana pembebasan kerja di bidang ekonomi dapat berlangsung.
Komune adalah usaha pertama revolusi proletar untuk menghancurkan mesin negara borjuis dan merupakan bentuk politik yang "pada akhirnya ditemukan", yang dapat dan harus menggantikan mesin negara yang dihancurkan.
Dalam uraian selanjutnya akan kita lihat bahwa revolusi-revolusi Rusia pada tahun-tahun 1903 dan 1917, dalam keadaan yang berlainan dan di bawah syarat-syarat yang berbeda, meneruskan usaha Komune dan membenarkan analisa sejarah yang jenial dari Marx.


1 Plekanov (1856-1918), propagandis Marxis pertama di Rusia; pendiri organisasi Marxis pertama Rusia -yaitu kelompok Emancipation Labour, di Jenewa. Ia memerangi ide-ide Narodnism (termasuk terorisme) dan revisionisme dalam gerakan buruh, ia menulis sejumlah karya yang mempopulerkan pandangan dunia materialis. Bersama Lenin, Plekanov merupakan editor Iskra. Sayangnya, ia cenderung kepada konsep 'dua-tahap' milik kaum Menshevik yang kemudian ke dalamnya ia bergabung. Selama Perang Dunia Pertama Plekanov mengabaikan internasionalisme demi pendirian Sosial-chauvinis, dan akhirnya tahun 1917 ia menjadi lawan dari Revolusi Oktober. [back] 2 Karl Marx dan Frederick Engels, "Manifesto of the Communist Party" (Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, Vol. I, hal. 22) lihat catatan no. 20 [back]
3 K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, Volume II, halaman 420 [back]
4 Lihat V. I. Lenin, Collected Works, edisi bahasa Rusia ke-empat, volume XII, halaman 83-91. [back]
5 Revolusi 1905 bisa dikatakan sebagai pelopor atau pertanda dari dan juga pemanasan bagi Revolusi 1917. Revolusi 1905 menempatkan dengan jelas kelas proletar sebagai kekuatan pemimpin dalam perjuangan dan pendorong yang memungkinkan munculnya soviet-soviet, sebelum akhirnya revolusi ini dikalahkan. [back]
6 Lihat K. Marx, Civil War in France (Perang Dalam negeri di Perancis), (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, volume I, halaman 468-71). [back]
7 ibid, halaman 473 [back]
8 bagian karangan di atas dari karya Marx Perang dalam Negeri di Perancis dikutip oleh Lenin dari teks edisi Jerman. [back]
9 Quadrille -semacam dansa segi empat untuk empat pasang penari. [back]
10 Dyelo Naroda (Usaha Rakyat) harian S. R. (Sosialis Revolusioner) terbit di Petrograd dari bulan Maret 1917-Juni 1918, beberapa kali ganti nama. Surat kabar ini diterbitkan di Samara pada bulan Oktober1918 (terbit 3 nomor) dan di Moskow pada bulan Maret 1919 (terbit 10 nomor). Surat kabar ini dilarang terbit pada tahun itu juga karena kegiatannya yang kontra-revolusioner. [back]
11 K. Marx, Civil War in France (Perang Dalam negeri di Perancis), (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, volume I, halaman 472 [back]
12 Herostratos -seorang Yunani yang pada tahun 356 SM membakar kuil Diana di Ephesus, dengan maksud membuat namanya tenar dan abadi; herostratis: orang yang ambisius, yang mencari ketenaran dengan cara apa saja, sampai dengan cara kejahatan ataupun cara yang memalukan. [back]
13 Kaum Girondis -kelompok-kelompokan politik semasa revolusi borjuis Perancis pada babak terakhir abad ke-18. mereka terombang-ambing antra revolusi dengan kontra-revolusi dan mengadakan perjanjian dengan monarki. [back]
14 Dua kutipan di atas adalah dari K. Marx, Civil War in France (Perang Dalam negeri di Perancis), (K. Marx dan F. Engels, Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, volume I, halaman 471-74





LANJUTAN. PENJELASAN-PENJELASAN TAMBAHAN ENGELS

Marx memberikan dasar mengenai masalah arti penting pengalaman Komune. Engels berulang kali kembali ke tema yang sama dan ketika menjelaskan analisa serta kesimpulan-kesimpulan Marx, kadang-kadang ia menyoroti segi-segi lain dari persoalannya dengan begitu kuat dan gamblang sehingga perlu secara khusus membahas penjelasan-penjelasannya itu.

1. MASALAH PERUMAHAN
Dalam karyanya, Masalah Perumahan (1872), Engels telah memperhitungkan pengalaman komune, dan beberapa kali membahas tugas-tugas revolusi dalam hubungannya dengan negara. Adalah menarik untuk dicatat bahwa dalam tema kongkrit ini dengan jelas terungkap, di satu pihak, poin-poin persamaan antara negara proletar dengan negara sekarang --ciri-ciri yang memberi dasar untuk berbicara tentang negara, baik negara proletar maupun negara sekarang-- dan, di pihak lain, poin-poin perbedaan antara keduanya, atau transisi ke penghancuran negara.
"Bagaimana memecahkan masalah perumahan? Dalam masyarakat masa kini, sama sepenuhnya seperti setiap masalah sosial lainnya, masalah itu dipecahkan: dengan penyesuaian ekonomi berangsur-angsur atas permintaan dan penawaran, sebuah solusi yang selalu melahirkan kembali masalah itu juga, artinya, tidak memberi solusi apapun. Bagaimana revolusi sosial akan memecahkan masalah tersebut tidak hanya tergantung pada waktu dan tempat, tetapi bertalian juga dengan masalah-masalah yang sangat lebih menjangkau jauh, salah satu yang terpenting di antaranya adalah masalah penghapusan pertentangan antara kota dengan desa. Sebagaimana tugas kita bukan menciptakan sistem-sistem utopis untuk penyusunan masyarakat yang akan datang, maka sama sekali tak berguna membicarakan masalah tersebut. Tetapi satu hal sudah pasti: pada nyatanya sekarang di kota-kota besar sudah cukup gedung-gedung perumahan untuk dengan segara mengatasi kekurangan perumahan yang sesungguhnya, bilamana gedung-gedung ini digunakan secara rasional. Hal itu sudah tentu dapat terlaksana hanya dengan jalan menyita dari pemilik-pemiliknya yang sekarang dan menempatkan di rumah-rumah tersebut buruh-buruh yang tidak punya rumah atau buruh-buruh yang sekarang tinggal di rumah-rumah yang terlalu sesak. Dan segera setelah proletariat merebut kekuasaan politik, tindakan yang ditentukan oleh kepentingan umum semacam itu akan dapat dilaksanakan semudah penyitaan lainnya dan penghunian rumah-rumah oleh negara masa kini" (edisi bahasa Jerman, 1887, hlm. 22) (1)
Di sini tidak dibahas perubahan bentuk kekuasaan negara, melainkan hanya isi kegiatannya. Penyitaan dan penghunian rumah-rumah terjadi juga menurut perintah yang sekarang. Dari segi formal, negara proletar juga akan "memerintahkan" penghunian rumah-rumah dan penyitaan gedung-gedung. Tetapi jelas bahwa aparat eksekutif lama, birokrasi, yang bertalian dengan borjuasi, sama sekali tidak cocok untuk menjalankan aturan negara proletar.
"ÉHarus ditunjukkan bahwa 'penyitaan aktual' atas semua perkakas kerja, penyitaan seluruh industri oleh rakyat pekerja adalah lawan langsung dari 'kompensasi' Proudhonis.(2) Menurut yang terakhir ini buruh seorang-seorang menjadi pemilik tempat tinggal, bidang tanah petani, perkakas kerja; sedang menurut yang pertama rakyat pekerja tetap menjadi pemilik kolektif rumah-rumah, pabrik-pabrik dan perkakas kerja. Sekurang-kurangnya selama masa transisi, penggunaan rumah-rumah, pabrik-pabrik dan lain-lainnya itu oleh perorangan atau perkumpulan sulit diijinkan tanpa mengganti biayanya. Seperti juga penghapusan milik tanah bukan dimaksud untuk menghapuskan sewa tanah, melainkan menyerahkannya kepada masyarakat, walaupun dalam bentuk yang sudah dirubah. Maka itu penyitaan yang sebenarnya atas semua perkakas kerja oleh rakyat pekerja sama sekali tidak meniadakan dipertahankannya hubungan sewanya" (halaman 68)(3)
Kita akan memperbincangkan masalah yang disinggung dalam uraian di atas, yaitu tentang dasar-dasar ekonomi melenyapnya negara, dalam bab berikutnya. Engels menyatakan pendapatnya dengan sangat hati-hati ketika mengatakan bahwa negara proletar akan "sulit" membagikan rumah tanpa pembayaran, "sekurang-kurangnya selama masa transisi". Menyewakan rumah yang sudah menjadi milik seluruh rakyat kepada satu-satu keluarga mensyaratkan baik pemungutan uang sewa, pengawasan tertentu maupun satu atau lain patokan tertentu dalam pembagian rumah. Semua ini memerlukan bentuk negara tertentu, tetapi sama sekali tidak memerlukan aparat militer dan birokrasi yang khusus, beserta pejabat-pejabat yang mempunyai kedudukan khusus dengan hak istimewa. Sedangkan transisi ke keadaan di mana rumah-rumah akan bisa diberikan dengan cuma-cuma bertalian "melenyapnya" negara sepenuhnya.
Berbicara mengenai peralihan kaum Blanquis(4) ke pendirian fundamental Marxisme setelah Komune, dan di bawah pengaruh pengalamannya, Engels secara sambil lalu merumuskan pendirian tersebut sebagai berikut:
"ÉKeharusan aksi politik proletariat dan diktaturnya sebagai transisi ke penghapusan kelas-kelas dan bersamaan dengan itu juga penghapusan negaraÉ" (halaman, 55)(5)
Pecandu-pecandu kritik yang njlimet atau "pembasmi-pembasmi Marxisme" borjuis barangkali akan melihat kontradiksi antara pengakuan akan "penghapusan negara" ini dengan penolakan terhadap rumus itu sebagai rumus anarkis dalam bagian dari Anti Duhring yang dikutip di atas. Tidaklah mengherankan jika kaum oportunis mencap juga Engels ke dalam kaum "anarkis", karena sekarang makin meluas tuduhan dari pihak kaum sosialis-chauvinis bahwa kaum Internasionalis manganut anarkisme.
Marxisme selalu mengajarkan bahwa bersama dengan dihapuskannya kelas-kelas, dihapuskan juga negara. Bagian yang terkenal tentang "melenyapnya negara" dalam Anti Duhring menuduh kaum anarkis bahwa mereka itu tidak hanya menyetujui penghapusan negara, bahkan mengkhotbahkan seolah-olah negara dapat dihapuskan "dalam satu malam saja".
Mengingat fakta bahwa doktrin "Sosial-Demokratik" yang kini berdominasi sepenuhnya mendistorsikan hubungan Marxisme dengan anarkisme mengenai masalah penghapusan negara, maka sangat berguna mengingat kembali satu kontroversi di mana Marx dan Engels menentang kaum anarkis.

2. POLEMIK DENGAN KAUM ANARKIS
Kontroversi ini terjadi pada tahun 1873. Marx dan Engels menyumbang artikel-artikel yang menentang kaum Proudhonis, kaum "otonomis" atau kaum "anti-otoriteris" kepada buku tahunan Sosialis Italia dan baru pada tahun 1913 artikel-artikel tersebut dimuat dalam terjemahan bahasa Jerman dalam Neue Zeit (6)
"...Jika perjuangan politik kelas buruh mengambil bentuk-bentuk revolusioner," tulis Marx, memperolok kaum anarkis karena mereka menolak politik, "jika kaum buruh menegakkan diktatur revolusionernya sebagai pengganti diktatur borjuasi, maka mereka melakukan kejahatan yang mengerikan, yaitu menghina prinsip-prinsip, sebab untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka yang remeh temeh dan vulgar itu, untuk mematahkan perlawanan borjuasi, kaum buruh memberikan bentuk revolusioner dan sementara kepada negara, dan bukannya meletakkan senjata dan menghapuskan negaraÉ." (Neue Zeit, Volume XXXII, I, 1913-14, hlm. 40)
Hanya "penghapusan" negara macam ini sajalah yang ditentang oleh Marx ketika membantah kaum anarkis! Marx sama sekali tidak menentang bahwa negara akan lenyap bersamaan dengan lenyapnya kelas-kelas atau akan dihapuskan bersamaan dengan dihapuskannya kelas-kelas, tetapi menentang penolakan kaum buruh menggunakan senjata, menggunakan kekerasan yang terorganisasi, yaitu negara, yang harus mengabdi tujuan; "mematahkan perlawanan borjuasi".
Untuk menjaga agar arti sebenarnya dari perjuangannya melawan anarkisme tidak didistorsikan, Marx dengan sengaja menekankan "bentuk yang revolusioner dan sementara" dari negara yang diperlukan oleh proletariat. Proletariat memerlukan negara cuma untuk sementara waktu saja. Kita sama sekali tidak berselisih pendapat dengan kaum anarkis mengenai masalah penghapusan negara sebagai tujuan. Kita menegaskan bahwa untuk mencapai tujuan ini untuk sementara diperlukan penggunaan alat-alat, sarana dan metode-metode kekuasaan negara untuk melawan kaum penghisap, sebagaimana untuk menghapuskan kelas-kelas diperlukan diktatur sementara dari kelas tertindas. Marx memilih cara pengajuan soal yang paling tajam dan paling jelas untuk melawan kaum anarkis; setelah menggulingkan penindasan kaum kapitalis, haruskah kaum buruh "meletakkan senjata mereka," atau menggunakannya terhadap kaum kapitalis untuk mematahkan perlawanan mereka? Tetapi apakah penggunaan senjata secara sistematis oleh satu kelas terhadap kelas lainnya, jika bukan "bentuk sementara" dari negara?
Biarlah setiap Sosial-Demokrat menanyai dirinya sendiri; begitukah ia mengajukan masalah negara dalam polemik dengan kaum anarkis? Begitukah mayoritas luas partai-partai Sosialis yang resmi dari Internasionale II mengajukan masalah tersebut?
Engels menguraikan ide-ide yang sama dengan itu jauh lebih terperinci dan lebih populer. Pertama-tama ia mentertawakan kekusutan fikiran kaum Proudhonis, yang menyebut dirinya kaum "anti-otoriteris", yaitu menolak setiap otoritas, setiap ketundukan, setiap kekuasaan. Ambilah sebagai contoh sebuah pabrik, jalan kereta api, kapal di laut lepas, kata Engels --apakah tidak jelas bahwa tak satupun dari perusahaan-perusahaan teknik yang rumit yang berdasarkan penggunaan mesin-mesin dan kerja sama yang berencana dari banyak orang ini dapat berfungsi, tanpa ketundukan tertentu, jadi tanpa otoritas atau kekuasaan tertentu?
"...Bila saya mengajukan argumen-argumen seperti ini kepada kaum anti-otoriteris yang paling ngotot, maka satu-satunya jawaban yang dapat mereka beri kepada saya adalah: Ya, itu benar. Tetapi di sini masalahnya bukanlah tentang otoritas yang kami berikan kepada para utusan kami, melainkan tentang penugasan tertentu! Orang-orang ini berfikir bahwa ketika mereka mengubah nama sesuatu hal mereka telah mengubah hal itu sendiriÉ."
Dengan demikian, setelah menunjukkan otoritas dan otonomi adalah konsepsi-konsepsi relatif, bahwa aplikasi keduanya berubah seiring dengan tahap perkembangan masyarakat, adalah absurd untuk menganggap hal-hal itu sebagai hal yang mutlak, dan setelah menambahkan bahwa bidang aplikasi mesin-mesin dan produksi skala besar semakin meluas secara konstan, Engels beralih dari pembahasan tentang otoritas secara umum ke masalah negara.
"...Jika kaum oportunis," tulis Engels, "hanya ingin mengatakan bahwa organisasi sosial masa depan akan mengijinkan adanya otoritas hanya di dalam batas-batas yang dengan tak terelakkan ditentukan oleh syarat-syarat produksi, maka kita bisa sependapat dengan mereka; tetapi mereka buta terhadap semua kenyataan yang menyebabkan diperlukannya otoritas dan mereka berjuang dengan bernafsu menentang kata itu.
"Mengapa kaum anti otoriteris tidak membatasi diri dengan berteriak menentang otoritas politik, menentang negara? Semua kaum Sosialis sependapat bahwa negara politis, dan bersama dengan itu juga otoritas politik, akan lenyap sebagai akibat revolusi sosial yang akan datang, artinya bahwa fungsi-fungsi kemasyarakatan akan kehilangan watak politiknya dan berubah fungsi-fungsi administrasi sederhana berupa menjaga kebutuhan masyarakat. Namun kaum anti otoriteris menuntut supaya negara politik dihapuskan dengan sekali pukul, bahkan lebih dulu dari pada dihapuskannya hubungan-hubungan sosial yang melahirkannya. Mereka menuntut supaya tindakan pertama revolusi sosial adalah menghapuskan otoritas.
Pernahkah tuan-tuan ini menyaksikan revolusi? Revolusi sudah pasti adalah sesuatu yang paling otoriter yang ada; revolusi adalah tindakan, di mana sebagian penduduk memaksakan kehendaknya kepada bagian yang lain dengan senapan, bayonet, dan meriam -yaitu sarana yang luar biasa otoriternya; dan partai yang menang tidak ingin berjuang sia-sia, maka ia harus mempertahankan kekuasaan dengan menggunakan rasa takut yang ditimbulkan oleh senjatanya pada diri kaum reaksioner. Seandainya Komune Paris tidak bersandar pada otoritas rakyat bersenjata dalam menghadapi borjuasi bisakah ia bertahan lebih lama dari satu hari? Sebaliknya, apakah kita tidak berhak menyesali Komune karena ia terlalu sedikit menggunakan otoritas itu? Jadi, satu di antara dua: atau kaum anti-otoriteris sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan kalau demikian halnya mereka hanya menimbulkan kekusutan saja; atau mereka tahu, dan kalau demikian halnya mereka mengkhianati usaha proletariat. Dalam kedua hal itu mereka hanya mengabdi kepada reaksi." (halaman 39).
Argumen ini menyentuh masalah-masalah yang harus ditinjau dalam kaitannya dengan tema tentang hubungan antara politik dengan ekonomi selama melenyapnya negara (tema ini akan dibahas dalam bab berikutnya). Masalah-masalah ini adalah masalah pengubahan fungsi-fungsi kemasyarakatan dari fungsi-fungsi politik menjadi fungsi-fungsi administrasi sederhana dan masalah "negara politik". Ungkapan terakhir ini, yang mudah meninbulkan kesalahpahaman, menunjukan proses melenyapnya negara; negara yang sedang melenyap pada tingkat tertentu pelenyapannya dapat disebut negara non-politik.
Sekali lagi, yang paling menarik perhatian dalam argumen Engels tersebut adalah cara ia mengemukakan masalah untuk melawan kaum anarkis. Kaum Sosial-Demokrat yang ingin menjadi murid-murid Engels, telah berdebat jutaan kali untuk menentang kaum anarkis sejak tahun 1873, tetapi mereka berdebat justru tidak sebagaimana kaum Marxis dapat dan harus berdebat. Gambaran anarkis tentang penghapusan negara adalah kacau dan tidak revolusioner -begitulah Engels mengemukakan masalahnya. Kaum anarkis justru tidak mau melihat revolusi dalam pemunculan dan perkembangannya, dengan tugas-tugas khusus revolusi itu dalam hubungan dengan kekerasan, otoritas, kekuasaan, negara.
Kritik yang biasa terhadap anarkisme dari kaum Sosial-Demokrat masa kini telah turun pada kedangkalan kaum filistin yang setulen-tulennya: "kami mengakui negara, sedangkan kaum anarkis tidak!" Tentu saja kevulgaran semacam itu tidak dapat tidak menimbulkan rasa muak pada kaum buruh yang berpikir dan revolusioner. Apa yang dikatakan Engels berbeda. Ia menekankan bahwa semua kaum Sosialis mengakui lenyapnya negara sebagai akibat revolusi sosialis. Kemudian ia dengan kongkrit mengemukakan masalah revolusi, yaitu justru masalah yang biasanya dihindari oleh kaum Sosial-Demokrat karena oportunismenya dengan menyerahkan "pengolahan"nya boleh dikata semata-mata kepada kaum anarkis. Dan ketika mengemukakan masalah ini Engels dengan tegas mencengkram kunci masalahnya: tidakkah seharusnya Komune lebih banyak menggunakan kekuasaan revolusioner negara, yaitu proletariat yang bersenjata dan terorganisir sebagai kelas yang berkuasa?
Sosial-Demokrat resmi yang sedang berdominasi menyingkirkan masalah-masalah proletariat dalam revolusi hanya dengan ejekan filistin saja, atau paling-paling dengan mengelak secara sofistik: "lihat saja nanti". Maka itu kaum anarkis mendapat hak untuk mengatakan kepada Sosial-Demokrasi demikian itu bahwa ia mengkhianati tugasnya memberikan pendidikan revolusioner kepada kaum buruh. Engels menggunakan pengalaman revolusi proletar yang terakhir justru untuk melakukan penyelidikan yang paling kongkrit tentang apa yang harus dilakukan oleh proletariat dan bagaimana proletariat harus bertindak baik terhadap bank-bank maupun terhadap negara.

3. SURAT KEPADA BEBEL
Salah satu dari pengamatan-pengamatan yang bernilai penting, jika bukan yang paling bernilai penting, mengenai masalah negara dalam karya Marx dan Engels, terdapat dalam bagian yang berikut dalam surat Engels kepada Bebel tertanggal 18-28 Maret 1875. Surat ini, kami katakan sambil lalu, sepanjang pengetahuan kami, dimuat oleh Bebel untuk pertama kali dalam jilid ke-dua dari memoarnya (Aus meinem Leben atau Dari Hidupku) yang terbit pada tahun 1911, yaitu 36 tahun sesudah surat itu ditulis dan dikirimkan.
Engels menulis surat kepada Bebel mengkritik rancangan program Gotha yang juga dikritik oleh Marx dalam suratnya yang terkenal kepada Bracke. Menyinggung secara khusus masalah negara, Engels mengatakan:
"Negara rakyat bebas telah berubah menjadi negara bebas. Menurut arti tata bahasanya, negara bebas adalah negara di mana negara bebas terhadap warga negaranya, yaitu negara dengan pemerintah yang lalim. Seluruh obrolan tentang negara seharusnya sudah dihentikan, terutama sesudah Komune, yang sudah bukan lagi merupakan negara menurut arti kata yang sebenarnya. Kaum anarkis telah lebih dari cukup mencerca kita dengan 'negara rakyat', meskipun karya Marx yang menentang Proudhon, dan kemudian Manifesto Komunis sudah mengatakan dengan terus terang bahwa dengan dilaksanakannya susunan masyarakat yang sosialis negara akan membubarkan dirinya sendiri (sich auflöst) dan menghilang. Dengan demikian, karena negara hanyalah suatu lembaga peralihan yang digunakan dalam perjuangan, dalam revolusi, untuk dengan kekerasan menekan musuh-musuhnya, maka adalah omong kosong belaka untuk berbicara tentang suatu negara Rakyat bebas selama proletariat masih menggunakan negara, ia tidak menggunakannya demi kepentingan kebebasan tetapi untuk menekan musuh-musuhnya, dan segera setelah ada kemungkinan berbicara tentang kebebasan maka negara dengan demikian menghabisi hidupnya sendiri. Dari itu kami ingin mengusulkan supaya mengganti negara di mana pun juga dengan kata 'persekutuan hidup' (Gemeinwesen) sepatah kata Jerman lama yang baik yang dapat mewakili dengan sangat patutnya kata Perancis Komune". (halaman 321-2 dalam edisi aslinya yang berbahasa Jerman)(7)
Hendaknya selalu diingat bahwa surat tersebut menyangkut program partai yang dikritik oleh Marx dalam sepucuk surat bertanggalkan hanya beberapa minggu sesudah yang tersebut di atas (Surat Marx bertanggalkan 5 Mei 1875), dan bahwa pada waktu itu Engels hidup bersama Marx di London. Oleh karena itu, bila ia mengatakan "kami" dalam kalimat terakhir, Engels, tak usah diragukan lagi, atas namanya sendiri dan juga atas nama Marx, menyarankan kepada pemimpin parta buruh Jerman supaya kata "negara" dicabut dari program dan diganti dengan kata "persekutuan hidup".
Betapa lolongan tentang "anarkisme" akan dijeritkan oleh mereka yang menjadi pendukung utama "Marxisme" dewasa ini yang telah dipalsukan demi kenyamanan kaum oportunis, jika suatu amandemen program semacam itu disarankan kepada mereka!
Biarlah mereka melolong. Ini akan mendatangkan pujian dari borjuasi kepada mereka.
Dan kita akan meneruskan pekerjaan kita. Dalam merevisi program Partai kita, haruslah kita mempertimbangkan nasehat Engels dan Marx dengan setia agar supaya lebih dekat lagi pada kebenaran, untuk memperbaiki kembali Marxisme dengan membersihkannya dari segala pemutarbalikan, untuk membimbing perjuangan kelas buruh untuk kebebasannya dengan lebih tepat lagi. Tentulah tak akan ditemukan orang yang menentang nasehat Engels dan Marx di kalangan kaum Bolshevik. Satu-satunya kesulitan yang barangkali mungkin timbul akan menyangkut soal terminologi. Dalam basa Jerman terdapat dua kata yang berarti "persekutuan-hidup", yang darinya Engels menggunakan satu yang tidak berarti satu persekutuan-hidup tetapi jumlah keseluruhannya, suatu sistem persekutuan-persekutuan hidup. Dalam bahasa Rusia tidaklah ada kata semacam itu, dan barangkali kita akan memililh kata Perancis "Komune", biarpun ini tidak terlepas pula dari berbagai kesulitan.
"Komune bukanlah lagi suatu negara dalam arti kata yang sebenarnya" -dari segi teoritis, inilah pernyataan yang paling penting yang diciptakan oleh Engels. Sesudah apa yang di katakan di atas, pernyataan ini sepenuhnya jadi jelas. Komune tidak lagi menjadi negara, sebab yang harus ditindasnya bukan mayoritas penduduk, melainkan minoritas (kaum penghisap); ia telah menghancurkan mesin negara borjuis; sebagai ganti kekuatan khusus untuk menindas, penduduk sendiri tampil di atas panggung. Semua ini adalah penyimpangan dari negara menurut arti kata yang sebenarnya. Dan andai kata komune telah tekonsolidasi, maka bekas-bekas negara di dalamnya akan "melenyap" dengan sendirinya, tidak akan perlu baginya "menghapuskan" lembaga-lembaga negara; lembaga-lembaga itu akan berhenti berfungsi seiring dengan menjadi tidak adanya sesuatu yang harus dikerjakan olehnya.
"Kaum anarkis mencerca kita dengan 'negara rakyat''"; dalam mengatakan ini yang dimaksudkan oleh Engels pertama-tama adalah Bakunin dan serangan-serangannya terhadap kaum Sosial-Demokrat Jerman. Engels mengakui bahwa serangan-serangan itu dapat dibenarkan sejauh sebagaimana "negara rakyat" sama omong kosongnya dan sama menyimpangnya dari sosialisme seperti "negara rakyat bebas". Engels berusaha membetulkan perjuangan kaum Sosial-Demokrat Jerman melawan kaum anarkis, membuat supaya perjuangan ini tepat dalam prinsip, membersihkannya dari prasangka-prasangka oportunis mengenai "negara". Sayang! Surat Engels dipetieskan selama 36 tahun. Akan kita lihat di bawah bahwa, bahkan setelah surat ini diumumkan, Kautsky dengan kepala batu mengulangi apa yang pada hakekatnya justru kesalahan-kesalahan yang telah diperingatkan Engels.
Bebel menjawab Engels dalam surat bertanggal 21 September 1875, di mana ia menulis antara lain bahwa ia "sepenuhnya setuju" dengan pendapat Engels tentang rancangan program dan bahwa ia menyesali Liebknecht karena sikap mengalahnya (hlm. 334 dari edisi Jerman buku Bebel, Memoirs, Volume II). Tetapi jika kita mengambil brosur Bebel Tujuan Kita (Our Aims), maka akan kita temukan di dalamnya pandangan-pandangan tentang negara yang sama sekali salah:
"Negara harus diubah dari negara yang berdasarkan kekuasaan kelas menjadi negara rakyat" (Unsere Ziele, edisi Jerman, 1886, halaman 14).
Inilah yang tercetak di dalam edisi ke-9 (yang kesembilan!) dari brosur Bebel! Tidaklah mengherankan kalau pandangan-pandangan oportunis tentang negara yang diulang-ulang dengan begitu ngotot ditelan oleh Sosial-Demokrasi Jerman, terutama ketika penjelasan-penjelasan disembunyikan dan seluruh keadaan hidup untuk waktu yang panjang telah "menyapih" diri dari revolusi.

IV. KRITIK TERHADAP RANCANGAN PROGRAM ERFURT
Dalam menganalisa ajaran Marxisme tentang negara, kritik terhadap rancangan program Erfurt(8) yang dikirim Engels kepada Kautsky pada tanggal 29 Juni 1891 dan baru dimuat 10 tahun kemudian dalam Neue Zeit, tidak dapat diabaikan karena kritik itu terutama justru ditujukan untuk mengkritik pandangan-pandangan oportunis sosial demokrasi mengenai susunan negara.
Sambil lalu akan kita catat bahwa Engels juga memberikan petunjuk yang luar biasa berharga mengenai masalah ekonomi, yang menunjukkan betapa cermat dan penuh perhatian ia mengikuti justru perubahan-perubahan kapitalisme modern dan karenanya betapa pandainya ia meramalkan sampai batas-batas tertentu tugas-tugas jaman kita, jaman imperialis. Inilah petunjuk tersebut: berkenaan dengan kata "ketiadaan perencanaan" (Planlosigkeit) yang digunakan dalam rancangan program untuk menggambarkan ciri khas kapitalisme, Engels menulis:
"...Ketika kita beralih dari perseroan-perseroan ke trust-trust yang mengontrol sepenuhnya dan memonopoli seluruh cabang industri, maka di situ bukan hanya produksi perseorangan yang berakhir, melainkan juga ketiadaan perencanaan." (Neue Zeit, Volume XX, I, 1901-02, halaman 8)
Di sini dikemukakan hal yang paling pokok dalam penilaian teoritis mengenai tahap terakhir kapitalisme modern, yaitu imperialis, artinya bahwa kapitalisme berubah menjadi kapitalisme monopoli. Yang terakhir ini harus ditekankan, sebab pernyataan reformis borjuis bahwa kapitalisme monopoli atau kapitalisme monopoli-negara seolah-olah sudah bukan lagi kapitalisme, sudah dapat disebut "Sosialisme negara", atau suatu yang semacam itu, merupakan kesalahan yang paling tersebar luas. Tentu saja trust-trust tidak pernah menghasilkan, sampai sekarang tidak menghasilkan, dan tidak akan dapat menghasilkan perencanaan yang lengkap. Tetapi sekalipun trust-trust membuat perencanaan, sekali pun para tokoh terkemuka kapitalis mengkalkulasi terlebih dulu volume produksi dalam skala nasional atau bahkan internasional dan sekalipun mereka mengaturnya secara sistematis, kita masih tetap berada di bawah kapitalisme -memang kapitalisme dalam tingkatnya yang baru, tetapi tidak diragukan lagi tetap juga di bawah kapitalisme. "Kedekatan" kapitalisme demikian itu dengan sosialisme bagi wakil-wakil sejati proletariat harus menjadi bukti bagi kedekatan, kemudahan, dapat dilaksanakannya dan mendesaknya revolusi sosialis dan sama sekali bukanlah alasan untuk bersikap toleran terhadap penolakan revolusi itu dan usaha-usaha untuk membuat kapitalisme tampak lebih atraktif menarik, sebagaimana dilakukan oleh semua kaum reformis.
Tetapi marilah kita kembali ke masalah negara. Di sini Engels memberikan tiga petunjuk yang istimewa berharganya: pertama, mengenai masalah republik; kedua, tentang hubungan antara masalah nasional dengan susunan negara; ketiga, tentang pemerintahan-sendiri yang lokal.
Mengenai republik, Engels menjadikan hal ini sebagai titik berat dari kritiknya terhadap rancangan Program Erfurt. Dan apabila kita mengingat kembali arti penting yang diperoleh program Erfurt dalam Sosial-Demokrasi internasional hingga ia menjadi contoh bagi seluruh Internasionale II, maka dapat dikatakan tanpa berlebih-lebihan bahwa di sini Engels mengkritik oportunis seluruh Internasionale II.
"Tuntutan politik dari rancangan itu," tulis Engels, "memiliki kekurangan yang besar. Apa yang sebenarnya harus dikatakan malah tidak terdapat di dalamnya" (huruf miring dari Engels.)
Dan, selanjutnya, Engels menjadikan jelas bahwa konstitusi Jerman sebenarnya adalah salinan Undang-undang Dasar yang paling reaksioner tahun 1850; bahwa Reichtag (9) hanyalah, seperti yang dinyatakan Wilhelm Liebknecht, "cawat daun penutup absolutisme"; bahwa kehendak "untuk melakukan transformasi semua perkakas kerja menjadi milik umum" atas dasar konstitusi atau Undang-undang dasar yang mengesahkan adanya negara-negara kecil dan uni negara-negara kecil Jerman adalah "absurditas yang nyata".
"Menyentuh tema ini adalah berbahaya", Engels menambahkan, mengetahui dengan baik benar bahwa mustahil secara legal memasukkan tuntutan akan republik di Jerman. Namun Engels tidak menerima begitu saja pertimbangan yang sudah jelas ini, yang memuaskan "semua orang". Engels melanjutkan; "Tetapi walaupun demikian, soalnya bagaimanapun juga harus ditanggulangi. Sampai di mana perlunya hal ini, justru sekarang ditunjukkan oleh oportunisme yang menyebar luas (einressende) di dalam sebagian besar per Sosial-Demokrat. Karena takuk dihidupkannya UU Anti-Sosialis (10) atau karena teringat akan beberapa pernyataan yang dikeluarkan sebelum waktunya ketika berlakukanya Undang-undang tersebut, mereka sekarang menginginkan supaya Partai megakui bahwa tata hukum yang sekarang di Jerman cukup untuk mewujudkan semua tuntutan Partai secara damaiÉ."
Secara khusus Engels menyoroti fakta fundamental bahwa kaum Sosial-Demokrat Jerman bertindak karena takut dihidupkannya kembali Undang-Undang luar biasa itu, dan tanpa ragu-ragu dinamainya sebagai oportunisme; ia menyatakan bahwa justru karena tidak adanya republik dan kebebasan di Jerman, maka impian-impian tentang jalan "damai" sama sekali tidak masuk akal. Engels cukup berhati-hati untuk tidak mengikat tangannya sendiri. Ia mengakui bahwa di negeri-negeri dengan sistim republik atau dengan kebebasan yang sangat besar orang "dapat membayangkan" (hanya "membayangkan"!) perkembangan secara damai ke sosialisme, tetapi di Jerman, ia mengulangi.
"...Di Jerman, di mana pemerintah nyaris maha kuasa dan Reichstag serta semua badan perwakilan lainnya tidak mempunyai kekuatan yang nyata, maka memproklamasikan hal semacam itu di Jerman, dan lagi ketika tidak ada keperluan untuk itu, berarti menanggalkan cawat penutup absolutisme dan menjadikan dirinya penutup ketelanjangan"É.
Mayoritas luas pemimpin resmi partai Sosial-Demokrat Jerman yang mempeti-eskan petunjuk tersebut, memang ternyata merupakan pelindung absolutisme.
"...Pada akhirnya politik semacam itu hanya dapat membawa partai ke jalan yang sesat. Mereka menonjolkan masalah-masalah politik yang umum dan abstrak, dengan demikian menutup-nutupi masalah-masalah kongkrit yang mendesak, yang dengan sendirinya menjadi acara begitu terjadi peristiwa-peristiwa besar yang pertama, krisis politik yang pertama. Apa yang bisa dihasilkan dari sini kecuali bahwa partai pada saat yang menentukan tiba-tiba menjadi tak berdaya, bahwa di dalamnya merajalela kekaburan dan ketiadaan kesatuan mengenai masalah-masalah yang menentukan karena masalah-masalah ini tidak pernah didiskusikan? É
"Dilupakannya pertimbangan utama yang penting demi kepentingan sekarang yang bersifat seketika ini, pengejaran sukses-sukses yang bersifat seketika ini dan perjuangan untuk itu tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya kemudian, dikorbankannya hari depan gerakan demi hari ini, gerakan ini--mungkin terjadi karena motif-motif tidak "jujur". Tetapi ini adalah oportunisme dan tetap oportunisme, sedangkan oportunisme yang "jujur" barangkali lebih berbahaya dari pada semua oportunisme lainnyaÉ
"Jika ada hal yang tidak menimbulkan keraguan apapun, maka hal itu adalah bahwa Partai kita dan kelas buruh dapat mencapai kekuasaan hanya di bawah bentuk republik demokratis. Yang terakhir ini bahkan merupakan bentuk khusus bagi diktatur proletariat, sebagai mana telah diperlihatkan oleh Revolusi Besar Perancis"É
Di sini Engels mengulangi dalam bentuk yang teristimewa hidupnya ide fundamental itu, yang bagaikan benang merah menjelujuri semua karya Marx, yaitu bahwa republik demokratis adalah jalan yang paling dekat ke diktatur proletariat. Sebab republik demikian itu, yang sedikit pun tidak menghapuskan kekuasaan kapital dan karenanya tidak menghapuskan penindasan atas massa dan perjuangan kelas -tidak terhindarkan akan menuju ke peluasan, pengembangan, penyingkapan, dan penajaman perjuangan ini yang sedemikian rupa, sehingga sekali timbul kemungkinan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan fundamental massa tertindas, kemungkinan ini diwujudkan dengan pasti dan semata-mata melalui diktatur proletariat, melalui pimpinan proletariat atas massa itu. Bagi seluruh Internasionale II ini juga "kata-kata yang dilupakan" dari Marxisme, dan dilupakannya kata-kata tersebut dengan luar biasa jelasnya ditunjukkan oleh sejarah partai Menshevik selama setengah tahun pertama revolusi Rusia 1917.
Mengenai masalah republik federal dalam hubungan dengan komposisi nasional dari penduduk, Engels menulis:
"Apa yang harus menggantikan Jerman yang sekarang?" (dengan konstitusi reaksionernya yang monarkis dan pembagiannya menjadi negara-negara kecil yang sama reaksionernya, dengan pembagian yang mengabaikan ciri-ciri khusus "Prusianisme", dan bukannya melebur negara-negara kecil itu di Jerman sebagai satu keseluruhan). "Menurut pendapat saya, proletariat hanya dapat menggunakan bentuk republik yang tunggal dan tidak dapat dibagi-bagi. Di wilayah Amerika Serikat yang raksasa itu republik federal pada umumnya sekarang masih merupakan keharusan, walaupun di timur ia sudah menjadi rintangan. Republik federal akan merupakan langkah maju di Inggris di mana kedua pulaunya didiami empat bangsa dan meskipun ada parlemen tunggal terdapat berdampingan tiga sistem perundang-undangan. Republik federal sudah menjadi rintangan di Swiss ya kecil itu, dan jika di sana republik federal itu masih dapat dibiarkan, ini hanyalah karena Swiss puas dengan peranan sebagai anggota pasif belaka dari sistem kenegaraan Eropa. Bagi Jerman, pen-Swiss-an secara federal akan merupakan langkah mundur yang sangat besar. Dua hal membedakan negara uni dengan negara kesatuan yang penuh, yaitu: bahwa masing-masing negara bagian, yang tergabung dalam uni, mempunyai perundang-undangan perdata dan pidananya sendiri yang khusus, sistem pengadilannya yang khusus, dan kemudian, bahwa di samping majelis rakyat ada majelis perwakilan dari negara-negara bagian, dan di dalamnya masing-masing kanton, tak perduli besar atau kecil, memberikan suara sebagai kanton". Di Jerman negara uni adalah peralihan ke negara kesatuan yang penuh, dan "revolusi dari atas" pada tahun-tahun 1866 dan 1870 bukannya harus diputar kembali, melainkan harus dilengkapi dengan "gerakan dari bawah".
Jauh dari menunjukkan sikap masa bodoh terhadap masalah-masalah bentuk negara, sebaliknya Engels , dengan luar biasa seksamanya berusaha menganalisa justru bentuk-bentuk peralihan untuk menetapkan, sesuai dengan kekhususan-kekhususan sejarah yang kongkrit dari satu-satu kejadian, bentuk peralihan ini peralihan dari apa ke apa.
Mendekati permasalahan dari sudut pandang kaum proletariat dan revolusi proletar, Engels, seperti juga Marx, membela sentralisme demokratis, republik --yang tunggal dan tak dapat dipecah-pecah. Ia memandang republik federal baik sebagai kekecualian dan rintangan bagi perkembangan atau sebagai peralihan dari monarki ke republik sentralis, sebagai "langkah maju" di bawah syarat-syarat khusus tertentu. Dan diantara syarat-syarat khusus ini masalah nasional menonjol. Walaupun tanpa ampun mengkritik kereaksioneran negara-negara kecil dan penyembunyian kereaksioneran tersebut oleh massa nasional dalam kejadian-kejadian kongkrit tertentu, seperti juga Marx, Engels tidak pernah menghianati dan mengabaikan masalah nasional -keinginan yang sering merupakan kesalahan yang diperbuat oleh kaum Marxis Belanda dan Polandia yang bertolak dari perjuangan yang paling sah terhadap nasionalisme sempit filistin dari negara-negara kecil "mereka".
Bahkan di Inggris, di mana baik syarat-syarat geografi, kesamaan bahasa maupun sejarah ratusan tahun nampaknya telah "mengakhiri" masalah nasional di satu-satu bagian kecil di Inggris -bahkan di sinipun Engels memperhitungkan kenyataan yang jelas, bahwa masalah nasional belum teratasi, dan karena itu mengakui republik federal sebagai "langkah maju". Sudah barang tentu di sini tak ada sedikitpun tanda-tanda penolakan untuk mengajukan kritik terhadap kekurangan-kekurangan republik federal dan untuk melakukan propaganda serta perjuangan yang paling tegas untuk republik kesatuan yang demokratis sentralis.
Tetapi Engels mengartikan sentralisme demokratis sama sekali bukan dalam pengertian birokrasi, tidak seperti ideologis-ideologis borjuis dan borjuis kecil, kaum anarkis yang termasuk ideologis-ideologis borjuis kecil yang menggunakan konsepsi sentralisme demokratis itu dalam pengertian birokratis. Bagi Engels sentralisme sedikitpun tidak meniadakan pemerintahan sendiri setempat yang demikian luas yang dengan dipertahankannya secara sukarela kesatuan negara oleh "komune-komune" dan daerah-daerah, pasti akan menghapuskan setiap birokratisme dan setiap "perintah" dari atas. Mengembangkan pandangan-pandangan programatis Marxisme mengenai negara, Engels menulis:
"Jadi, republik kesatuan -tetapi bukan dalam pengertian Republik Perancis yang sekarang, yang tidak lebih dari pada kekaisaran tanpa Kaisar yang dibentuk pada tahun 1798. Dari tahun 1792 sampai pada tahun 1798 setiap daerah besar Perancis, setiap komune (Gemeinde) mempunyai pemerintahan sendiri yang penuh, menurut pola Amerika, dan ini harus kita miliki juga. Bagaimana harus mengorganisasi pemerintahan-sendiri dan bagaimana dapat tanpa birokrasi, hal ini ditunjukkan dan dibuktikan kepada kita oleh Amerika dan Republik Perancis pertama, dan sekarang masih diperlihatkan oleh Kanada, Australia dan tanah-tanah jajahan Inggris lainnya. Baik pemerintahan-sendiri provinsi (daerah) maupun pemerintahan-sendiri komune demikian itu adalah lembaga-lembaga yang jauh lebih bebas dari pada, misalnya, federalisme Swiss di mana memang benar, kanton sangat tidak tergantung dalam hubungannya dengan Bund (Union)" (yaitu dengan negara federatif sebagai keseluruhan), "tetapi juga tidak tergantung baik dalam hubungannya dengan distrik (Bezirk) maupun dengan komune. Pemerintah-pemerintah kanton menunjukkan kepala-kepala distrik (Bezirksstatthalter) dan prefekt-prefekt, yang sama sekali tidak ada di negeri-negeri yang berbahasa Ingris dan yang di masa depan juga harus kita hapuskan dengan tegas, seperti halnya Landrat-landrat serta Regierungsrat-regierungsrat Prusia" (komisaris-komisaris, kepala-kepala polisi distrik, gubernur-gubernur, pada umumnya pejabat-pejabat yang diangkat dari atas). Sesuai dengan itu, Engels mengusulkan supaya fasal tentang pemerintahan-sendiri dalam program dirumuskan sebagai berikut: "Pemerintahan-sendiri yang penuh di provinsi-provinsi" (gubernia-gubernia atau daerah-daerah). "di distrik-distrik dan rukun-rukun kampung swatantra melalui pejabat-pejabat yang dipilih dengan hak pilih umum; penghapusan semua badan kekuasaan setempat dan provinsi yang diangkat oleh negara".
Saya sudah pernah menunjukkan --dalam Pravda (11)(No. 68, 28 Mei 1917)(12) yang disita oleh pemerintah Kerenski dan menteri-menteri "Sosialis" lainnya--, bagaimana dalam soal ini (sudah tentu sama sekali bukan dalam satu soal ini saja) wakil-wakil sosialis gadungan demokrasi gadungan revolusioner gadungan kita telah melakukan penyelewengan-penyelewengan yang menyolok mata dari demokrasi. Wajarlah jika orang-orang yang mengikat diri pada "koalisi" dengan borjuasi imperialis tetap tuli terhadap kritisisme ini.
Sangat penting untuk dicatat bahwa Engels dengan fakta-fakta yang dimilikinya, dengan contoh yang paling tepat, menyangkal prasangka yang sangat tersebar luas, terutama di kalangan demokrasi borjuis kecil, seolah-olah republik federal pasti berarti kebebasan yang lebih besar dari pada republik sentralis. Ini tidak benar. Fakta-fakta yang diajukan Engels mengenai Republik Perancis Sentralis tahun 1792-98 dan Republik Swiss federal menyangkal hal itu. Republik sentralis yang betul-betul demokratis memberikan kebebasan yang lebih besar dari pada republik federal. Atau dengan kata lain: kebebasan lokal, regional, dan kebebasan lainnya yang dikenal dalam sejarah dipenuhi oleh republik sentralis dan bukan oleh republik federal.
Fakta ini tidak cukup mendapat perhatian dalam propaganda dan agitasi Partai kita, seperti juga halnya seluruh masalah republik federal dan republik sentralis dan pemerintahan-sendiri lokal.

5. KATA PENDAHULUAN TAHUN 1891 PADA KARYA MARX PERANG DALAM NEGERI DI PERANCIS
Dalam kata pengantarnya pada edisi ketiga Perang Dalam Negeri Di Perancis (kata pengantar ini bertanggal 18 Maret 1891 dan aslinya dimuat dalam majalah Neue Zeit) Engels, di samping beberapa catatan sambil lalu yang menarik mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan sikap terhadap negara, memberikan ikhtisar yang luar biasa jelasnya tentang pelajaran-pelajaran dari Komune (13). Ikhtisar ini, yang diperdalam oleh seluruh pengalaman selama dua puluh tahun yang memisahkan penulis dari komune, dan yang khusus ditujukan untuk menentang "kepercayaan secara takhayul terhadap negara" yang tersebar luas di Jerman, sebenarnya dapat dinamakan kata terakhir Marxisme mengenai masalah yang sedang dibahas.
Di Perancis, Engels menegaskan setelah setiap revolusi kaum buruh selalu bersenjata; "oleh karena itu bagi borjuasi yang memegang tampuk kekuasaan negara melucuti senjata kaum buruh adalah amanat yang pertama. Dari sinilah, sesudah setiap revolusi yang dimenangkan oleh kaum buruh, timbulnya perjuangan baru, yang berakhir dengan kekalahan kaum buruh."
Kesimpulan dari pengalaman revolusi-revolusi borjuis adalah singkat lagi ekspresif. Hakekat persoalannya --antara lain juga mengenai masalah negara (apakah kelas tertindas mempunyai senjata?) -dicengkam dengan sangat baik di sini. Justru hakekat inilah yang paling sering dihindari baik oleh profesor-profesor yang berada di bawah pengaruh ideologi borjuis maupun oleh kaum demokrat borjuis kecil. Dalam revolusi Rusia tahun 1917 kehormatan (kehormatan Cavaignac (14)) membocorkan rahasia-rahasia revolusi-revolusi borjuis ini jatuh pada Tsereteli, seorang "Menshevik", "yang semoga Marxis". Dalam pidatonya yang "bersejarah" pada tanggal 11 Juni, Tsereteli dengan tidak disengaja membocorkan niat borjuasi untuk melucuti senjata kaum buruh Petrograd, dengan mengemukakan, tentu saja, keputusan ini baik sebagai keputusannya sendiri maupun sebagai keharusan "negara" secara keseluruhan!
Pidato bersejarah Tsereteli pada tanggal 11 Juni itu, tentu saja, akan merupakan salah satu ilustrasi yang paling jelas bagi setiap ahli sejarah Revolusi tahun 1917 tentang bagaimana blok karena sosialis-Revolusioner dan kaum Menshevik yang dipimpin oleh Tuan Tsereteli, menyeberang ke pihak borjuasi dan menentang proletariat revolusioner.
Catatan sambil lalu lainnya dari Engels, yang juga berhubungan dengan masalah negara, menyangkut agama. Sudah diketahui bahwa Sosial-Demokrasi Jerman, seiring dengan semakin merosot akhlaknya dan menjadi makin oportunisnya, makin sering tergelincir ke dalam salah-tafsir filistin mengenai rumus yang terkenal: "Agama dinyatakan sebagai urusan pribadi". Yaitu: rumus ini ditafsirkan seolah-olah juga bagi partai proletariat revolusioner masalah agama adalah urusan pribadi!! Terhadap pengkhianatan yang sepenuhnya kepada program revolusioner proletariat inilah Engels bangkit melawan, yang pada tahun 1891 hanya melihat tunas-tunas yang sangat lemah dari oportunisme di dalam partainya dan yang karena itu menyatakan pendapatnya dengan sangat berhati-hati:
"...Sesuai dengan bahwa yang duduk di dalam Komune hampir semata-mata hanya kaum buruh atau wakil-wakil buruh yang diakui, maka keputusan-keputusannya berwatak proletar yang tegas. Atau mereka mendekritkan reformasi-reformasi yang ditolak oleh borjuasi republik hanya karena kepengecutannya yang keji, tetapi yang merupakan dasar yang diperlukan untuk kegiatan bebas kelas buruh, seperti pelaksanaan prinsip bahwa dalam hubungan dengan negara, agama merupakan urusan pribadi semata-mata, --atau Komune mengeluarkan keputusan-keputusan yang langsung untuk kepentingan kelas buruh dan yang sebagian menukik jauh ke dalam tata tertib masyarakat lama."
Engels sengaja menekankan kata-kata "dalam hubungan dengan negara", dengan mengarahkan pukulan tepat pada oportunisme Jerman yang memproklamasikan agama sebagai urusan pribadi dalam hubungan dengan partai dan dengan demikian memerosotkan partai proletariat revolusioner sampai pada tingkat filistinisme "berpikir bebas" yang paling vulgar, yang bersedia membolehkan keadaan tanpa agama, tetapi yang menolak tugas perjuangan partai menentang candu agama yang membius rakyat.
Ahli sejarah Sosial-Demokrasi Jerman yang akan datang, dalam mengusut akar-akar kebangkrutannya yang memalukan pada tahun 1914, akan menemukan tidak sedikit bahan yang menarik mengenai masalah tersebut, mulai dari berbagai dekalrasi yang berbelit-belit dalam artikel pemimpin ideologi partai, Kautsky, yang membuka pintu lebar-lebar bagi oportunisme, sampai pada sikap partai terhadap "Los-von-Kirche-Bewegung" ("Gerakan-Lepas-Dari-Gereja")(15) pada tahun 1913.
Tetapi marilah kita beralih ke soal bagaimana Engels, dua puluh tahun sesudah komune, menyimpulkan pelajaran-pelajaran dari komune bagi proletariat yang sedang berjuang.
Inilah pelajaran-pelajaran yang ditonjolkan oleh Engels:
"...Adalah justru kekuasaan yang menindas dari pemerintah terpusat yang lampau, tentara, polisi politik,birokrasi, yang diciptakan oleh Napoleon pada tahun 1798 dan yang sejak itu diambil alih oleh setiap pemerintah baru sebagai alat yang didambakan dan digunakan untuk menentang lawan-lawannya--justru kekuasaan inilah yang harus ambruk dimana-mana sebagaimana ia telah ambruk di Paris.
Sejak semula Komune harus mengakui bahwa kelas buruh, setelah memegang kekuasaan, tidak dapat terus memerintah dengan mesin negara yang lama; bahwa kelas buruh, supaya tidak kehilangan lagi kekuasaannya yang baru saja direbut, di satu pihak, harus menghapuskan seluruh mesin penindasan lama yang sebelumnya digunakan terhadap dirinya, dan di pihak lain, harus melindungi diri terhapap wakil-wakil serta pejabat-pejabatnya sendiri, dengan menyatakan mereka semua, tanpa kecuali, dapat diganti setiap saat"É
Engels berulang kali menekankan bahwa tidak hanya dalam kerajaan, tetapi juga dalam republik demokratis negara tetap negara, yaitu mempertahankan ciri khasnya yang fundamental; mengubah pejabat-pejabat, "abdi-abdi masyarakat", organ-organnya, menjadi tuan atas masyarakat.
"Melawan tranformasi negara dan organ-organ negara dari abdi-abdi masyarakat menjadi tuan atas masyarakat itu --transformasi yang tak terelakkan terjadi di semua negara sampai sekarang-- Komune menggunakan dua cara yang tak mungkin salah. Pertama, Komune mengisi semua jabatan --administrasi, pengadilan dan pendidikan-- dengan orang-orang yang dipilih menurut hak pilih umum, dan di samping itu berhak menarik kembali mereka yang dipilih setiap saat menurut keputusan para pemilihnya. Dan kedua, Komune memberi upah kepada semua pejabat, baik tinggi maupun rendah, hanya sebesar yang diterima kaum buruh lainnya. Gaji tertinggi yang umumnya dibayar oleh Komune adalah 6.000 franc. Dengan demikian terbentuklah rintangan yang dapat dihandalkan terhadap usaha mengejar kedudukan dan terhadap karierisme, bahkan terlepas dari mandat yang mengikat (16) untuk wakil-wakil dalam badan-badan perwakilan, yang diberikan oleh Komune di samping itu."
Di sini Engels mendekati garis pembatas yang menarik, di mana demokrasi yang konsekuen, di satu pihak, berubah menjadi sosialisme, dan di pihak lain, menuntut sosialisme. Sebab, untuk menghapuskan negara diperlukan perubahan fungsi-fungsi dinas pemerintah menjadi pekerjaan-pekerjaan pengontrolan dan penghitungan yang sederhana, yang mudah dimengerti dan dapat dilaksanakan oleh mayoritas luas penduduk dan kemudian oleh seluruh penduduk tanpa kecuali. Dan untuk menghapuskan sepenuhnya karierisme dituntut supaya mustahil adanya kedudukan-kedudukan "terhormat" -meskipun dalam kedudukan yang tidak memberi keuntungan&endash; dalam dinas pemerintah yang bisa menjadi jembatan untuk melompat ke jabatan-jabatan yang memberi penghasilan tinggi di bank-bank dan diperseroan-perseroan, sebagaimana senantiasa terjadi di semua negeri kapitalis yang paling merdeka.
Tetapi Engels tidak membuat kesalahan seperti yang dibuat, misalnya, oleh sementara kaum Marxis mengenai masalah hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri; mereka mengatakan, di bawah kapitalisme hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri ini tidak mungkin, sedang di bawah sosialisme tidak diperlukan. Argumen semacam ini, yang nampaknya cerdas, tetapi sebenarnya salah, dapat diulangi mengenai lembaga demokratis manapun, termasuk gaji yang lumayan bagi pejabat, sebab demokratisme yang konsekuen sepenuhnya tidak mungkin ada di bawah kapitalisme, sedangkan di bawah sosialisme segala demokrasi akan melenyap.
Ini adalah tetek bengek sofistis seperti lelucon lama, apakah seorang akan menjadi botak apabila rambutnya berkurang sehelai?
Mengembangkan demokrasi sampai sepenuhnya, mencari bentuk-bentuk perkembangan demikian itu, mengujinya dengan praktek dst. -semua ini adalah salah satu tugas komponen perjuangan untuk revolusi sosial. Jika berdiri sendiri, demokratisme apapun tidak akan mendatangkan sosialisme, tetapi dalam kehidupan, demokratisme tidak pernah "berdiri sendiri", melainkan akan "berdiri bersama-sama", akan memberikan pengaruhnya juga kepada ekonomi, akan mendorong perubahan ekonomi dan akan dipengaruhi perkembangan ekonomi, dst. Demikianlah dialektika sejarah yang hidup.
Engels melanjutkan:
"Terpecahbelahnya (Sprengung) kekuasaan negara lama itu dan digantinya oleh yang baru, yang sungguh-sungguh demokratis, telah secara terperinci dilukiskan dalam bagian ke-tiga Perang Dalam Negeri. Tetapi di sini perlu membicarakan sekali lagi secara singkat beberapa ciri penggantian tersebut, karena justru di Jerman kepercayaan secara takhayul terhadap negara telah berpindah dari filsafat ke kesadaran umum borjuasi dan bahkan kesadaran banyak buruh. Menurut konsepsi filosofis, negara adalah 'perwujudan ide' atau, diterjemahkan ke dalam bahasa filsafat, Kerajaan Tuhan di bumi, negara merupakan bidang kegiatan di mana kebenaran dan keadilan abadi diwujudkan atau harus diwujudkan. Dan dari sini timbul rasa hormat secara takhayul terhadap negara dan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan negara, rasa hormat secara takhayul yang semakin mudah berakar karena orang sejak kecil terbiasa berpikir bahwa urusan dalam kepentingan yang umum bagi seluruh masyarakat tidak dapat diurus dan dilindungi dengan cara lain kecuali dengan cara lama, yaiu melalui perantara negara dan pejabat-pejabatnya yang dihadiahi kedudukan yang memberi keuntungan. Dan orang-orang membayangkan bahwa mereka mengambil langkah maju yang luar biasa beraninya apabila mereka melepaskan diri dari kepercayaan terhadap monarki yang turun temurun dan menjadi pengikut-pengikut republik demokratis. Tetapi dalam kenyataannya negara tidak lain adalah mesin penindas dari satu kelas terhadap kelas yang lain, dan dalam republik demokratis sedikit pun tidak kurang dari pada dalam monarki. Dan paling-paling negara adalah kejahatan yang diwariskan kepada proletariat yang memperoleh kemenangan dalam perjuangan untuk kekuasaan kelas; proletariat yang menang sebagaimana Komune, diharuskan segera memotong segi-segi yang paling jelek dari kejahatan itu sampai saat generasi yang tumbuh dalam syarat-syarat sosial yang baru dan bebas mampu mencampakkan seluruh rongsokan ketatanegaraan ini."
Engels memperingatkan orang-orang Jerman supaya mereka tidak melupakan dsar-dasar sosialisme mengenai masalah negara pada umumnya dalam hubungan dengan penggantian monarki dengan republik. Sekarang peringatan-peringatan Engels itu berbunyi sebagai pelajaran langsung bagi tuan-tuan semacam Tsereteli dan Cernov yang dalam praktek "koalisi" mereka menunjukkan kepercayaan secara takhyul dan rasa hormat secara takhyul terhadap negara!
Dua catatan lagi. 1.) fakta bahwa Engels mengatakan bahwa di balik republik demokratis, "sedikitpun tidak kurang" dari pada di bahwa monarki, negara tetap merupakan "mesin penindas dari satu kelas terhadap kelas yang lain", ini sama sekali tidak berarti bahwa bentuk penindasan bagi proletariat sama saja, sebagaimana "ajaran" sementara kaum anarkis. Bentuk perjuangan kelas dan bentuk penindasan kelas yang lebih luas, lebih bebas dan lebih terbuka sangat meringankan proletariat dalam perjuangannya untuk menghapuskan kelas-kelas pada umumnya.
2.) Mengapa hanya generasi baru saja yang akan mampu mencampakkan sama sekali seluruh rongsokan ketatanegaraan ini -masalah ini bertalian dengan masalah mengatasi demokrasi, yang akan kita bicarakan sekarang.

6. ENGELS TENTANG MENGATASI DEMOKRASI
Engels pernah menyatakan pendapatnya tentang masalah ini dalam hubungan dengan fakta bahwa sebutan "Sosial-Demokrat" adalah salah secara ilmiah.
Dalam kata pendahuluan pada penerbitan artikel-artikelnya dari tahun 1870-an tentang berbagai tema, terutama mengenai masalah-masalah "internasional" (Internasionales aus dem Volksstaat)(17) -kata pendahulun yang tertanggal 3 Januari 1894, yaitu ditulis satu setengah tahun wafatnya-- Engels menulis bahwa dalam semua artikelnya digunakan kata "Komunis" dan bukan Sosial-Demokrat, sebab pada masa itu kaum Proudhonis di Perancis dan kaum Lassallean (18) di Jerman menamakan dirinya Sosial-Demokrat.
"...Bagi Marx dan saya," Engels melanjutkan, "mutlak tidak mungkin menggunakan ungkapan yang sedemikian elastis untuk menyatakan pandangan kita yang khusus. Dewasa ini keadaannya lain, dan kata itu ("Sosial-Demokrat") barangkali di masa lalu bisa diterima (mag passieren) walaupun kata itu tetap tidak tepat (unpassen -tidak cocok) bagi partai yang program ekonominya bukan semata-mata sosialis pada umumnya, melainkan langsung Komunis, bagi partai yang tujuan politiknya yang terakhir adalah mengatasi seluruh negara, dan oleh karenanya juga demokrasi. Tetapi nama dari partai-partai politik yang sebenarnya (huruf miring dari Engels) tidak pernah sesuai sepenuhnya; partai berkembang, nama tetap."(19)
Dialektikus Engels hingga hari tuanya tetap setia pada dialektika. Marx dan saya, kata Engels, dulu mempunyai nama partai yang baik sekali, tepat secara ilmiah, tetapi ketika itu tidak ada partai yang sebenarnya, yaitu kaum proletariat yang massal. Sekarang (pada akhir abad ke-19) ada partai yang sebenarnya, tetapi namanya secara ilmiah tidak tepat. Tidak apalah, "bisa diterima", asal saja partai berkembang, asal saja ketidaktepatan secara ilmiah namanya itu disadari olehnya dan tidak mengganggunya berkembang ke arah yang tepat!
Barangkali seorang pelawak akan juga menghibur kita, kaum Bolshevik, menurut cara Engels: kita mempunyai partai yang sebenarnya, ia berkembang dengan baik sekali; bahkan "bisa diterima" juga kata yang tiada arti dan buruk seperti "Bolshevik", yang sama sekali tidak menyatakan apa-apa kecuali keadaan yang semata-mata kebetulan bahwa dalam Kongres Brussel-London tahun 1903 kita merupakan mayoritas (20) ...Mungkin sekarang, ketika pengejaran-pengejaran dalam bulan Juli dan Agustus terhadap partai kita yang dilakukan oleh kaum republiken dan demokrasi borjuasi kecil "revolusioner" telah membuat kata "Bolshevik" menjadi demikian terhormat di kalangan seluruh rakyat, dan ketika pengejaran-pengejaran ini, kecuali itu, membuktikan langkah maju ber sejarah yang begitu besar, yang telah dicapai oleh partai kita dalam pknnya yang sebenarnya mungkin saya juga akan menjadi ragu-ragu terhadap usul saya pada bulan April untuk mengubah partai kita. Mungkin saya akan mengusulkan kepada kawan-kawan saya "kompromi": menamakan diri kita partai Komunis, dan mempertahankan kata "Bolshevik" dalam tanda kurung.
Tetapi masalah nama partai jauh kurang penting dari pada masalah sikap proletariat revolusioner terhadap negara.
Dalam argumen-argumen yang biasa terhadap negara selalu dibuat kesalahan yang di sini diperingatkan oleh Engels dan yang secara sambil lalu telah kita tunjukkan dalam uraian terdahulu, yaitu selalu dilupakan bahwa penghapusan negara adalah juga penghapusan demokrasi, bahwa melenyapnya negara adalah melenyapnya demokrasi.
Sekilas pandang, pernyataan seperti iini tampaknya sangat ganjil dan tidak bisa dimengerti; sesungguhnya, barangkali pada seseorang bahkan akan timbul kekhawatiran bahwa kita mengaharapkan tibanya susunan masyarakat, di mana tidak akan ditaati prinsip ketundukan minoritas kepada mayoritas -sebab bukankah demokrasi itu justru pengakuan terhadap prinsip ini?
Tidak. Demokrasi tidak identik dengan ketundukkan minoritas kepada mayoritas. Demokrasi adalah negara yang mengakui ketundukan minoritas terhadap mayoritas, yaitu organisasi yang mengunakan kekerasan secara sistematis dari stu kelas terhadap kelas yang lain, dari satu bagian penduduk terhadap bagian yang lain.
Kita menetapkan sebagai tujuan terakhir kita menghapuskan negara, yaitu menghapuskan segala penggunaan kekerasan yang terorganisir dan sistematis, segala kekerasan terhadap manusia pada umumnya. Kita tidak menunggu tibanya tata tertib masyarakat di mana tidak akan ditaati prinsip ketundukan minoritas terhadap mayoritas. Tetapi dalam berusaha keras mencapai sosialisme, kita yakin bahwa ia akan berkembang menjadi Komunisme, dan ber hubungan dengan itu, akan lenyap segala kebutuhan akan kekerasan terhadap manusia pada umumnya, akan ketundukan orang yang satu kepada yang lain, satu bagian penduduk kepada bagian yang lan, sebab orang akan terbiasa mentaati syarat-syarat elementer kehidupan kemasyarakatan tanpa kekerasan dan tanpa ketundukan.
Untuk menekankan unsur kebiasaan ini, Engels justru berbicara tentang generasi baru yang "tumbuh dalam syarat-syarat sosial yang baru dan bebas, yang akan mampu mencampakkan sama sekali seluruh rongsokan ketatanegaraan ini" -segala ketatanegaraan, termasuk juga ketatanegaraan demokratis republiken.
Untuk menjelaskan ini perlu meninjau masalah dasar-dasar ekonomi dari melenyapnya negara.


1 Lihat F. Engels, The Housing Question (Masalah Perumahan), (K. Marx dan F. Engels Selected Woks, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid I, halaman 517-18 [back] 2 Kaum Proudhonis -pengikut-pengikut Proudhon (1809-1865), yang mengkritik kepemilikan kapitalis besar bukan dari cara pandang Marxis (atau Proletariat), melainkan dari cara pandang borjuasi kecil. Mereka berusaha mengekalkan kepemilikan pribadi yang kecil dengan penciptaan bank-bank 'rakyat' dan lain-lain reforamasi utopis, mengkombinasikan hal ini dengan pandangan-pandangan kaum Anarkis tentang negara serta suatu penyangkalan terhadap revolusi proletar. Marx membuktikan bahwa pemikiran-pemikiran Proudhon dalam bukunya Poversty of Philosophy (Filsafat Kemiskinan) adalah salah, dan aliran Proudhonis sepenuhnya dikalahkan oleh Marxisme secara luas dalam Interasionale I. [back]
3 F. Engels, The Housing Question (Masalah Perumahan), (K. Marx dan F. Engels Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid I, halaman 569. [back]
4 Kaum Blanquis -pengikut-pengikut Louis Auguste Blanqui (1805-81). Seorang revolusioner Perancis; karya-karya klasik Marxisme-Leninisme, di samping memandang Blanqui sebagai seorang revolusioner yang terkemuka dan penganut sosialisme, bersamaan itu mengkritik ia karena separatismenya dan cara-cara aktifitasnya yang bersifat komplotan. Blanquisme mengharapkan pembebasan umat mnanusia dari perbudakan upah, bisa dicapai bukan melalui perjuangan kelas, yang ditolaknya, melainkan melalui komplotan dari minoritas kecil kaum intelektual. Daripada mempersiapkan kebangkitan massa pada saat syarat-syarat revolusi tengah mematang, mereka berusaha mensubstitusikan diri sebagai aksi-aksi sadar kaum proletar. [back]
5 F. Engels, The Housing Question (Masalah Perumahan), (K. Marx dan F. Engels Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid I, halaman 555. [back]
6 Yang dimaksud oleh Lenin di sini ialah artikel K. Marx Der politische Indifferentismus (Political Indifferentism atau Kemasabodohan Politik) (K. Marx dan F. Engels, Pilihan karya, edisi bahasa Jerman, Berlin, jilid XVIII, halaman 299-304) dan artikel F. Engels On Authority (Tentang Otoritas) (K. Marx dan F. Engels Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid I, halaman 571-78). Berikutnya V. I. Lenin mengutip artikel-artikel itu juga. [back]
7 Lihat K. Marx dan F. Engels Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, jilid II, halaman 38-9 [back]
8 Program Erfurt dari Partai Sosial-Demokrat Jerman diterima dalam bulan Oktober 1891 dalam kongres Erfurt untuk mengganti program Gotha tahun 1875. Kesalahan-kesalahan program Erfurt dikritik oleh Engels dalam karyanya On the Critique of the Social-Democratic Draft Program of 1891 (Tentang Kritik Terhadap Rancangan Sosial-Demokrat tahun 1891) (K. Marx dan F. Engels Collected Works, edisi bahasa Jerman, Berlin, jilid XXII, halaman 225-40). [back]
Di halaman-halaman berikutnya, V. I Lenin mengutip karya F. Engels itu juga (ibid, halaman 232-37) [back]
9 Reichtag -nama parlemen tuan tanah borjuis Jerman; tidak punya arti lagi setelah berdirinya kediktaturan Hitleris pada tahun 1933, yang memulai "aktivitas"nya sebagai partai yang berkuasa dengan pembakaran provokativ gedung Reichtag. [back]
10 UU Anti-Sosialis diberlakukan di Jerman oleh rezim Bismarck pada tahun 1878. Menurut UU ini semua organisasi partai Sosial-Demokrat, semua organisasi massa buruh dan pers kelas buruh dilarang. Literatur sosialis disita dan kaum Sosial-Demokrat dikejar-kejar. Pada tahun 1890 UU ini dicabut kembali karena tekanan gerakan massa kelas buruh. [back]
11 Pravda (artinya "Kebenaran") --harian yang diterbitkan Lenin secara legal di St. Petersburg pada tahun 1913. Nama itu diambil dari terbitan yang dibuat Trotsky lima tahun sebelumnya, sewaktu dalam pengasingan. Kemudian Pravda menjadi organ kaum Bolsheviks dan berbeda dari terfitan lainnya. yang paling utama adalah, Pravda merupakan harian buruh yang sebenarnya, yang terhubung ke setiap pabrik. Ini berarti, ia tidak Cuma ditulis UNTUK buruh melainkan khususnya OLEH para buruh sendiri. Koresponden-koresponden buruh menyumbangkan tulisan dalam setiap edisi memberikan ulasan tentang segala aspek kehidupan buruh. Dengan begitu Pravda lebih dari sekedar sebuah harian, ia adalah organiser sesungguhnya. Di dalam halaman-halamannya tidak hanya akan didapati sejumlah besar informasi mengenai gerakan buruh melainkan juga arahan dan slogan-slogannya. Di sana juga dimuat teori sebagai alat yang diperlukan untuk meningkatkan kesadaran para pembacanya menuju level tugas-tugas yang dituntut oleh sejarah. Sebagai satu organiser, harian ini meletakkan dasar dan kerangka kerja bagi pendirian sebuah partai politik. Harian ini dibiayai oleh pengumpulan uang dalam jumlah kecil yang dikenakan pada buruh-buruh. Mseskipun artikel-artikel Lenin secara reguler dimuat di harian ini, hubungan Lenin dengan dewan redaksi, khususnya Stalin, sering kali berceksokan karena ketidaksepakatan politis tentang taktik-taktik yang berkaitan dengan Duma (parlemen Rusia), juga karena mayoritas angggota redaksi itu mengambil sikap kaum Liquidationis. [back]
12 V.I Lenin "Tentang Masalah Prinsip" (V.I Lenin, Collected Works, edisi bahasa Rusia ke-4, jilid 24, halaman 497-99). [back]
13 Yang dimaksud di sini ialah kata pendahuluan yang ditulis oleh F. Engels untuk karya K. Marx Perang Dalan Negeri Di Perancis (K. Marx dan F. Engels, Pilihan Karya, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1950, jilid I halaman 429-40)
Selanjutnya pada halaman-halam berikutnya dalam sub bab ini, V.I Lenin mengutip lagi karya Engels tersebut (buku yang telah dikutip di atas, halaman 430-31, 435, 438-40). [back]
14 Louis Eugena Cavaignac--seorang jenderal Perancis dan seorang "republikan moderat" yang sesudah revolusi Febuari 1848 menjadi Menteri Pertahanan Pemerintah Sementara Perancis. Dalam bulan Juni 1848 ia memimpin penindasan terhadap pemberontakan kaum Proletar kota Paris. Atas perintahnya untuk menembaki stiap "kaum merah yang berbahaya", 10.000 nyawa melayang. [back]
15 Los-von-Kirche-Bewegung ("Gerakan-Lepas-Dari-Gereja") atau Kirchenaustrittsbewegung (Gerakan Untuk Membebaskan Diri Dari Gereja) berskala luas di Jerman sebelum Perang Dunia I. Dalam bulan Januari 1914 Neue Zeit memulai diskusi mengenai sikap partai Sosial Demokrat Jerman terhadap gerakan itu dengan memuat artikel Paul Gohre, seorang revisionis. "Kirchenaustritsbewegung and Zosialdemokratie" ("Gerakan Untuk Membebaskan Diri Dari Gereja dan Sosial-Demokrasi"). Selama diskusi itu pemimpin-pemimpin Sosial-Demokrat Jerman yang terkemuka tidak melakukan tangkisan terhadap Gohre yang menandaskan bahwa partai harus tetap bersikap netral terhadap Gerakan Untuk Memisahkan Diri Dari Gereja dan melarang anggota-anggotanya melakukan propaganda menentang agama dan gereja demi kepentingan partai.
Nilai nominasinya kira-kira 2400 rubel, dan menurut kurs sekarang (1970, red.) kira-kira 6000 rubel. Sama sekali tidak dapat dimaafkan tindakan kaum Bolsyevik yang mengusulkan, misalnya, gaji 9000 rubel untuk anggota Duma kota ttp tidak mengusulkan gaji maksimum 6000 rubel--suatu jumlah yang cukup--untuk seluruh negara. [back]
16 Mandat yang mengikat (imperative mandate) - mandat yang harus diikuti dengan seksama oleh orang atau organ yang terpilih. [back]
17 Tentang Masalah-Masalah Internasional Dari "Negara Rakyat" [back]
18 kaum Lassallean -pendukung-pendukung Ferdinand Lassalle, seorang sosialis borjuis kecil Jerman, yaitu anggota-anggota Serikat Umum Buruh Jerman, yang didirikan dalam Kongres Organisasi-organisasi Buruh yang diselenggarakan Leipzig tahun 1865 untuk mengimbangi kaum progresif borjuis yang berusaha memperoleh pengaruh di kalangan kelas buruh. Lassalle adalah ketua pertama dari serikat itu, sekaligus yang merumuskan program serta dasar-dasar taktiknya. Program politik serikat itu adalah perjuangan untuk memperoleh hak pilih bagi kaum buruh, dan program ekonominya adalah perjuangan untuk serikat-serikat proletar kaum buruh yang harus diberi tunjangan oleh negara. Dalam kegiatan-kegiatan praktis mereka, mereka menyesuaikan diri dengan hegemoni Prusia dan mendukung politik negara besar Bismarck. "Secara obyektif", tulis Engels kepada Marx pada tanggal 27 Januari 1865, "ini merupakan perbuatan rendah dan penghianatan seluruh gerakan kelas buruh terhadap orang-orang Prusia. Marx dan Engels sering dan dengan tajam mengkritik teori, taktik, dan prinsip-prinsip organisasi kaum Lassallean sebagai aliran oportunis dalam gerakan kelas buruh Jerman. [back]
19 F. Engels, Vorwort zur Broschure "Internationales aus dem 'Volksstaat' (1871-75)" (Karl Marx dan Frederick Engels, Collected Works , edisi bahasa Jerman, Berlin, 1963, Vol. XXII, pp. 417-18) [back]
20 "Mayoritas" dalam bahasa Rusia adalah "bolshinstvo"; dari sinilah asal nama "Bolshevik". [back]


DASAR-DASAR EKONOMI MELENYAPNYA NEGARA


Penjelasan yang paling mendalam mengenai masalah ini diberikan oleh Marx dalam karyanya Kritik Terhadap Progam Gotha (Surat Kepada Bracke, 5 Mei 1875, yang dimuat baru pada tahun 1891 dalam Neue Zeit. No 1, IX, dan yang terbit dalam edisi khusus bahasa Rusia.) Bagian polemik dari karya yang cemerlang ini, yang merupakan kritik terhadap Lassalleanisme boleh dikatakan mendesak ke belakang bagiannya yang positif, yaitu: analisa mengenai hubungan antara perkembangan Komunisme dengan melenyapnya negara.

1. PENGEMUKAAN MASALAH OLEH MARX
Dengan membandingkan secara dangkal surat Marx kepada Bracke tertanggal 5 Mei 1875 dengan surat Engels kepada Bebel tertanggal 28 Maret 1875 yang telah dibicarakan di atas, maka bisa nampak bahwa Marx jauh lebih merupakan "pembela negara" dari pada Engels dan bahwa perbedaan pandangan di antara kedua penulis ini mengenai masalah negara sangat besar.
Engels menyarankan kepada Bebel supaya segala ocehan tentang negara dihentikan sama sekali; supaya kata "negara" dihapuskan sama sekali dari program dan diganti dengan kata "persekutuan hidup" Engels bahkan menyatakan bahwa komune bukan lagi negara dalam arti kata yang sebenarnya. Sedang Marx bahkan bebicara tentang "ketatanegaraan masa depan dari masyarakat Komunis", yaitu seolah-olah ia mengakui keharusan akan negara bahkan di bawah Komunisme.
Tetapi pandangan semacam itu akan salah secara fundamental. Peninjauan yang lebih seksama menunjukkan bahwa pandangan Marx dan Engels mengenai negara dan melenyapnya adalah sepenuhnya sama, sedang pernyataan Marx yang dikutip di atas justru bersangkutan dengan ketatanegaraan yang sedang melenyap ini.
Jelaslah, tidak mungkin berbicara tentang menentukan saat "melenyapnya" di masa depan &emdash;lebih-lebih lagi karena ia jelas akan merupakan proses yang berjangka panjang. Perbedaan yang seolah-olah ada antara Marx dan Engels ialah karena tema yang mereka ambil dan tujuan yang mereka kejar berbeda. Engels bertujuan menunjukkan kepada Bebel dengan jelas-tegas, tajam dan dalam garis besar tentang seluruh kenonsenan prasangka yang sedang umum berlaku (dan yang tidak sedikit juga dimiliki oleh Lassale) mengenai negara. Marx hanya sepintas lalu menyinggung masalah ini, karena menaruh perhatian pada tema lain: perkembangan masyarakat Komunis.
Seluruh teori Marx adalah aplikasi teori perkembangan &emdash;dalam bentuknya yang paling konsekuen, lengkap, dipertimbangkan masak-masak, dan kaya isinya &emdash;pada kapitalisme modern. Wajarlah lalu Marx menghadapi masalah mengaplikasi teori ini baik pada keruntuhan kapitalisme yang mendatang maupun pada perkembangan masa depan dari Komunisme masa depan.
Jadi, atas dasar data-data apa masalah perkembangan masa depan dari Komunisme masa depan dapat dikemukakan?
Atas dasar bahwa Komunisme berasal dari kapitalisme, berkembang secara historis dari kapitalisme dan merupakan hasil aksi kekuatan sosial yang dilahirkan oleh kapitalisme. Pada Marx sedikit pun tidak ada tanda-tanda usaha untuk mengarang-ngarang utopi, menebak-nebak saja sesuatu yang tidak dapat diketahui. Marx mengajukan masalah Komunisme itu seperti seorang ahli ilmu alam mengajukan masalah perkembangan dari, katakanlah, satu macam biologi yang baru, setelah mengetahui bagaimana jenis biologi itu timbul dan ke arah tertentu mana ia akan berubah.
Pertama-tama Marx menyapu bersih kekusutan yang dimaksudkan oleh program Gotha ke dalam masalah hubungan antara negara dan masyarakat. Ia menulis:
"Masyarakat sekarang adalah masyarakat kapitalis, yang terdapat di semua negeri yang beradab, yang sedikit atau banyak bebas dari campuran-campuran tambahan yang berasal dari jaman tengah, yang sedikit atau banyak telah diubah oleh kekhusus-khususan perkembangan sejarah setiap negeri, yang sedikit atau banyak telah berkembang. Di pihak lain, 'negara sekarang' berubah menurut setiap perbatasan negara. Di kekaisaran Prusia Jerman, ia sama sekali lain dari pada di Swiss, di Inggris sama sekali lain dari pada di Amerika Serikat. Jadi, 'negara sekarang' adalah fiksi semata.
Tetapi, walaupun bentuk-bentuk beraneka ragam, negara-negara yang berlainan dari negeri-negeri beradab yang berlainan itu semuanya mempunyai keumuman bahwa mereka berlandaskan masyarakat borjuis modern, yang sedikit atau banyak telah berkembang secara kapitalis. Oleh karena itu mereka mempunyai ciri-ciri hakiki tertentu yang sama. Dalam arti inilah kita bisa berbicara tentang 'ketatanegaraan sekarang' pertentangan dengan masa depan di mana akarnya yang sekarang, yaitu masyarakat borjuis sudah punah.
"Lalu timbul pertanyaan: perubahan apa yang akan dialami oleh ketatanegaraan dalam masyarakat Komunis? Dengan kata lain, fungsi-fungsi sosial apa yang akan masih tetap ada, yang serupa dengan fungsi-fungsi negara yang sekarang? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab secara ilmiah, dan seorang tak dapat mendekati permasalahan ini dengan seribu kali mengkombinasikan kata 'rakyat' dengan kata 'negara'(1)."
Setelah mentertawakan secara demikian semua pembicaraan tentang "negara rakyat", Marx memformulasikan masalah itu dan seakan-akan memperingatkan kita bahwa untuk menjawab secara ilmiah masalah tersebut hanya dapat dengan menggunakan bahan-bahan ilmiah yang sudah pasti.
Hal pertama yang telah dibuktikan dengan sepenuhya tepat oleh seluruh teori perkembangan, oleh seluruh ilmu pada umumnya &emdash;hal yang telah dilupakan kaum utopis dan dilupakan oleh kaum oportunis masa kini yang takut akan revolusi sosialis&emdash; ialah bahwa menurut sejarah tidak dapat diragukan lagi harus ada suatu tingkat khusus atau tahap khusus transisi dari kapitalisme ke Komunisme.

2. PERALIHAN DARI KAPITALISME KE KOMUNISME
Marx melanjutkan:
"Di antara masyarakat kapitalis dengan masyarakat Komunis terdapat periode perubahan revolusioner dari yang satu menjadi yang lain. Sesuai dengan periode ini terdapat pula periode peralihan politik di mana negara tidak dapat lain kecuali diktatur revolusioner proletariat"É
Marx medasarkan kesimpulan ini atas analisa tentang peranan yang dilakukan oleh proletariat dalam masyarakat kapitalis modern, atas bahan-bahan tentang perkembangan masyarakat tersebut dan tentang tak terdamaikannya kepentingan-kepentingan yang berlawanan dari proletariat dan borjuasi.
Sebelum itu masalah tersebut diajukan demikian: untuk mencapai kebebasannya proletariat harus menggulingkan borjuasi, merebut kekuasaan politik dan menegakkan diktatur revolusionernya.
Sekarang masalah itu diajukan secara agak berlainan: peralihan dari masyarakat kapitalis, yang berkembang ke Komunisme, ke masyarakat Komunis tidak mungkin tanpa "periode peralihan politik", dan negara periode ini hanya bisa diktatur revolusioner proletariat.
Lalu bagaimana hubungan diktatur ini dengan demokrasi?
Kta telah melihat bahwa Manifesto Komunis hanya menjajarkan dua konsepsi: "mengubah proletariat menjadi kelas yang berkuasa" dan "memenangkan demokrasi." Atas dasar semua yang telah dikemukakan di atas bisa dengan lebih tepat ditentukan bagaimana demokrasi berubah dalam peralihan dari kapitalisme ke Komunisme.
Dalam masyarakat kapitalis, di bawah syarat-syarat yang paling menguntungkan bagi perkembangan nya, kita mendapatkan demokratisme yang sedikit atau banyak sempurna dalam republik demokratis. tetapi demokratisme ini senantiasa disekap dalam bingkai sempit penghisapan kapitalisme, dan oleh karena itu pada hakekeatnya selalu merupakan demokratisme untuk minoritas, hanya untuk kelas-kelas bermilik, hanya untuk kaum kaya. Kebebasan masyarakat kapitalisme selamanya tetap kira-kira sama dengan kebebasan republik-republik Yunani kuno; kebebasan untuk kaum pemilik budak. Disebabkan oleh syarat-syarat penghisapan kapitalis, budak-budak upahan msa kini tetap begitu terhimpit oleh lelurangan dan kemiskinan sehingga mereka "tidak sempat menghiraukan demokrasi", "tidak sempat menghiraukan politik", sehingga dalam proses peristiwa-peristiwa yang biasa dan damai mayoritas penduduk dihalang-halangi untuk ikut serta dalam kehidupan sosial dan politik.
Kebenaran pernyataan ini mungkin paling jelas diperkuat oleh Jerman, justru karena di negara itu legalitas konstitusional dapat bertahan sangat lama dan stabil hampil setengah abad (1871-1914), dan selama masa ini Sosial-Demokrasi telah sempat berbuat jauh lebih banyak untuk "menggunakan legalitas" dari pada di negeri-negeri lain dan untuk mengorganisasi kaum buruh menjadi partai politik dalam proporsi yang lebih tinggi dari pada di mana pun di dunia ini.
Berapakah proporsi yang tertinggi dari budak-budak upahan yang sadar akan politik dan aktiv ini yang terdapat di dalam masyarakat kapitalis? Satu juta anggota partai Sosial-Demokrat &emdash;dari lima belas juta buruh upahan! Tiga juta yang terorganisasi dalam Serikat Buruh &emdash;dari lima belas juta!
Demokrasi untuk minoritas yang sangat kecil, demokrasi untuk kaum kaya &emdash;itulah demokratisme masyarakat kapitalis. Jika kita perhatikan lebih teliti lagi mekanisme demokrasi kapitalis, maka akan kita lihat di mana saja, baik dalam hal-hal "kecil" &emdash;seolah-olah kecil&emdash;dari hak pilih (syarat masa bertempat tinggal, pengucilan wanita, dsb.), dalam teknik lembaga-lembaga perwakilan, dalam rintangan-riontangan yang nyata terhadap hak berkumpul (gedung-gedung umum bukan untuk kaum "pengemis"!), maupun dalam pengorganisiran pers harian yang sepenuhnya secara kapitalis, dst., dst., --akan kita lihat pembatasan demi pembatasan terhadap demokratisme. Pembatasan-pembatasan, pengecualian-pengecualian, pengucilan-pengucilan, rintangan-rintangan untuk kaum miskin ini nampaknya kecil, terutama di mata orang yang tidak pernah mengenal sendiri kemelaratan dan yang tidak pernah berhubungan erat dengan kelas-kelas tertindas dalam kehidupan massa mereka (dan yang demikian itu adalah sembilan per sepuluh, jika bukan sembilan puluh sembilan per seratus, dari publisis-publisis dan politikus-politikus borjuis) &emdash;tetapi jika dijumlahkan semuanya, pembatasan-pembatasan ini mengucilkan dan mengusir kaum miskin dari politik, dari keikutsertaan yang aktiv dalam demokrasi.
Marx dengan cemerlang menangkap hakekat demokrasi kapitalis tersebut, ketika mengatakan dalam analisanya atas pengalaman komune: kaum tertindas sekali dalam beberapa tahun dibolehkan menentukan wakil-wakil yang mana dari kelas penindas akan mewakili dan menindas mereka di dalam parlemen!
Tetapi dari demokrasi kapitalis ini &emdash;yang tidak dapat tidak sempit, dan secara sembunyi-sembunyi menyisihkan kaum miskin, dan karenanya munafik dan palsu sama sekali&emdash;perkembangan maju tidak berlangsung sederhana, harus dan lancar menuju "demokrasi yang makin lama makin besar", sebagaimana hanya dibayangkan para profesor liberal dan kaum oportunis borjuis kecil. Tidak. Perkembangan maju, yaitu ke Komunisme, berlangsung melalui diktatur, dan tidak bisa lain, sebab perlawanan kaum penghisap kapitalis tidak bisa dipatahkan oleh orang lain atau dengan cara lain.
Dan diktatur proletariat, yaitu organisasi pelopor dari kaum tertindas sebagai kelas yang berkuasa untuk menindas kaum penindas, tidak dapat memberikan hanya perluasan demokrasi semata-mata. Bersamaan dengan perluasan demokratisme secara besar-besaran, yang untuk pertama kalinya menjadi demokratisme untuk kaum miskin, demokratisme untuk rakyat, dan bukannya demokratisme untuk kaum kaya, diktatur proletariat mengadakan serangkaian pembatasan terhadap kebebasan kaum penindas, kaum penghisap, kaum kapitalis. Kita harus menindas mereka untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan upah, perlawanan mereka harus dipatahkan dengan kekerasan &emdash;jelas bahwa di mana ada penindasan, ada kekerasan, tidak ada kebebasan, tidak ada demokrasi.
Engels menyatakan hal ini dengan amat cemerlang dalam suratnya kepada Bebel ketika mengatakan, sebagaimana pembaca akan ingat, bahwa "proletariat memerlukan negara bukan demi kepentingan kebebasan, melainkan demi kepentingan penindasan atas lawan-lawannya dan ketika ada kemungkinan berbicara tentang kebebasan &emdash;negara tidak ada lagi."
Demokrasi untuk mayoritas maha luas rakyat dan penindasan dengan kekerasan, yaitu pengucilan dari demokrasi terhadap kaum penghisap dan penindas rakyat &emdash;demikianlah perubahan demokrasi selama peralihan dari kapitalisme ke Komunisme.
Hanya dalam masyarakat Komunis, ketika perlawanan kaum kapitalis sudah dipatahkan secara pasti, ketika kaum kapitalis sudah lenyap, ketika tidak ada kelas-kelas (yaitu tidak ada perbedaan di antara anggota-anggota masyarakat dalam hal hubungan mereka dengan alat-alat produksi sosial) &emdash;barulah "negara lenyap dan dapat berbicara tentang kebebasan". Baru pada waktu itulah mungkin dan akan dilaksanakan demokrasi yang sungguh-sungguh penuh, sungguh-sungguh tanpa pengecualian. Dan baru pada waktu itulah demokrasi akan mulai melenyap disebabkan oleh kenyataan sederhana bahwa, setelah dibebaskan dari perbudakan kapitalis, dari kengerian yang tak terhitung banyaknya, kebuasan, ketidakmasukakalan, dan kekejian kapitalis, orang berangsur-angsur akan terbiasa mentaati peraturan-peraturan elementer dari pergaulan umum yang telah dikenal berabad-abad dan diulang-ulangi selama beribu-ribu tahun dalam petatah-petitih, mentaatinya tanpa kekerasan, tanpa paksaan, tanpa penundukkan, tanpa aparat khusus untuk memaksa, yang disebut negara.
Ungkapan "negara melenyap" dipilih dengan sangat cocok, sebab ia menunjukkan baik keberangsur-angsuran proses maupun kespontanannya. Hanya kebiasaan yang dapat dan pasti akan mempunyai pengaruh semacam itu, sebab kita melihat di sekeliling kita jutaan kali betapa mudahya orang terbiasa mentaati peraturan-peraturan pergaulan yang mereka perlukan bila mana tidak ada penghisapan bila mana tidak ada sesuatu yang menimbulkan kemarahan, yang membangkitkan protes, serta pemberontakan dan yang menyebabkan diperlukannya penindasan.
Dan juga dalam masyarakat kapitalis kita mendapatkan demokrasi yang terpotong, miskin, palsu; sebuah demokrasi yang hanya untuk kaum kaya, untuk minoritas. Diktatur proletariat, periode transisi ke Komunisme, untuk pertama kalinya memberikan demokrasi kepada rakyat, kepada mayoritas, di samping penindasan yang diperlukan terhadap minoritas, kaum penghisap. Hanya Komunisme sajalah yang mampu memberikan demokrasi yang benar-benar penuh, dan makin penuh demokrasi, makin cepat ia akan menjadi tak diperlukan lagi dan melenyap dengan sendirinya.
Dengan kata lain: di bawah kapitalis kita mendapatkan negara dalam arti kata yang sesungguhnya, yaitu mesin penindas khusus dari satu kelas terhadap kelas yang lain dan bahkan dari minoritas terhadap mayoritas. Sewajarnyalah bahwa untuk berhasilnya usaha seperti penindasan yang sistematis terhadap mayoritas kaum terhisap oleh minoritas kaum penghisap dibutuhkan penindasan yang luar biasa kejam dan buasnya, dibutuhkan lautan darah dan umat manusia menempuh lautan darah ini dalam keadaan perbudakan, perhambaan, dan kerja upahan.
Selanjutnya, selama transisi dari kapitalisme ke Komunisme itu penindasan masih diperlukan, tetapi sudah merupakan penindasan terhadap minoritas kaum penghisap oleh mayoritas kaum terhisap. Aparat khusus, mesin khusus untuk menindas, "negara" masih diperlukan, tetapi ini sudah merupakan negara transisional, sudah bukan lagi negara dalam arti kata yang sebenarnya, sebab penindasan terhadap minoritas kaum penghisap oleh mayoritas kaum budak upahan yang kemarin adalah hal yang relatif demikian mudah, sederhana, dan wajarnya, sehingga ia akan meminta pertumpahan darah yang jauh lebih sedikit dari pada penindasan terhadap pemberontakan-pemberontakan kaum budak, hamba, buruh upahan, sehingga ia akan meminta kepada umat manusia biaya yang jauh lebih murah. Dan penindasan itu sejalan dengan perluasan demokrasi sampai kepada mayoritas mutlak penduduk yang sedemikian rupa, sehingga kebutuhan akan mesin khusus untuk menindas akan mulai menghilang. Kaum penghisap sudah sewajarnya tidak mampu menndas rakyat tanpa mesin yang sangat rumit untuk menjalankan tugas ini, tetapi rakyat dapat menindas kaum penghisap bahkan dengan "mesin" yang sangat sederhana, hampir tanpa "mesin", tanpa aparat khusus, dengan organisasi massa bersenjata yang sederhana (seperti Soviet-Soviet Wakil Buruh dan Prajurit &emdash;kita katakan dengan sedikit lancang).
Akhirnya, hanya Komunisme yang menjadikan negara sama sekali tidak diperlukan sebab tidak ada yang harus ditindas &emdash;"tidak ada" dalam arti kelas, dalam arti perjuangan yang sistematis melawan bagian tertentu penduduk. Kita bukan kaum utopis, dan sedikit pun tidak mengingkari kemungkinan dan tak terelakkannya ekses-ekses oknum-oknum individual, dan juga keharusan menindas ekses-ekses semacam itu. Tetapi pertama, untuk itu tidak diperlukan mesin khusus, aparat khusus untuk menindas; hal itu akan dikerjakan oleh rakyat bersenjata sendiri, sama sederhana dan sama mudahnya seperti setiap kelompok orang beradab, bahkan dalam masyarakat modern, melerai orang-orang yang sedang berkelahi atau mencegah perkosaan terhadap perempuan. Dan kedua, kita tahu bahwa akar sosial ekses-ekses, yang berupa pelanggaran terhadap peraturan-peraturan pergaulan umum, adalah penghisapan terhadap massa, kekurangan dan kemiskinan mereka. Dengan dihilangkannya sebab utama ini, ekses-ekses ini pasti akan mulai "melenyap'. Kita tidak tahu seberapa cepat dan berapa derajad keberangsur-angsurannya, tetapi kita tahu bahwa ekses-ekses itu akan melenyap. Dengan melenyapnya ekses-ekses itu negara pun akan melenyap.
Tanpa terjebak ke dalam utopi, Marx mendefinisikan lebih terperinci apa yang sekarang dapat didefinisi mengenai masa depan tersebut, yaitu: perbedaan antaara tahap yang lebih rendah dengan tahap (taraf, tingkat) yang lebih tinggi dari masyarakat Komunis.

3. TAHAP TINGGI MASYARAKAT KOMUNIS
Dalam Kritik Terhadap Program Gotha Marx dengan panjang lebar membantah ide Lassalle bahwa di bawah sosialisme buruh akan menerima "hasil yang tidak dikurangi" ataupun "hasil penuh dari kerja". Marx menunjukkan bahwa dari seluruh kerja sosial dari seluruh masyarakat harus diambil untuk dana cadangan, dana untuk perluasan produksi, untuk penggantian mesin-mesin yang "aus", dst., kemudian dari bbarangbarang konsumsi harus diambil untuk dana guna biaya administrasi, untuk sekolah, rumah sakit, rumah perawatan orang-orang lanjut usia, dan seterusnya.
Berbeda dengan kata-kata Lassale yang kabur, tidak jelas dan umum ("hasil penuh dari kerja untuk buruh"), Marx membuat perhitungan yang cermat tentang bagaimana tepatnya masyarakat sosialisme harus mengurus rumah tangganya. Marx sampai pada analisa kongkrit tentang syarat-syarat hidup suatu masyarakat di mana tidak akan ada kapitalisme dan mengatakan:
"Kita berurusan di sini" (dalam menganalisa program partai buruh) "bukan dengan masyarakat Komunis yang berkembang di atas dasarnya sendiri, melainkan dengan masyarakat Komunis yang justru baru muncul dari masyarakat kapitalis dan yang oleh karena itu dalam segala hubungan, dalam ekonomi, moral, dan intelek masih membawa bekas-bekas masyarakat yang lama, yang dari rahimnya masyarakat Komunis itu lahir."
Dan masyarakat Komunisme inilah &endash;yang baru saja lahir di dunia dari kandungan kapitalisme, yang dalam segala hubungan membawa bekas-bekas masyarakat lama&emdash;yang oleh Marx dinamakan tahap "pertama", atau tahap yang lebih rendah dari, masyarakat Komunis.
Alat-alat produksi sudah bukan lagi menjadi milik pribadi secara individual. Alat-alat produksi menjadi milik seluruh masyarakat. Setiap anggota masyarakat yang telah melakukan bagian tertentu dari kerja-perlu sosial, menerima surat kepercayaan dari masyarakat bahwa ia telah melakukan sekian banyak kerja. Dengan surat keterangan ini ia menerima sejumlah barang hasil yang sesuai dari gudang umum barang-barang konsumsi. Sesudah jumlah kerja dikurangi untuk dana umum, maka setiap buruh menerima dari masyarakat sebanyak yang telah ia berikan kepadanya.
Nampaknya seakan-akan "persamaan" berdominasi.
Tetapi ketika Lassalle mengatakan, dengan memaksudkan tata tertib masyarakat semacam itu (biasanya disebut sosialisme, tetapi oleh Marx dinamakan tahap pertama Komunisme), bahwa itu adalah "pembagian adil", bahwa itu adalah "hak sama setiap orang atas kerja yang sama", maka Lassalle salah, dan Marx membeberkan kesalahannya itu.
"Hak sama", kata Marx, memang kita jumpai di sini, tetapi ini masih "hak borjuis" yang, seperti halnya setiap hak, mensyaratkan ketidaksamaan. Setiap hak adalah penerapan ukuran yang sama pada orang-orang yang berbeda-beda, yang dalam kenyataannya tidak sama, tidak sama satu dengan lainnya; dan karena itu "hak sama" adalah pelanggaran terhadap persamaan dan adalah ketidakadilan. Memang, setiap orang, yang telah melakukan kerja sosial sebanyak yang dilakukan orang lain, menerima bagian yang sama dari produksi masyarakat (sesudah dikurangi seperti tersebut di atas).
Padahal orang tidak sama satu dengan yang lainnya; yang satu lebih kuat, yang lain lebih lemah; yang satu menikah, yang lainnya tidak; yang satu mempunyai lebih banyak anak, yang lain lebih sedikit, dan seterusnya. Dan konklusi yang ditarik Marx adalah:
"É dengan kerja yang sama, dan oleh karenanya dengan saham yang sama dalam dana konsumsi sosial, yang satu sebenarnya menerima lebih banyak dari pada yang lain, yang satu lebih kaya dari pada yang lain, dan seterusnya. Untuk menghindari semuanya ini, hak bukannya harus sama tetapi harus tidak sama."
Maka itu tahap pertama komunisme masih belum dapat memberikan keadilan dan persamaan; perbedaan-perbedaan dalam kekayaan dan perbedaan-perbedaan yang tidak adil akan tetap ada, tetapi penghisapan atas manusia oleh manusia akan menjadi tidak mungkin, sebab tidak mungkin merebut alat-alat pruduksi, pabrik, mesin, tanah, dsb, untuk dijadikan milik perseorangan. Dengan menghantam kata-kata yang bersifat borjuis kecil dan samar-samar dari Lassalle tentang "persamaan" dan "keadilan" pada umumnya, Marx menunjukan jalannya perkembangan masyarakat Komunis, yang pada mulanya terpaksa hanya menghapuskan "ketidakadilan", yaitu bahwa alat-alat produksi direbut oleh satu-satu orang, dan yang tidak mampu segera menghapuskan ketidakadilan selanjutnya, yang berupa pembagian barang-barang konsumsi "menurut kerja" (dan bukan menurut kebutuhan).
Ahli-ahli ekonomi yang vulgar, termasuk profesor-profesor borjuis, termasuk Tugan (2) "kita", senantiasa mengumpat kaum sosialis seolah-olah mereka melupakan ketidaksamaan di antara orang-orang dan "bermimpi" menghapuskan ketidaksamaan ini. Umpatan demikian itu, seperti yang kita lihat, hanyalah membuktikan ketidaktahuan yang keterlaluan dari tuan-tuan ideolog borjuis.
Marx tidak saja dengan secermat-cermatnya memperhitungkan ketidaksamaan yang tak terelakkan di antara orang-orang, tetapi ia memperhitungkan juga bahwa pengubahan alat-alat produksi menjadi milik bersama seluruh masyarakat (yang bisa disebut "sosialisme") itu saja tidak meniadakan kelemahan-kelemahan dalam pembagian dan ketidaksamaan "hak borjuis" yang masih terus berdominasi, karena barang-barang hasil dibagi "menurut kerja". Marx melanjutkan:
"Tetapi kelemahan-kelemahan ini tak terelakkan dalam tahap pertama masyarakat Komunis, sebagaimana adanya ketika ia baru lahir sesudah nyeri melahirkan yang berlangsung lama dari masyarakat kapitalis. Hak tidak akan bisa lebih tinggi dari pada susunan ekonomi masyarakat dan perkembangan kebudayaan masyarakat yang ditentukan oleh susunan itu."
Dengan demikian, dalam tahap pertama masyarakat Komunis (yang biasanya disebut sosialisme) "hak borjuis" tidak dihapuskan sepenuhnya, tetapi hanya sebagian, hanya yang sesuai dengan revolusi ekonomi yang telah dicapai, yaitu hanya dalam hubungan dengan alat-alat produksi saja. "Hak borjuis" mengakui alat-alat produksi sebagai milik perseorangan dari satu-satu orang. Sosialisme menjadikan alat-alat produksi itu milik bersama. Sejauh itu &endash;dan hanya sejauh itu&emdash;"hak borjuis" tidak ada lagi. Nagaimanapun, ia tetap ada dalam bagiannya yang lain, ia tetap ada sebagai pengatur (penentu) dalam pembagian barang-barang hasil dan pembagian kerja di antara anggota-anggota masyarakat. "Siapa yang tidak bekerja tidak akan makan", prinsip sosialis ini sudah direalisasikan; prinsip sosialis "Jumlah barang hasil yang sama untuk jumlah kerja yang sama" inipun sudah dilaksanakan. Tetapi ini belum Komunisme, dan ini belum menghapuskan "hak borjuis", yang memberikan jumlah barang hasil yang sama kepada orang-orang yang tidak sama untuk jumlah kerja yang tidak sama (benar-benar tidak sama).
Ini adalah "kelemahan", kata Marx, tetapi ia tak terelakkan dalam tahap pertama Komunisme, sebab supaya tidak terjerumus ke dalam utopisme, orang tidak boleh beranggapan bahwa setelah penggulingan kapitalisme orang-orang akan segera dapat bekerja untuk masyarakat tanpa segala patokan hak; dan memang penghapusan kapitalisme tidak segera menciptakan prasyarat-prasyarat ekonomi untuk perubahan semacam itu.
Sedang patokan-patokan lain kecuali "hak borjuis" tidak ada. Maka sejauh itu masih tetap diperlukan adanya negara, yang dengan melindungi pemilikan umum atas alat-alat produksi, akan mempertahankan persamaan kerja dan persamaan pembagian barang hasil.
Negara melenyap sejauh telah tidak ada kaum kapitalis, kelas-kelas, dan konsekuensinya, tidak ada kelas apapun yang dapat ditindas.
Tetapi negara belum melenyap sepenuhnya, sebab masih ada perlindungan terhadap "hak borjuis", yang mensucikan ketidaksamaan yang sebenarnya. Untuk melenyapnya sama sekali negara dibutuhkan Komunisme yang penuh.

4. TAHAP TINGGI MASYARAKAT KOMUNIS
Marx melanjutkan:
"Dalam tahap tinggi masyarakat Komunis, setelah lenyapnya ketundukan yang membudak dari manusia pada pembagian kerja masyarakat; setelah bersamaan dengan itu lenyap pula pertentangan antara kerja badan dengan keja otak; setelah kerja tidak lagi menjadi sarana untuk hidup saja, tetapi menjadi kebutuhan utama hidup; setelah bersamaan dengan perkembangan menyeluruh setiap individu tumbuh juga tenaga-tenaga produktif dan semua sumber kekayaan masyarakat mengalir dengan melimpah ruah&emdash;baru pada waktu itulah horison sempit hak borjuis akan dapat dilampaui sepenuhnya, dan masyarakat dapat menulis pada panji-panjinya: 'Masing-masing menurut kemampuannya, untuk masing-masing menurut kebutuhannya' ".
Baru sekaranglah kita dapat menilai seluruh kebenaran pendapat Engels, ketika ia tanpa ampun mengejek ketololan menggabungkan kata-kata "kebebasan" dengan "negara". Selama ada negara, tidak ada kebebasan. Ketika ada kebebasan, tidak ada negara.
Dasar ekonomi untuk melenyapnya negara dengan sepenuhnya adalah perkembangan Komunisme yang sedemikian tinggi di mana pertentangan antara kerja badan dengan kerja otak lenyap, oleh karena itu lenyap pula salah satu sumber terpenting dari ketidaksamaan sosial modern dan lagi pula sumber yang bagai manapun juga tidak dapat dihapuskan segera hanya semata-mata dengan penyitaan milik kaum kapitalis.
Penyitaan milik ini akan memberi kemungkinan bagi perkembangan yang besar-besaran dari tenaga-tenaga produktif. Dan, bila kita melihat betapa tak terbayangkannya kapitalisme sekarang sudah menghambat perkembangan tersebut dan betapa banyaknya yang akan dapat didorong maju atas dasar teknik modern yang sudah dicapai, maka kita berhak dengan keyakinan sepenuh-penuhnya mengatakan bahwa penyitaan milik kaum kapitalis tak terelakkan akan menyebabkan perkembangan yang besar-besaran dari tenaga-tenaga produktif masyarakat manusia. Tetapi berapa lama perkembangan ini akan berlangsung terus, kapan ia akan sampai pada titik pisah dengan pembagian kerja, sampai pada penghapusan pertentangan antara kerja badan dengan kerja otak, sampai pada pengubahan kerja menjadi "kebutuhan utama hidup", hal ini kita tidak tahu dan tidak dapat tahu.
Itulah mengapa kita hanya berhak berbicara tentang melenyapnya negara yang tak terhindarkan, dengan menekankan sifat jangka panjang proses tersebut, ketergantuannya pada kecepatan perkembangan tahap tinggi Komunisme dan dengan membiarkan masalah jangka waktu atau bentuk-bentuk kongkrit melenyapnya negara sepenuhnya menggantung, sebab tidak ada bahan-bahan untuk menjawab masalah-masalah ini.
Akan mungkin bagi negara untuk melenyap sepenuhnya ketika masyarakat melaksanakan ketentuan: "masing-masing menurut kemampuannya, untuk masing-masing menurut kebutuhannya", yaitu ketika orang-orang menjadi sedemikian terbiasa mentaati peraturan-peraturan dasar pergaulan umum dan ketika kerja mereka menjadi begitu produktifnya, sehingga mereka dengan sukarela akan bekerja menurut kemampuannya. "Horison sempit hak borjuis" yang memaksa orang menghitung-menghitung dengan kekejaman hati seorang Shylock (3) , apakah tidak bekerja setengah jam lebih banyak dari pada yang lain, apakah tidak menerima upah kurang dari pada yang lain&emdash;harison sempit ini pada waktu itu akan terlampaui. Ketika itu dalam pembagian barang-barang hasil masyarakat tidak perlu menentukan jumlah barang hasil yang harus diterima oleh masing-masing; masing-masing akan mengambil dengan bebas "menurut kebutuhannya".
Dari sudut pandang borjuis, adalah mudah untuk menyatakan bahwa susunan masyarakat semacam itu adalah "utopi belaka" dan mengejek kaum sosialis karena menjanjikan kepada masing-masing hak untuk menerima cendawan, mobil, piano, dsb. Berapa saja dari masyarakat, tanpa pengawasan apapun atas kerja setiap penduduk. Bahkan sampai sekarangpun mayoritas "sarjana" borjuis membatasi diri pada ejekan seperti ini yang dengan ini menunjukan baik kebodohan mereka maupun pembelaan mereka yang berpamrih terhadap kapitalisme.
Kebodohan &emdash;sebab tak pernah terlintas dalam kepala seorang sosialispun untuk "menjanjikan" bahwa tahap tinggi perkembangan Komunisme akan tiba, sedangkan ramalan orang-orang sosialis yang besar bahwa ia akan tiba mensyaratkan bukan produktivitas kerja yang sekarang dan juga bukan orang kebanyakan yang sekarang, yang mampu merusak gudang-gudang kekayaan masyarakat "hanya untuk kesenangan" dan menuntut apa yang tidak mungkin seperti merid-murid seminari dalam kisah-kisah karangan Pomyalovski (4)
Sampai tahap "lebih tinggi" dari Komunisme tiba, kaum sosialis menuntut adanya pengawasan yang sekeras-kerasnya dari pihak masyarakat dan serikat pihak negara atas ukuran kerja dan ukuran konsumsi, tetapi pengawasan in harus dimulai dengan penyitaan milik kaum kapitalis, dengan pengawasan kaum buruh atas kaum kapitalis dan harus dijalankan bukan oleh negara kaum birokrat, melainkan oleh negara kaum buruh bersenjata.
Pembelaan berpamrih atas kapitalisme oleh para ideolog borjuis (dan penjilat-penjilatnya seperti tuan-tuan yang sebangsa Tuan Tsereteli, Tuan Cernov dan rekannya) justru terletak dalam hal bahwa mereka dengan perdebatan-perdebatan dan pembicaraan-pembicaraan tentang masa depan yang jauh mengganti masalah politik sekarang yang mendesak dan hangat: penyitaan milik kaum kapitalis, pengubahan semua warga negara menjadi pekerja dan pegawai dari satu "sindikat" besar, yaitu: seluruh negara, dan ketundukan sepenuhnya semua kerja dari seluruh sindikat ini kepada negara yang sungguh-sungguh demokratis, kepada negara soviet-soviet Wakil Buruh dan Prajurit.
Sebenarnya, ketika profesor yang ahli, dan sesudah dia si filistin, dan sesudah si filistin ini tuan-tuan yang sebangsa Tuan Tsereteli dan Tuan Cernov, berbicara tentang utopi-utopi yang gila, tentang janji-janji demagogis kaum Bolshevik, tentang ketidakmungkinan "melaksanakan" sosialisme, yang mereka maksudkan justru tingkat atau tahap tinggi Komunisme, yang tidak seorangpun pernah menjanjikan atau bahkan memikirkan "pengantar"nya, karena ia secara umum tidak dapat "dilaksanakan".
Dan di sini kita sampai pada masalah tentang perbedaan ilmiah antara sosialisme dengan Komunisme, yang telah disinggung oleh Engels dalam argumennya yang telah dikutip di atas tentang ketidaktepatan nama "Sosial-Demokrat". Secara politik perbedaan antara tahap pertama atau tahap rendah dengan tahap tinggi Komunisme, mungkin, pada suatu ketika akan besar sekali, tetapi sekarang di bawah kapitalisme adalah mentertawakan mamandang penting perbedaan ini, dan mungkin hanya kaum anarkis perseorangan saja yang bisa menonjolkannya (apabila di kalangan kaum anarkis itu masih ada orang-orang yang tidak belajar apapun setelah perubahan secara "Plekhanov" dari orang-orang yang sebangsa Kropotkin, sebangsa Grave, sebangsa Cornnelissen dan "bintang-bintang" anarkisme lainnya menjadi kaum sosial sovinis atau kaum anarkis-parit-pertahanan, seperti yang dikatakan oleh Ge, salah seorang di antara beberapa anarkis yang masih mempunyai rasa harga diri dan hati nurani).
Tetapi perbedaan ilmiah antara Sosialisme dengan Komunisme, oleh Marx dinamakan tahap "pertama" atau tahap rendah masyarakat Komunis. Karena alat-alat produksi menjadi milik umum, maka kata "Komunisme" di sini juga dapat diterapkan, asal jangan dilupakan bahwa ia bukan komunisme penuh. Arti besar dari penjelasan-penjelasan Marx terletak dalam hal bahwa di sinipun ia dengan konsekuen menterapkan dialektika materialis, ajaran tentang perkembangan, dengan memandang komunisme sebagai sesuatu yang berkembang dari kapitalisme. Marx bukannya secara skolastik (5) mereka-reka, "mengarang-ngarang" definisi-definisi dan melakukan perdebatan-perdebatan kosong tentang kata-kata (apa sosialisme itu, apa Komunisme), melainkan membuat analisa tentang apa yang dapat dinamakan tingkat-tingkat kematangan ekonomi Komunisme.
Dalam tahap pertamanya, atau tingkat pertamanya, Komunisme masih belum dapat matang sepenuhnya di bidang ekonomi dan sepenuhnya bebas dari tradisi-tradisi atau bekas-bekas kapitalisme. Dari sinilah gejala yang menarik, seperti tetap adanya "horison sempit hak borjuis" di bawah Komunisme dalam tahap pertamanya. Sudah tentu hak borjuis dalam hubungan dengan pembagian barang-barang konsumsi tak terelakkan mensyaratkan juga negara borjuis, sebab hak bukanlah apa-apa tanpa aparat yang mampu memaksakan ditaatinya patokan-patokan hak.
Maka itu di bawah Komunisme untuk jangka waktu tertentu masih terdapat bukan saja hak borjuis, tetapi bahkan juga negara borjuis tanpa borjuasi!
Itu mungkin tampaknya seperti suatu paradoks atau hanya teka-teki dialektika saja, dan Marxisme sering dituduh seperti itu oleh orang-orang yang sedikitpun tidak berusaha untuk mempelajari isinya yang luar biasa mendalamnya itu.
Dalam kenyataannya kehidupan dalam setiap langkah baik di dalam alam maupun di dalam masyarakat, menunjukan kepada kita sisa-sisa dari yang lama di dalam yang baru. Dan Marx tidak dengan semau-maunya saja menyisipkan sepotong hak "borjuis" ke dalam Komunisme, tetapi menunjukan apa yang secara ekonomi dan politik tak terelakkan di dalam masyarakat yang lahir dari rahim kapitalisme.
Demokrasi mempunyai arti penting yang sangat besar dalam perjuangan kelas buruh melawan kaum kapitalis untuk pembebasannya. Tetapi demokrasi sekali-kali bukanlah batas yang tak dapat dilangkahi, ia hanyalah salah satu tingkat di atas jalan dari feodalisme ke kapitalisme dan dari kapitalisme ke Komunisme.
Demokrasi berarti persamaan. Jelaslah, betapa besar arti perjuangan proletariat untuk persamaan dan semboyan persamaan, apabila tepat memahaminya dalam arti penghapusan kelas-kelas. Tetapi demokrasi hanya berarti persamaan formal. Dan segera setelah tercapainya persamaan bagi semua anggota masyarakat dalam hubungan dengan pemilikan atas alat-alat produksi, yaitu persamaan kerja dan persamaan upah, umat manusia tak terelakkan akan dihadapkan pada masalah supaya maju lebih lanjut, dari persamaan formal ke persamaan sesungguhnya, ke pelaksanaan ketentuan: "masing-masing menurut kemampuannya, untuk masing-masing menurut kebutuhannya". Melalui tingkat-tingkat apa, dengan tindakan-tindakan prktis apa, umat manusia akan maju ke tujuan yang tertinggi itu, kita tidak tahu dan tidak bisa tahu. Tetapi adalah penting menyadari betapa palsunya pengertian borjuis yang biasa, seakan-akan sosialisme itu sesuatu yang mati, membatu, ditetapkan untuk selama-selamanya, padahal dalam kenyataannya di bawah sosialismelah baru akan dimulai gerakan maju yang cepat, sejati, benar-benar masal, dengan ikut sertanya mayoritas penduduk, dan kemudian seluruh penduduk, dalam segala bidang kehidupan umum dan pribadi.
Demokrasi adalah bentuk negara, salah satu variasinya. Karenanya, seperti setiap negara, ia adalah penggunaan kekerasan yang terorganisasi dan sistematis terhadap orang-orang. Ini di satu pihak, tetapi di pihak lain ia berarti pengakuan formal atas persamaan diantara warga negara, hak sama dari semua orang untuk menentukan susunan negara dan mengurusnya. Dan ini, pada gilirannya, berhubungan dengan kenyataan bahwa pada tingkat tertentu perkembangan demokrasi, ia pertama-tama mempersatukan kelas revolusioner yang melawan kapitalisme &endash;-proletariat, dan memberikan kepada proletariat kemungkinan untuk mematahkan, menghancur leburkan dan menyapu bersih dari muka bumi mesin (negara borjuis, bahkan juga mesin negara borjuis republiken, tentara tetap polisi, birokrasi, dan menggantinya dengan mesin negara yang lebih demokratis, tetapi masih juga mesin negara, dalam bentuk massa buruh bersenjata yang berubah menjadi milisia dan ikut sertanya seluruh rakyat.
Di sini "kuantitas berubah menjadi kualitas": tingkat demokratisme demikian itu berakibat ke luar dari kerangka masyarakat borjuis, permulaan pembangunan kembali masyarakat borjuis secara sosialis. Jika sungguh-sungguh semua ambil bagian dalam pengurusan negara, maka kapitalisme tidak dapat bertahan lagi. Dan perkembangan kapitalisme, pada gilirannya, menciptakan premis-premis supaya sungguh-sungguh "semua" dapat ikut serta dalam pengurusan negara. Beberapa dari premis ini adalah termasuk setiap orang tahu huruf, sesuatu yang sudah dicapai di sejumlah negeri kapitalis yang paling maju, kemudian "pendidikan dan pendisiplinan" jutaan buruh oleh aparat yang maha besar, rumit dan disosialisasi yang terdiri dari pos, kereta api, pabrik besar, perdagangan besar, perbankan, dst., dst.
Di bawah premis-premis ekonomi yang demikian adalah sepenuhnya mungkin untuk segera, seketika, sesudah kaum kapitalis dan birokrat digulingkan, mengganti mereka &endash;dalam melakukan pengawasan atas produksi dan pembagian, dalam hal penghitungan kerja dan barang hasil &endash;dengan kaum buruh bersenjata. (jangan mencampuradukkan masalah pengawasan dan penghitungan dengan masalah personil insinyur, ahli pertanian, dsb. Yang berpendidikan ilmiah: hari ini tuan-tuan ini bekerja dengan tunduk kepada kaum kapitalis, besok mereka akan bekerja lebih baik lagi dengan tunduk kepada kaum buruh bersenjata.)
Penghitungan dan pengawasan &endash;itulah soal utama, yang dibutuhkan untuk "membereskan", untuk berfungsinya secara tepat tahap pertama masyarakat Komunis. Semua warga negara di sini berubah menjadi pegawai upahan dari negara yang terdiri dari kaum buruh bersenjata. Semua warga negara menjadi pegawai dan bekerja dari satu "sindikat" negara seluruh rakyat. Seluruh masalahnya adalah bahwa mereka harus bekerja sama banyaknya, dengan mentaati secara tepat ukuran pekerjaan, dan menerima upah yang sama. Penghitungan dan pengawasan yang diperlukan untuk ini telah amat sangat disederhanakan oleh kapitalisme, menjadi pekerjaan yang luar biasa sederhananya, yang dapat dilakukan oleh setiap orang yang tahu huruf, yaitu penilikan dan pencatatan &endash;pengetahuan tentang empat peraturan ilmu hitung &endash;dan pemberian kuitansi-kuitansi yang bersangkutan.
Ketika mayoritas rakyat mulai melakukan sendiri dan di mana saja penghitungan itu dan pengawasan itu atas kaum kapitalis (yang kini dijadikan pegawai) dan atas tuan-tuan intelektual yang masih memiliki kebiasaan-kebiasaan kapitalis, maka pengawasan ini akan benar-benar menjadi univesal, umum, kerakyatan, dan pengawasan ini sama sekali tidak akan bisa dihindari, maka akan "tak ada jalan lain."
Seluruh masyarakat akan menjadi satu kantor dan satu pabrik, dengan persamaan kerja dan persamaan upah.
Tetapi disiplin "pabrik" ini, yang akan diluaskan oleh proletariat, sesudah mengalahkan kaum kapitalis, sesudah menggulingkan kaum penghisap, akan meluas ke seluruh masyarakat, sama sekali bukan merupakan cita-cita kita atau tujuan terakhir kita, melainkan hanyalah anak tangga yang diperlukan untuk membersihkan masyarakat secara radikal dari kebusukan dan kekejian penghisapan kapitalis dan untuk gerak maju selanjutnya.
Sejak saat semua anggota masyarakat atau setidak-tidaknya mayoritas terbesar dari mereka telah dapat mengurus sendiri negara, telah mengambil pekerjaan ini dalam tangan mereka sendiri, telah "menjalankan" pengawasan atas minoritas kecil kaum kapitalis, atas tuan-tuan yang ingin mempertahankan kebiasaan-kebiasaan kapitalis dan atas kaum buruh yang telah sangat dibejatkan oleh kapitalisme &endash;sejak saat itulah mulai lenyap kebutuhan akan pemerintahan apapun pada umumnya. Makin penuh demokrasi, makin dekatlah saat di mana ia menjadi tidak diperlukan. Makin demokratis "negara" yang terdiri dari kaum buruh bersenjata dan yang "bukan lagi negara menurut arti kata yang sebenarnya", makin cepatlah mulai melenyapnya segala bentuk negara.
Sebab, bilamana semua telah belajar mengatur dan dalam kenyataannya mengatur sendiri produksi masyarakat, melaksanakan sendiri penghitungan dan pengawasan atas kaum benalu, kaum priyayi, kaum penipu dan sebangsa "penjaga-penjaga tradisi kapitalisme", maka menghindarkan diri dari penghitungan dan pengawasan oleh seluruh rakyat itu pasti akan menjadi begitu luar biasa sulitnya, menjadi kekecualian yang langka, dan barangkali akan mendapat hukuman yang segera dan berat (sebab kaum buruh bersenjata adalah orang-orang praktis, dan bukan kaum intelektual yang sentimentil, dan kaum buruh bersenjata itu kecil kemungkinannya akan memperkenankan orang bermain-main dengan mereka), sehingga keharusan untuk mentaati peraturan-peraturan dasar yang sederhana dari segala pergaulan manusia akan sangat cepat menjadi kebiasaan.
Dan kemudian akan terbuka lebar-lebar pintu bagi transisi dari tahap pertama masyarakat Komunis ke tahapnya yang lebih tinggi, dan dengannya terbuka pula bagi melenyapnya negara sepenuhnya.


1 Lihat K. Marx, "Kritik terhadap program Gotha" (K. Marx dan F. Engels Selected Works, edisi bahasa Inggris, Moskow, 1951, volume II, halaman 50).[back] Selanjutnya, pada halaman-halaman berikutnya dalam bab sub bab ini, V. I. Lenin mengutip lagi karya K. Marx tersebut (ibid, halaman 30, 21, 22, dan 23)
2 Yang dimaksudkan oleh Lenin adalah Tugan-Baranovski, seorang ahli ekonomi borjuis Rusia. [back]
3 Shylock&emdash;si tukang riba yang menjadi tokoh utama dalam sandiwara Shakespeare "Saudagar Dari Venesia". [back]
4 Yang dimaksud adalah siswa-siswa seminari (sekolah calon pastor) yang menjadi terkenal buruk karena kebutuhan mereka yang keterlaluan dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang biadab. Mereka itu dilukiskan oleh N.G. Pomyalovski, seorang penulis Rusia. [back]
5 Skolastik &endash;menurut arti kiasnnya: formil, terenggut dari kehidupan dan praktek, cenderung pada berfilsafat kosong.
ketika bagian utama dari fungsi-fungsi negara direduksi menjadi penghitungan dan pengawasan seperti itu oleh kaum buruh sendiri, maka ia tidak lagi menjadi "negara politik", maka "fungsi-fungsi kemasyarakatan berubah dari fungsi-fungsi politik menjadi fungsi-fungsi administrasi sederhana" (bandingkan di atas, bab IV, 2, tentang polemik Engels dengan kaum anarkis). [back]



PEMVULGARAN MARXISME OLEH KAUM OPORTUNIS


Masalah hubungan negara dengan revolusi sosial, dan hubungan revolusi sosial dengan negara, seperti juga masalah revolusi pada umumnya, sangat sedikit diperhatikan oleh teoritikus-teoritikus dan publisis-publisis terkemuka Internasionale II (1889-1914). Tetapi yang paling khas dalam proses pertumbuhan berangsur-angsur dari oportunisme yang menyebabkan keruntuhan Internasionale II di tahun 1914 adalah, bahwa bahkan ketika langsung menghadapi masalah ini mereka mencoba menghindarinya atau juga gagal mencermatinya.
Secara umum dan keseluruhan, dapat dikatakan bahwa dari sikap mengelak terhadap masalah hubungan revolusi proletar dengan negara, sikap mengelak yang menguntungkan bagi oportunisme dan yang memupuknya, lahirlah distorsi Marxisme dan pemvulgarannya yang sepenuhnya.
Untuk menggambarkan ciri proses yang menyedihkan ini, walaupun secara singkat, baiklah kita ambil teoritikus-teoritikus Marxisme yang terkemuka, Plekhanov dan Kautsky.

1. POLEMIK PLEKHANOV DENGAN KAUM ANARKIS
Plekhanov menulis sebuah brosur khusus mengenai masalah hubungan anarkisme dengan sosialisme: Anarkisme dan Sosialisme yang diterbitkan di Jerman pada tahun 1894.
Plekhanov membahas tema ini secara licik, dengan mengabaikan sama sekali apa yang paling mendesak, hangat dan secara politik paling hakiki dalam perjuangan menentang anarkisme, yakni hubungan revolusi dengan negara dan masalah negara pada umumnya! Dalam brosurnya itu menonjol dua bagian: yang satu bersifat sejarah dan sastra, dengan bahan-bahan yang berharga tentang sejarah gagasan-gagasan Stirner, Proudhon dan lain-lainnya; bagian yang lainnya bersifat filistin, dan mengandung pembahasan yang janggal tentang tema bahwa seorang anarkis tidak dapat dibedakan dengan seorang bandit.
Kombinasi tema yang paling lucu bagi seluruh kegiatan Plekhanov pada waktu menjelang revolusi dan selama periode revolusioner di Rusia; begitulah Plekhanov menunjukkan dirinya dalam tahun-tahun 1903-1917 sebagai seorang semi-doktriner dan semi-filistin yang dalam politik mengekor borjuasi.
Kita telah melihat bagaimana Marx dan Engels, dalam berpolemik dengan kaum anarkis, menjelaskan dengan luar biasa seksama pandangan-pandangan mereka mengenai hubungan revolusi dengan negara. Engels, ketika pada tahun 1891 menerbitkan karya Marx Kritik Terhadap Program Gotha, menulis bahwa "kami" (yaitu Engels dan Marx) "ketika itu, baru saja dua tahun sesudah Konggres Internasionale (I) di Den Haag (1) , sedang berada dalam klimaks perjuangan melawan Bakunin dan kaum anarkisnya".
Kaum anarkis mencoba menyatakan justru Komune Paris, boleh dikatakan, sebagai "kepunyaannya sendiri" yang membenarkan doktrin mereka; dan mereka dama sekali gagal untuk mengerti pelajaran-pelajaran dari komune dan analisa Marx mengenai pelajaran-pelajaran tersebut. Anarkisme telah gagal untuk memberikan sesuatu apapun bahkan yang agak mendekati kebenaran mengenai masalah-masalah politik yang kongkrit, yaitu, haruskah mesin negara yang lama dihancurkan ? dan apa yang harus menggantikan tempatnya ?
Tetapi berbicara tentang "anarkisme dan sosialisme", dengan menghindari seluruh masalah negara, tanpa mempedulikan seluruh perkembangan Marxisme sebelum dan sesudah Komune, ini berarti tak terelakkan tergelincir ke dalam oportunisme. Sebab yang paling diperlukan oleh oportunisme justru agar kedua masalah yang baru kita tunjukkan itu tidak dikemukakan sama sekali. Ini sudah merupakan kemenangan oportunisme.

2. POLEMIK KAUTSKY DENGAN KAUM OPORTUNIS
Tak diragukan lagi bahwa karya-karya Kautsky yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia jauh lebih banyak dari pada ke dalam bahasa lain manapun. Bukanlah tanpa alasan jika beberapa orang Sosial-Demokrat Jerman bergurau bahwa Kautsky lebih banyak dibaca di Rusia dari pada di Jerman (biarlah kita katakan, sambil lalu, bahwa gurauan ini mengandung isi sejarah yang jauh lebih mendalam dari pada yang diduga oleh yang pertama-tama mencetuskannya, yakni: kaum buruh Rusia, yang dalam tahun 1905 mengajukan permintaan yang luar biasa besarnya dan tak ada bandingannya akan karya-karya terbaik dari literatur Sosial-Demokrat yang terbaik di dunia dan yang memperoleh terjemahan dan edisi karya-karya tersebut dalam jumlah yang tak ada taranya di negeri-negeri lain, dengan demikian dapat dikatakan telah memindahkan dengan cara yang dipercepat pengalaman-pengalaman yang maha besar dari negeri tetangga yang lebih maju ke bumi muda gerakan proletar kita).
Di samping popularisasinya tentang Marxisme, Kautsky teristimewa terkenal di negara kita karena polemiknya dengan kaum oportunis dan dengan Bernstein sebagai pemimpin mereka. Tetapi satu fakta hampir tidak diketahui, fakta yang tidak boleh diabaikan jika kita bertugas menyelidiki bagaimana Kautsky terjerumus ke dalam kekacauan yang tak terkirakan memalukannya dan ke dalam pembelaan atas sosial-chauvinisme pada masa krisis yang maha hebat tahun-tahun 1914-1915. Fakta ini adalah bahwa dekat sebelum tampil melawan wakil-wakil terkemuka oportunisme di Perancis (Millerand dan Jaures) dan di Jerman (Bernstein), Kautsky telah menampakkan kebimbangan yang sangat besar. Jurnal Marxis Zarya (2) , yang diterbitkan di Stuttgart pada tahun 1901-1902 dan yang mempertahankan pandangan-pandangan revolusioner proletar, terpaksa berpolemik dengan Kautsky dan menamakan resolusi Kautsky, yang setengah-tengah, yang bersifat mengelak dan kompromi terhadap kaum oportunis pada Konggres Sosialis Internasional di Paris pada tahun 1900 (3) , sebagai resolusi yang "elastis". Dalam literatur Jerman telah diterbitkan surat-surat Kautsky dekat sebelum ia melakukan kampanye melawan Bernstein.
Tetapi yang mempunyai arti yang jauh lebih besar adalah bahwa dalam polemiknya dengan kaum oportunis itu sendiri, dalam caranya mengajukan masalah dan caranya membahas masalah, kita lihat kini, ketika mempelajari sejarah pengkhianatan terbaru terhadap Marxisme dari pihak Kautsky, kecenderungan yang sistematis ke oportunisme justru dalam masalah negara.
Marilah kita ambil karya besar pertama Kautsky yang melawan oportunisme, yaitu Bernstein dan Program Sosial-Demokrat. Kautsky secara terperinci membantah Bernstein. Tetapi inilah yang khas:
Bernstein dalam tulisannya Premis-premis Sosialisme yang terkenal secara herostratis, menuduh Marxisme sebagai "Blanquisme" (tuduhan yang sejak itu diulangi ribuan kali oleh kaum oportunis dan kaum borjuis liberal di Rusia terhadap wakil-wakil Marxisme revolusioner, kaum Bolshevik). Dalam hal ini Bernstein secara khusus membicarakan karya Marx Perang dalam Negeri di Perancis dan mencoba &endash;seperti telah kita lihat, gagal sama sekali &endash;menyamakan pandangan Marx tentang pelajaran-pelajaran dari Komune dengan pandangan Proudhon. Perhatian khusus Bernstein tergugah oleh kesimpulan Marx yang ditekankannya dalam kata pendahuluan pada tahun 1872 untuk Manifesto Komunis dan yang berbunyi: "kelas buruh tidak dapat begitu saja merebut mesin negara yang sudah-jadi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuannya sendiri".
Bernstein begitu "suka" pada ungkapan ini, sehingga ia mengulanginya tidak kurang dari tiga kali dalam bukunya, dengan mentafsirkannya dalam pengertian yang paling didistorsikan, yang oportunis.
Seperti yang telah kita ketahui, Marx ingin mengatakan bahwa kelas buruh harus menghancurkan, mematahkan, meledakkan (Sprengung &endash;ledakan, ungkapan yang digunakan oleh Engels) seluruh mesin negara. Tetapi bagi Bernstein tampaknya seolah-olah Marx dengan kata-kata tersebut memperingatkan kelas buruh supaya jangan bersemangat revolusioner yang berlebih-lebihan pada waktu merebut kekuasaan.
Pendistorsian yang lebih kasar dan lebih tidak senonoh terhadap ide Marx tidak dapat dibayangkan.
Alangkah, kemudian, Kautsky bertindak dalam bantahannya yang paling detil terhadap Bernsteinisme.
Ia menghindari penganalisisan atas pendistorsian yang paling mendalam terhadap Marxisme oleh oportunisme dalam hal ini. Ia mengajukan bagian yang telah dikutip di atas dari kata pendahuluan Engels untuk Perang dalam Negeri Marx dengan mengatakan bahwa menurut Marx, kelas buruh tidak dapat begitu saja merebut mesin negara yang sudah jadi, tetapi secara umum ia dapat merebutnya, dan hanya itulah. Mengenai hal bahwa Bernstein menganggap sebagai ide Marx justru sesuatu yang amat berlawanan dengan ide Marx yang sebenarnya, yaitu bahwa Marx sejak tahun 1852 telah mengemukakan "menghancurkan" mesin negara sebagai tugas revolusi proletar, mengenai ini Kautsky tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Hasilnya adalah bahwa perbedaan yang paling hakiki antara Marxisme dengan oportunisme mengenai masalah tugas-tugas revolusi proletar telah dikaburkan oleh Kautsky!
"Kita dapat secara aman menyerahkan solusi dari permasalahan diktatur proletar kepada masa depan", kata Kautsky, dalam tulisannya "melawan" Bernstein (halaman 172, edisi bahasa Jerman).
Ini bukan polemik melawan Bernstein, tetapi, pada hakekatnya, konsesi kepada Bernstein, menyerah kepada oportunisme; sebab bagi kaum oportunis untuk sementara ini cukup dengan "sepenuhnya menyerahkan dengan perasaan aman kepada hari depan" semua masalah fundamental tentang tugas-tugas revolusi proletar.
Sejak tahun 1852 sampai 1891, selama 40 tahun, Marx dan Engels mengajarkan pada kaum proletar bahwa ia harus menghancurkan mesin negara. Sedang Kautsky pada tahun 1899, menghadapi pengkhianatan sepenuhnya kaum oportunis terhadap Marxisme mengenai hal ini, mengganti masalah apakah harus menghancurkan mesin ini dengan masalah bentuk-bentuk kongkrit penghancuran, dan menyelamatkan di bawah perlindungan kebenaran filistin yang ("tak terbantah" dan sia-sia) bahwa bentuk-bentuk kongkrit tidak dapat kita ketahui sebelumnya!
Sebuah jurang dalam membedakan antara Marx dengan Kautsky dalam sikap mereka terhadap tugas-tugas partai proletar untuk mempersiapkan kelas buruh u melakukan revolusi.
Marilah kita ambil karya Kautsky yang berikutnya, yang lebih matang, yang ditujukan juga dalam batas yang luas untuk membantah kesalahan-kesalahan oportunisme. Karya itu adalah fampletnya Revolusi Sosial. Di famplet ini penulis mengambil sebagai temanya yang khusus masalah "revolusi proletar" dan "rezim proletar". Penulis telah memberikan banyak sekali yang luar biasa berharganya, tetapi justru masalah negara dihindari. Dalam seluruh brosur itu dibicarakan tentang perebutan kekuasaan negara, dan Cuma itu saja, yaitu dipilih rumusan yang memberi konsesi kepada kaum oportunis, karena memperbolehkan perebutan kekuasaan tanpa penghancuran mesin negara. Justru hal yang oleh Marx pada tahun 1872 di dalam program Manifesto Komunis dinyatakan "sudah usang" dihidupkan kembali oleh Kautsky pada tahun 1902!
Dalam famplet itu terdapat paragraf khusus yang membahas "Bentuk-bentuk dan senjata revolusi sosial". Di sini dibicarakan juga tentang pemogokan politik, tentang perang dalam negeri dan tentang "alat-alat kekuasaan negara besar modern, seperti birokrasi dan tentara", tetapi tentang apa yang sudah diajarkan oleh komune kepada kaum buruh sepatah katapun tidak dibicarakan. Jelas, Engels bukannya tanpa alasan memperingatkan terutama kaum sosialis Jerman supaya jangan menaruh "rasa hormat secara takhayul" kepada negara.
Kautsky menguraikan masalahnya sebagai berikut: proletariat yang berjaya "akan melaksanakan program demokrasi" dan memaparkan fasal-fasalnya. Tentang hal baru yang diberikan oleh tahun 1871 mengenai masalah penggantian demokrasi borjuis dengan demokrasi proletar, sepatah katapun tidak ada. Kautsky membatasi diri dengan kata-kata banyak yang kedengarannya "hebat".
"Jelas dengan sendirinya bahwa kita tidak akan mencapai kekuasaan di bawah tata tertib sekarang. Revolusi itu sendiri menyatakan perjuangan yang berjangka panjang dan mendalam, yang sudah akan mengubah susunan politik dan sosial kita yang sekarang".
Tak diragukan lagi, memang ini "jelas dengan sendirinya", seperti juga kebenaran bahwa kuda makan gandum haver dan bahwa Sungai Volga mengalir ke Laut Kaspia. Hanya sayang, bahwa dengan menggunakan kata-kata kosong dan bombastis tentang perjuangan yang "mendalam" dihindari masalah yang vital bagi proletariat revolusioner, yaitu dimana letak "kedalaman" revolusi proletariat dalam hubungan dengan negara, dalam hubungan dengan demokrasi, jika dikontraskan dengan revolusi-revolusi sebelumnya yang non-proletar.
Dengan menghindari masalah tersebut, Kautsky dalam kenyatannya memberi konsesi kepada oportunisme mengenai hal yang paling hakiki ini, dengan memaklumkan dalam kata-kata perang sengit melawan oportunisme, dengan menekankan arti penting "íde revolusi" (berapa harga "ide" ini jika orang takut memproragandakan kepada kaum buruh pelajaran-pelajaran kongkrit revolusi?), atau dengan mengatakan: "idealisme revolusioner di atas segala-galanya", atau dengan mengumumkan bahwa kaum buruh Inggris sekarang ini "hampir-hampir tidak lebih dari pada borjuis kecil".
"Bentuk-bentuk perusahaan yang paling beraneka ragam perusahaan &endash;birokrasi (??), perusahaan serikat buruh, perusahaan koperasi, perusahaan perseoranganÉ dapat berdiri berdampingan di dalam masyarakat sosialis", tulis Kautsky, "ÉMisalnya, ada perusahaan-perusahaan yang tidak bisa tanpa organisasi yang birokratis (??), seperti kereta api. Di sini organisasi demokratis dapat berbentuk sebagai berikut: kaum buruh memilih utusan-utusan yang merupakan sesuatu semacam parlemen, dan parlemen ini menetapkan peraturan kerja dan mengawasi pengurusan aparat birokrasi. Pengurusan perusahaan-perusahaan lain dapat diserahkan kepada Serikat Buruh-Serikat Buruh, yang lainnya lagi dapat diselenggarakan menurut prinsip koperasi" (halaman 148 dan 115, terjemahan bahasa Rusia, terbitan Jenewa, 1903).
Pembahasan demikian ini adalah salah, merupakan langkah mundur dibandingkan dengan penjelasan-penjelasan Marx dan Engels dalam tahun-tahun 1870-an dengan menggunakan pelajaran-pelajaran dari Komune sebagai contoh.
Dipandang dari segi organisasi "birokratis" yang seolah-olah diperlukan itu, kereta api sama sekali tidak berbeda dengan semua perusahaan industri mesin besar pada umumnya, dengan setiap pabrik, toko besar, perusahaan pertanian besar kapitalis. Teknik dalam semua perusahaan semacam itu mutlak menuntut disiplin yang paling keras, ketepatan yang paling tinggi dari setiap orang dalam menunaikan bagian pekerjaan yang diperuntukan baginya, sebab kalau tidak, ada bahaya seluruh perusahaan akan berhenti atau mesin rusak, barang hasil rusak. Di semua perusahaan semacam itu kaum buruh sudah tentu akan "memilih utusan-utusan yang merupakan sesuatu semacam parlemen".
Tetapi justru seluruh persoalannya adalah bahwa "sesuatu semacam parlemen" ini akan tidak merupakan parlemen dalam pengertian lembaga-lembaga parlementer borjuis. Justru seluruh persoalannya adalah bahwa "sesuatu semacam parlemen" ini akan tidak hanya "menetapkan peraturan kerja dan mengawasi pengurusan aparat birokrasi", seperti yang dibayangkan Kautsky, yang pikirannya tidak keluar dari bingkai parlementerisme borjuis. Dalam masyarakat sosialis "sesuatu semacam parlemen" dari utusan-utusan buruh itu sudah tentu akan "menetapkan peraturan kerja dan mengawasi pengurusan" atas "aparat" &endash;tetapi justru aparat ini tidak akan bersifat "birokrasi". Kaum buruh, setelah merebut kekuasaan politik, akan menghancurkan aparat birokrasi yang lama, meremukannya sampai ke dasarnya dan memusnahkannya sama sekali, menggantinya dengan yang baru yang terdiri dari kaum buruh dan pegawai-pegawai yang itu juga, dan untuk mencegah mereka berubah menjadi birokrat-birokrat akan segera diambil tindakan-tindakan yang telah diuraikan dengan terperinci oleh Marx dan Engels: 1.) tidak hanya dipilih tetapi juga dapat diganti sewaktu-waktu; 2.) upah tidak lebih tinggi dari pada upah buruh; 3.) segera beralih ke keadaan dimana semua melaksanakan fungsi mengawasi dan menilik, sehingga semua untuk sementara waktu menjadi "birokrat" dan sehingga karena itu tidak seorangpun dapat menjadi "birokrat".
Kautsky sama sekali tidak merefleksikan kata-kata Marx: "Komune adalah badan pekerja, bukan merupakan badan parlementer, legislatif dan eksekutif pada saat yang bersamaan".
Kautsky sama sekali tidak mengerti perbedaan antara parlementerisme borjuis, yang mengkombinasikan demokrasi (bukan untuk rakyat) dengan birokratisme (terhadap rakyat), dengan demokratisme proletar yang segera akan mengambil tindakan-tindakan untuk memotong birokratisme sampai ke akar-akarnya dan yang akan mampu menjalankan tindakan-tindakan itu sampai selesai, sampai pada penghancuran sepenuhnya birokratisme, sampai pada pelaksanaan sepenuhnya demokrasi untuk rakyat.
Di sini Kautsky memperlihatkan "rasa hormat secara takhayul" terhadap negara dan "kepercayaan secara takhayul" terhadap birokratisme yang sama saja.
Marilah kita beralih pada karya Kautsky yang terakhir dan terbaik yang melawan kaum oportunis, yaitu brosurnya Jalan Menuju Kekuasaan (saya kira famplet ini belum diterbitkan dalam bahasa Rusia, sebab famplet itu terbit ketika di negeri kita reaksi sedang mengamuk, pada tahun 1909). Famplet ini merupakan langkah maju yang besar, karena tidak membicarakan program revolusioner pada umumnya, seperti brosur tahun 1899 yang menentang Bernstein, tidak membicarakan tugas-tugas revolusi sosial terlepas dari waktu terjadinya, seperti brosur Revolusi Sosial tahun 1902, tetapi membicarakan syarat-syarat kongkrit yang memaksa kita mengakui bahwa "jaman revolusi" sedang mendekat.
Secara definitif penulisnya menunjukkan meruncingnya kontradiksi-kontradiksi kelas pada umumnya dan imperialisme yang memainkan peranan yang teristimewa besarnya dalam hubungan ini. Sesudah "periode revolusioner tahun 1789-1871" bagi Eropa Barat, ia berkata, periode yang serupa mulai pada tahun 1905 bagi Timur. Perang dunia sedang mendekat dengan kecepatan yang menakutkan. "Proletariat sudah tidak dapat lagi berbicara tentang revolusi yang terlalu pagi". "Kita telah memasuki periode revolusioner". "Jaman revolusioner sedang dimulai".
Kenyataan-kenyataan ini jelas sekali. Famplet Kautsky ini harus dijadikan ukuran untuk membandingkan apa yang dijanjikan hendak diperbuat oleh Sosial-Demokrat Jerman menjelang perang imperialis dengan betapa rendahnya ia telah merosot (termasuk Kautsky sendiri) ketika perang pecah. "Situasi sekarang", tulis Kautsky dalam famplet yang sedang kita bahas ini, "mengandung bahaya, bahwa kita (yaitu Sosial-Demokrat Jerman) mudah dianggap lebih lunak dari pada keadaan kita yang sebenarnya". Terbukti bahwa dalam kenyataannya Partai Sosial-Demokrat Jerman jauh lebih lunak dan oportunis dari pada tampaknya!
Yang lebih khusus lagi adalah bahwa meskipun begitu tegas pernyataan-pernyataan Kautsky tentang sudah mulainya jaman revolusi, tetapi dalam famplet, yang menurut kata-katanya sendiri ditujukan justru untuk menganalisa masalah "revolusi politik", ia sekali lagi menghindari sama sekali masalah negara.
Dari jumlah seluruh penghindaran, pembungkaman dan pengelakan masalah ini, hasilnya pastilah penyeberangan sepenuhnya ke oportunisme yang kini harus kita bicarakan.
Sosial-Demokrasi Jerman, pada diri Kautsky, seolah-olah menyatakan: saya tetap berpegang pada pandangan-pandangan revolusioner (1899), khususnya saya mengakui tak terelakkannya revolusi sosial proletariat (1902), saya mengakui tibanya jaman baru revolusi (1909). Tetapi walaupun demikian saya akan mundur menentang apa yang dikatakan Marx sudah pada tahun 1852, begitu diajukan masalah tugas-tugas revolusi proletar dalam hubungan dengan negara (1912).
Demikianlah masalahnya diajukan dengan blak-blakan dalam polemik Kautsky dengan Pannekoek.

3. POLEMIK KAUTSKY DENGAN PANNEKOEK
Pannekoek sebagai salah seorang wakil dari aliran "radikal kiri" yang di dalam barisannya termasuk Rosa Luxemburg, Karl Radek dan lain-lainnya, tampil melawan Kautsky, dan aliran ini dalam mempertahankan taktik revolusioner dipersatukan oleh keyakinan bahwa Kautsky menyeberang ke posisi "sentris", yang secara tak berprinsip terombang ambing antara Marxisme dengan oportunisme. Ketepatan pandangan ini dibuktikan sepenuhnya oleh perang, ketika aliran "sentris" (yang secara salah dinamakan Marxis) atau Kautskyisme sepenuhnya membuka diri dalam segala kebutuhan yang memuakkan.
Dalam artikel "Aksi-aksi Massa dan Revolusi" (Neue Zeit, 1912, Volume XXX, No. 2) yang menyinggung masalah negara, Pannekoek menggambarkan sikap Kautsky sebagai sikap "radikalisme pasif", sebagai "teori menunggu tanpa bertindak". "Kautsky tidak mau melihat prose revolusi" (hlm. 616). Dengan mengemukakan masalah secara demikian, Pannekoek mendekati tema yang menarik perhatian kita, yaitu tugas-tugas revolusi proletar dalam hubungan dengan negara.
"Perjuangan proletariat", ia menulis "bukanlah semata-semata perjuangan menentang borjuasi untuk kekuasaan negara, tetapi perjuangan menentang kekuasaan negara É Isi revolusi proletar adalah penghancuran dan pembubaran (Auflösung) alat-alat kekuasaan negara dengan bantuan alat-alat kekuasaan proletariat É.Perjuangan baru akan berhenti jika, sebagai hasil perjuangan itu, organisasi negara sudah dihancurkan sama sekali. Organisasi mayoritas kemudian akan mendemonstrasikan keunggulannya dengan menghancurkan organisasi minoritas yang berkuasa" (halaman 548).
Perumusan Pannekoek untuk mengemukakan pikiran-pikirannya mempunyai kekurangan yang sangat besar. Tetapi walaupun demikian artinya jelas, dan sungguh menarik bagaimana Kautsky membantahnya.
"Sampai sekarang", ia menulis, "pertentangan antara kaum Sosial-Demokrat dengan kaum anarkis terletak dalam hal bahwa yang pertama ingin merebut kekuasaan negara, yang kedua &endash;menghancurkannya. Pannekoek menginginkan kedua-duanya" (halaman. 724).
Meskipun uraian Pannekoek tidak jelas dan kurang kongkrit (di sini tidak dibicarakan kekurangan-kekurangan lain dari artikelnya, yang tidak menyangkut tema yang sedang dibahas), tetapi Kautsky justru telah menangkap hakekat masalah yang prinsipil yang dikemukakan oleh Pannekoek, dan dalam masalah yang fundamental dan prinsipil ini Kautsky sama sekali meninggalkan posisi Marxisme dan sepenuhnya menyeberang ke oportunisme. Perbedaan antara kaum Sosial-Demokrat dengan kaum anarkis didefinisikan olehnya secara salah sama sekali dan Marxisme telah diputar balik dan divulgarkan sepenuhnya.
Perbedaan antara kaum Marxis dengan kaum anarkis terletak dalam hal berikut ini: 1.) yang tersebut duluan, yang bertujuan menghapuskan negara sepenuhnya, mengakui bahwa tujuan ini dapat dicapai baru setelah dihapuskannya kelas-kelas oleh revolusi sosialis, sebagai hasil ditegakkannya sosialisme, yang menjurus ke melenyapnya negara; yang tersebut belakangan menghendaki dihapuskannya negara sepenuhnya dengan seketika, tanpa mengerti syarat-syarat pelaksanaan penghapusan tersebut. 2.) Yang tersebut duluan mengakui sebagai keharusan bahwa proletariat, setelah merebut kekuasaan politik, menghancurkan sama sekali mesin negara yang lama dan menggantinya dengan yang baru, yang terdiri dari organisasi kaum buruh yang bersenjata, menurut tipe Komune; yang tersebut belakangan, yang bersikeras menghancurkan mesin negara, sama sekali tidak mempunyai gambaran yang jelas dengan apa proletariat akan menggantinya dan bagaimana proletariat akan menggunakan kekuasaan revolusioner; kaum anarkis bahkan menolak penggunaan kekuasaan negara oleh proletariat revolusioner, menolak diktatur revolusionernya. 3.) Yang tersebut duluan menuntut adanya persiapan proletariat untuk revolusi, dengan jalan menggunakan negara yang sekarang; kaum anarkis menolak hal ini.
Dalam melawan Kautsky, Marxisme di dalam perdebatan tersebut diwakili justru oleh Pannekoek, sebab Marxlah yang mengajarkan bahwa proletariat tidak dapat begitu saja merebut kekuasaan negara dalam arti bahwa aparat negara yang lama berpindah ke tangan baru, tetapi harus menghancurkan, mematahkan aparat ini dan menggantinya dengan yang baru.
Kautsky meninggalkan Marxisme dan menyeberang ke pihak kaum oportunis, karena pada Kautsky tidak terdapat sama sekali justru masalah penghancuran mesin negara ini, yang sama sekali tidak dapat diterima oleh kaum oportunis, dan memberikan lubang bagi mereka dalam arti "perebutan" ditafsirkan sebagai semata-mata memperoleh mayoritas.
Untuk menyelubungi pendistorsiannya atas Marxisme, Kautsky berlagak seperti seorang yang setia pada teks: ia menyodorkan "kutipan" dari Marx sendiri. Dalam tahun 1850 Marx menulis tentang kaharusan "pemusatan kekuatan secara tegas di tangan kekuasaan negara". Dan Kautsky bertanya dengan merasa menang: tidakkah Pannekoek ingin menghancurkan "sentralisme" ?
Ini sudah merupakan sulap belaka yang serupa dengan perbuatan Bernstein yang menyamakan Marxisme dengan Proudhonisme dalam pandangan mengenai federalisme sebagai ganti sentralisme.
"Kutipan" yang diambil Kautsky itu tidak tentu ujung pangkalnya. Sentralisme bisa baik dengan mesin negara yang lama maupun yang baru. Apabila kaum buruh secara sukarela menyatukan kekuatan bersenjata mereka, maka ini akan merupakan sentralisme; tetapi ia akan berdasarkan "penghancuran sepenuhnya" aparat negara yang sentralistis &endash;tentara tetap, polisi, birokrasi. Kautsky sepenuhnya bertindak sebagai seorang penipu dengan menghindari argumen-argumen Marx dan Engels yang sangat terkenal tentang Komune dan dengan merenggut kutipan yang tidak bersangkut paut dengan masalahnya.
" É Barangkali Pannekoek hendak menghapuskan fungsi-fungsi kenegaraan para pejabat?" Kautsky melanjutkan. "Tetapi kita tidak bisa tanpa pejabat baik dalam organisasi partai maupun dalam organisasi Serikat Buruh, apalagi dalam administrasi negara. Program kita tidak menuntut penghapusan pejabat-pejabat negara, tetapi menuntut supaya pejabat-pejabat dipilih oleh rakyatÉ Soal yang kita bicarakan sekarang bukan tentang bentuk apa yang akan diambil oleh aparat administrasi 'negara masa depan', melainkan tentang apakah perjuangan politik kita menghancurkan (hurufiah: membubarkan, auflöst) kekuasaan negara sebelum kita merebutnya (huruf miring dari Kautsky). Kementerian mana beserta pejabat-pejabatnya yang kiranya dapat dihapuskan?" Disebutlah satu demi satu: kementerian pendidikan, kementerian kehakiman, kementerian keuangan dan kementerian pertahanan. "Tidak, tidak satupun dari kementerian-kementerian yang sekarang akan dihilangkan oleh perjuangan politik kita menentang pemerintahÉ. Saya ulangi, untuk menghindari kesalahpahaman: soalnya bukan tentang bentuk apa yang akan diberikan kepada 'negara masa depan' oleh Sosial-Demokrasi yang menang, melainkan bagaimana oposisi kita mengubah negara yang sekarang" (halaman 725)
Ini tipu daya yang jelas: Pannekoek mengemukakan justru masalah revolusi. Ini dinyatakan dengan jelas baik dalam judul artikelnya maupun dalam bagian-bagian yang dikutip di atas. Dengan meloncat ke masalah "oposisi", Kautsky justru mengganti pendirian revolusioner dengan pendirian oportunis. Jadi menurut Kautsky demikian: sekarang kita beroposisi, sedang setelah merebut kekuasaan kita bicarakan lagi secara khusus. Revolusi dilenyapkan! Dan inilah yang justru dikehendaki oleh kaum oportunis.
Masalahnya bukan tentang oposisi dan bukan tentang perjuangan politik pada umumnya, melainkan justru tentang revolusi. Revolusi adalah proletariat menghancurkan "aparat administrasi" dan seluruh aparat negara, dan menggantinya dengan yang baru, yang terdiri dari kaum buruh bersenjata. Kautsky memperlihatkan "rasa hormat secara takhayul" terhadap "kementerian-kementerian", tetapi mengapa kementerian itu tidak dapat diganti, katakanlah, dengan komisi-komisi ahli di bawah Soviet-Soviet Wakil Buruh dan Prajurit yang berdaulat dan berkuasa penuh?
Hakekat persoalannya sama sekali bukan apakah "kementerian-kementerian" akan tetap ada, apakah "komisi-komisi ahli" atau lembaga-lembaga lain akan dibentuk, itu sama sekali tidak penting. Hakekat persoalannya adalah apakah mesin negara yang lama (yang terikat oleh ribuan benang dengan borjuasi dan sepenuhnya diresapi oleh rutinisme dan kekolotan) tetap dipertahankan atau dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Revolusi seharusnya bukan berupa kelas baru mengomando, memerintah dengan bantuan mesin negara yang lama, melainkan kelas baru itu menghancurkan mesin tersebut dan mengomando, memerintah dengan bantuan mesin yang baru &endash;Kautsky mengaburkan ide dasar Marxisme ini atau ia sama sekali tidak memahaminya.
Persoalan yang diajukan oleh Kautsky mengenai pejabat-pejabat dengan jelas menunjukan bahwa ia tidak memahami pelajaran-pelajaran dari Komune dan ajaran-ajaran Marx. "Kita tidak bisa tanpa pejabat baik dalam organisasi partai maupun dalam organisasi Serikat Buruh"É.
Kita tidak bisa tanpa pejabat di bawah kapitalisme, di bawah kekuasaan borjuasi. Proletariat ditindas, massa pekerja diperbudak oleh kapitalisme. Karena seluruh keadaan perbudakan upah, kemiskinan dan kesengsaraan massa, maka di bawah kapitalisme demokrasi dipersempit, terkekang, terpotong, terselubung. Karena itu dan hanya karena itulah fungsionaris-fungsionaris dalam organisasi politik dan organisasi Serikat Buruh kita menjadi bejat (atau lebih tepatnya, berkecenderungan menjadi bejat) oleh keadaan kapitalisme dan menampakkan kecenderungan berubah menjadi birokrat, yaitu orang-orang yang terpisah dari massa, yang berdiri di atas massa, yang berhak istimewa.
Itulah hakekat birokratisme, dan sementara kaum kapitalis belum disita miliknya, sementara borjuasi belum digulingkan, maka selama itu tak terhindarkan "birokratisasi" tertentu bahkan atas fungsionaris-fungsionaris proletar.
Jadi, menurut Kautsky demikian: karena masih akan ada fungsionaris-fungsionaris yang dipilih, berarti masih akan terdapat pula pejabat-pejabat di bawah sosialisme, masih akan terdapat birokrasi! Justru inilah yang tidak tepat. Justru dengan mengambil contoh Komune Marx menunjukan bahwa di bawah sosialisme fungsionaris-fungsionaris bukan lagi "birokrat-birokrat", bukan lagi "pejabat-pejabat", mereka bukan lagi seperti itu seiring dengan dilaksanakannya &endash;di samping prinsip pejabat harus dipilih &endash;juga prinsip pejabat dapat diganti sewaktu-waktu, dan juga penurunan gaji ke taraf upah buruh rata-rata, dan juga penggantian lembaga-lembaga parlementer dengan "badan-badan pekerja, yaitu badan-badan yang membuat undang-undang dan sekaligus melaksanakannya".
Pada hakekatnya, seluruh argumen Kautsky dalam menentang Pannekoek dan khususnya dalil Kautsky yang cemerlang bahwa kita tidak bisa tanpa pejabat baik dalam organisasi partai maupun dalam organisasi Serikat Buruh, menunjukkan Kautsky mengulangi "dalil-dalil" lama Bernstein dalam menentang Marxisme pada umumnya. Dalam bukunya yang bersifat renegat, Prasyarat-prasyarat Sosialisme, Bernstein berjuang melawan ide demokrasi "primitif", berjuang melawan apa yang ia namakan "demokratisme doktriner" &endash;mandat-mandat yang mengikat, pejabat-pejabat yang tidak menerima imbalan, badan-badan perwakilan pusat yang tidak berdaya, dsb. Untuk membuktikan bahwa "demokratisme primitif" ini tanpa dasar. Bernstein menunjuk pada pengalaman serikat buruh-serikat buruh Inggris sebagaimana ditafsirkan oleh suami isteri Webb (4). Katanya, serikat buruh-serikat buruh selama 70 tahun perkembangannya, yang berlangsung seolah-olah "dalam kebebasan penuh" (halaman 137, edisi bahasa Jerman), menjadi yakin justru akan ketiadagunaan demokratisme biasa; parlementerisme yang dikombinasikan dengan birokrasi.
Pada kenyataannya serikat buruh-serikat buruh itu tidak berkembang "dalam kebebasan penuh", melainkan dalam perbudakan kapitalis penuh, dimana, sudah tentu "tidak bisa dihindari" adanya sejumlah konsesi kepada kejahatan yang terdapat dimana-mana, kekerasan, kebohongan, pengucilan kaum miskin dari urusan pemerintahan "tinggi". Di bawah sosialisme banyak hal dari demokrasi primitif tak terhindarkan akan hidup kembali, sebab untuk pertama kali dalam sejarah masyarakat beradab, massa penduduk akan naik panggung keikutsertaan secara bebas tidak hanya dalam pemungutan suara dan pemilihan, tetapi juga dalam pemerintahan sehari-hari. Di bawah sosialisme semua akan memerintah secara bergilir dan akan cepat terbiasa dengan keadaan tidak ada yang memerintah.
Marx dengan kecerdasannya yang kritis-analitis dan jenial telah melihat dalam tindakan-tindakan praktis Komune suatu titik-balik, yang ditakuti oleh kaum oportunis dan yang mereka tidak ingin mengakuinya karena kepengecutan mereka, karena mereka tidak mau memutuskan hubungan sama sekali dengan borjuasi, dan yang kaum anarkis tidak ingin melihatnya karena ketergesa-gesaan atau karena ketidak mengertian mereka akan syarat-syarat perubahan sosial yang besar-besaran pada umumnya. "Janganlah sekali-sekalipun berpikir tentang penghancuran mesin negara yang lama, sedang tanpa kementerian dan pejabat saja kita tidak bisa", demikianlah debat si oportunis yang sepenuhnya telah diresapi filistinisme dan yang pada hakekatnya bukan saja tidak percaya pada revolusi, pada daya cipta revolusi, tetapi juga takut setengah mati padanya (seperti kaum Menshevik dan kaum Sosialis Revolusioner kita).
"kita harus memikirkan hanya penghancuran mesin negara yang lama, tidak ada gunanya mendalami pelajaran-pelajaran kongkrit dari revolusi-revolusi proletar yang terdahulu dan menganalisa dengan apa dan bagaimana mengganti yang telah dihancurkan itu", demikianlah debat si anarkis (anarkis yang terbaik dan bukan anarkis yang mengikuti tuan-tuan sebangsa Tuan Kropotkin dan konco-konconya mengekor di belakang borjuasi); dan karena itu taktik si anarkis menjadi taktik nekad dan bukannya pekerjaan revolusioner untuk memecahkan tugas-tugas kongkrit secara berani pantang mundur dan bersamaan itu memperhitungkan syarat-syarat praktis gerakan massa.
Marx mengajarkan kepada kita supaya menghindari kedua kesalahan itu, mengajarkan keberanian tak kenal batas dalam menghancurkan seluruh mesin negara yang lama dan sekaligus mengajar kita supaya mengemukakan masalahnya secara kongkrit; dalam beberapa minggu Komune mampu mulai membangun mesin negara proletar yang baru dengan melaksanakan berbagai tindakan untuk memperluas demokratisme dan membasmi birokratisme sampai ke akar-akarnya. Marilah kita belajar keberanian revolusioner dari kaum Komunar, marilah kita lihat tindakan-tindakan praktis mereka sebagai bagan dari tindakan-tindakan praktis yang mendesak dan yang mungkin segera dilaksanakan dan kemudian, dengan menempuh jalan ini, kita akan mencapai penghancuran sepenuhnya birokratisme.
Kemungkinan penghancuran ini dijamin oleh hal bahwa sosialisme akan memperpendek hari kerja, akan mengangkat massa ke kehidupan baru, menempatkan mayoritas penduduk dalam syarat-syarat yang memungkinkan semua orang tanpa kecuali melakukan "fungsi-fungsi kenegaraan", dan ini akan menuju ke melenyapnya sepenuhnya segala negara pada umumnya.
" ÉTujuan pemogokan massa". Kautsky melanjutkan, "tidak akan mungkin berupa menghancurkan kekuasaan negara, melainkan hanya membuat pemerintah supaya memberikan konsesi-konsesi dalam masalah tertentu atau mengganti pemerintah yang bermusuhan dengan proletariat dengan pemerintah yang lebih menurut (entgegen kommende) proletariat É.Tetapi kapanpun dan dalam keadaan apapun ia" (yaitu kemenangan proletariat atas pemerintah yang bermusuhan) "tidak dapat menuju ke penghancuran kekuasaan negara, melainkan hanya ke perubahan (Verschiebung) tertentu perimbangan kekuatan di dalam kekuasaan negara É. Tujuan perjuangan politik kita karenanya tetap, seperti halnya sampai sekarang, merebut kekuasaan negara dengan memperoleh mayoritas dalam parlemen dan mengubah parlemen menjadi tuan atas pemerintahan" (halaman 726, 727, 732).
Ini tidak lain tidak bukan adalah semurni-murninya dan sevulgar-vulgarnya oportunisme, mengingkari revolusi dalam perbuatan sambil mengakuinya dalam kata-kata. Fikiran Kautsky tidak menjangkau lebih jauh dari pada "pemerintah É yang lebih menuruti proletariat" &endash;suatu langkah mundur ke filistinisme dibandingkan dengan tahun 1847, ketika Manifesto Komunis memproklamasikan "pengorganisasian proletariat sebagai kelas yang berkuasa".
Kautsky terpaksa harus melaksanakan "persatuan" yang dia cintai itu dengan para pengikut Scheidemann, Plekhanov, Vandervelde, yang semuanya setuju berjuang untuk pemerintah "yang lebih menuruti proletariat".
Sedang kita akan bercerai dengan pengkhianatan-pengkhianatan sosialisme ini dan akan berjuang untuk menghancurkan seluruh mesin negara yang lama, supaya proletariat yang bersenjata itu sendiri menjadi pemerintah. Ini adalah dua hal yang sangat berbeda.
Kautsky terpaksa harus berada dalam lingkungan yang menyenangkan dari para pengikut Legien dan David, pengikut Plekhanov, pengikut Potresov, pengikut Tsereteli, pengikut Cernov, yang sepenuhnya setuju berjuang untuk "perubahan perimbangan kekuatan di sl kekuasaan negara", untuk "memperoleh mayoritas dalam parlemen dan untuk kekuasaan penuh parlemen atas pemerintah" &endash;tujuan yang paling luhur, yang sepenuhnya dapat diterima oleh kaum oportunis dan yang membiarkan semuanya tetap dalam kerangka republik parlementer borjuis.
Sedang kita akan bercerai dengan kaum oportunis; dan seluruh proletariat yang berkesadaran kelas akan bersama-sama kita dalam perjuangan &endash;bukan untuk "perubagan perimbangan kekuatan", melainkan untuk menggulingkan borjuasi, untuk menghancurkan parlementerisme borjuis, untuk republik demokratis tipe Komune atau republik Sovyet-Sovyet Wakil Buruh dan Prajurit, untuk diktatur revolusioner proletariat.


Lebih kanan dari pada Kautsky dalam sosialisme Internasional terdapat aliran-aliran semacam Bulanan Sosialis di Jerman (Legien, David, Kolb dan banyak lainnya, termasuk orang-orang Skandinavia, Stauning dan Branting), kaum Jauresis dan Vanderveldeis di Perancis dan Belgia; Turati dan Treves serta wakil-wakil lainnya dari sayap kanan partai Italia, kaum Fabian dan "kaum Merdeka" ("Partai Buruh Merdeka", yang pada kenyataannya selalu tergantung pada kaum Liberal) di Inggris ; dan sebangsanya. Semua tuan ini, yang memainkan peranan yang besar sekali, sangat sering peranan yang mendominasi dalam pekerjaan parlementer dan dalam pers partai, terang-terangan menolak diktatur proletariat dan melaksanakan oportunisme yang tak terselubung. Bagi tuan-tuan ini, "diktatur" proletariat "berkontradiksi" dengan demokrasi! Pada hakekatnya sama sekali tidak ada perbedaan yang serius antara mereka dengan kaum demokrat borjuis kecil.
Mempertimbangkan keadaan ini, kita berhak menarik kesimpulan bahwa mayoritas mutlak wakil-wakil resmi Internasionale II telah sepenuhnya terjerumus ke dalam oportunisme. Pengalaman Komune tidak saja telah dilupakan, tetapi juga telah diputar balik. Pada massa buruh bukan saja tidak ditanamkan bahwa saatnya sedang mendekat, saat mereka harus bertindak dan menghancurkan mesin negara yang lama untuk menggantinya dengan yang baru dan dengan demikian mengubah kekuasaan politik mereka menjadi dasar bagi pembangunan kembali masyarakat secara sosialis, bahkan pada massa ditanamkan yang sebaliknya, dan "perebutan kekuasaan" digambarkan sedemikian rupa sehingga memberikan ribuan lubang bagi oportunisme.
Pendistorsian dan tidak dibicarakannya masalah hubungan revolusi proletar dengan negara tidak bisa tidak memainkan peranan yang sangat besar, pada waktu negara, dengan aparat militernya yang diperkuat sebagai akibat persaingan imperialis, telah menjadi momok militer yang membinasahkan jutaan manusia untuk menyelesaikan sengkete apakah Inggris atau Jerman, kapital finans yang ini atau yang itu, yang akan menguasai dunia

KATA SUSULAN UNTUK EDISI PERTAMA
Famplet ini ditulis dalam bulan Agustus dan September 1917. Saya sudah menyusun rencana untuk bab berikutnya, yaitu bab ke-tujuh, "Pengalaman Revolusi Rusia 1905 dan Tahun 1917". Tetapi kecuali judulnya, saya tidak memiliki waktu untuk menuliskan satu baris pun dari bab itu; saya "terinterupsi" oleh krisis politik, saat menjelang Revolusi Oktober 1917. "Interupsi" demikian ini hanya menggembirakan hati. Tapi penulisan bagian kedua dari famplet ini ("Pengalaman Revolusi Rusia 1905 dan Tahun 1917") barangkali terpaksa harus ditunda untuk waktu yang lama; lebih menyenangkan dan lebih berguna untuk menempuh "pengalaman revolusi" dari pada menulis tentang itu.
Penulis
Petrograd
30 November 1917

ditulis dalam bulan
Agustus-September 1917
dicetak menurut teks brosur
Penerbit Kommunist, 1919,
dicocokkan dengan naskah
dan edisi 1918
Diterbitkan dalam bentuk famplet
Pada tahun 1918 oleh
Penerbit Zyizn i Znaniye


1 Kongres Den Haag Internasionale I diadakan pada tanggal 2-7 September 1872. Kongres ini dihadiri 65 orang utusan, antara lain Marx dan Engels. Masalah-masalah yang tercantum dalam acara: 1. Wewenang Dewan Umum 2. Aktivitas politik proletariat, dll. Kongres belangsung dalam perseteruan sengit dengan kaum Bakuninis. Konggres menerima resolusi tentang perluasan wewenang dewan umum. Mengenai masalah "aktivitas politik proletariat" dalam resolusi kongres dikatakan bahwa proletariat harus mengorganisasi partai politik sendiri untuk menjamin kemenangan revolusi sosial dan bahwa tugasnya yang besar ialah merebut kekuasaan politik. Dalam kongres itu Bakunin dan Guillame dikeluarkan dari Internasionale karena dianggap sebagai pengacau dan sebagai pendiri partai baru yang anti-proletar. [back] 2 Zarya (fajar) &endash;majalah ilmu dan politik Marxis yang diterbitkan oleh dewan redaksi Iskra di Stuttgart pada tahun 1901-1902. Terbit empat nomor dalam tiga jilid. Dalam Zarya dimuat artikel-artikel Lenin: "Casual Notes", "The Persecutors of the Zemstvo and the Hannibals of Liberalism," empat bab pertama dari "The Agrarian Question and the 'Critics of Marx'" (dengan judul "Messrs. the 'Critics' on the Agrarian Question"), "Review of Internal Affairs" dan "The Agrarian Program of Russian Social-Democracy." [back]
3 Yang dimaksud di sini adalah Konggres Sosialis Internasional ke-V Internasionale II yang berlangsung dari tanggal 23-27 September 1900 di Paris dengan dihadiri oleh 791 orang utusan. Delegasi Rusia terdiri 23 orang. Mengenai masalah pokok &endash;masalah perebutan kekuasaan politik oleh proletariat &endash;mayoritas konggres menerima resolusi yang diusulkan oleh Kautsky dan yang oleh Lenin disebut "bersikap berdamai terhadap kaum oportunis". Di antara keputusan-keputusan konggres lainnya adalah mendirikan Biro Sosialis Internasional yang terdiri dari wakil-wakil partai sosialis semua negeri dengan sekretariatnya berkedudukan di Brussel. [back]
4 Yang dimaksud di sini adalah Sydney Webb dan Beatrice Webb, Demokrasi Industri. [back]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar